MUTIARA WEDA: Perang vs Damai
svadharmam api cāvekṣya na vikampitum arhasi dharmyād dhi yuddhāc chreyo ’nyat kṣatriyasya na vidyate
“Bahkan bila engkau mempertimbangkan kewajibanmu sendiri (svadharma), engkau tidak sepatutnya gentar. Sebab bagi seorang ksatria, tidak ada hal yang lebih mulia daripada berperang demi menegakkan kebenaran (dharma).”
Apa penyebab perang? Satu kata, ‘harga diri’. Perang tidak pernah benar-benar lahir dari senjata, politik, atau ekonomi. Semua itu hanyalah kulit luar dari sesuatu yang jauh lebih halus dan tersembunyi: pikiran manusia. Di dalam pikiran itulah terdapat benih kecil yang disebut harga diri, rasa ingin diakui, dihormati, dan tidak dipermalukan. Dari benih inilah segala bentuk peperangan tumbuh. Karena ingin diakui, makanya melakukan ekspansi, menjajah. Karena ingin tidak dipermalukan, makanya melawan penjajah. Manusia, baik sendiri maupun dalam kelompok, selalu ingin merasa berharga.
Ketika rasa itu terancam, ia berubah menjadi api. Negara berperang karena merasa martabatnya diinjak. Bangsa melawan karena merasa direndahkan. Suku, agama, dan kelompok membela diri karena merasa kehormatannya dipertaruhkan. Di balik semua slogan tentang ideologi, ekonomi, dan politik, yang sesungguhnya dibela adalah ego yang terluka, keinginan untuk membuktikan bahwa ‘kami’ tidak kalah, ‘kami’ pantas dihormati. Friedrich Nietzsche mungkin pernah berkata: “The greatest crimes are committed not for survival, but for pride.” Jadi, perang bukan soal sumber daya, tapi soal martabat.
Dalam setiap perang yang terjadi di dunia, baik pihak yang menyerang maupun yang diserang selalu merasa berada di pihak kebenaran. Tak ada yang mengaku berperang karena ambisi atau keserakahan. Semua mengatasnamakan dharma, kebenaran, keadilan, atau perdamaian. Sang penjajah menyebut perang sebagai misi suci untuk menyebarkan kemakmuran dan peradaban. Sedangkan yang dijajah menyebut perjuangannya sebagai perang suci untuk mempertahankan kehormatan dan kebebasan.
Bangsa yang kuat ingin meluaskan wilayahnya karena merasa berhak, merasa unggul, dan ingin membuktikan kehebatannya. Bangsa yang lemah berjuang mempertahankan tanahnya bukan hanya demi hidup, tetapi demi martabat agar tidak diinjak. Maka perang bukan sekadar tentang tanah, ekonomi, atau politik, melainkan tentang harga diri kolektif, ego yang berpindah dari ‘aku’ menjadi ‘kami’. Dalam wujud itulah perang menjadi paradoks: masing-masing pihak meyakini bahwa dharma ada di sisinya, padahal keduanya sama-sama dibimbing oleh rasa ‘tidak ingin kalah’.
Beginilah wajah manusia di setiap zaman. Dia menciptakan alasan luhur untuk menutupi luka batinnya. Dharma dijadikan pembenaran, sementara ego diam-diam menjadi tuannya. Sejarah mencatat begitu banyak perang yang katanya demi kedamaian, tetapi justru melahirkan penderitaan yang panjang. Lalu, apa peran ‘damai’?
Damai, dalam konteks seperti ini, bukanlah akhir dari perang, melainkan jeda yang lahir dari kelelahan. Ia adalah selimut halus yang menutupi bara api harga diri yang belum padam sepenuhnya. Setelah darah, air mata, dan tenaga terkuras, manusia menciptakan kata ‘damai’ sebagai bentuk kesepakatan emosional: bukan karena kebencian telah hilang, tetapi karena tenaga untuk melanjutkan kebencian sudah habis. Dalam momen itu, damai menjadi topeng keanggunan atas kekalahan, sebuah cara menjaga harga diri agar tidak hancur di hadapan dunia.
Namun, sebagaimana api yang diselimuti abu, kedamaian semacam itu hanya bersifat sementara. Ketika energi baru terkumpul, ketika luka lama disentuh oleh ingatan dan dendam, maka bara itu akan menyala kembali. Harga diri yang sempat tertidur akan bangkit dengan nama baru: patriotisme, kehormatan, atau pembelaan diri. Maka, damai tidak selalu berarti ketenangan; kadang ia hanyalah jeda di antara dua gelombang perang, jeda yang diisi dengan perhitungan ulang untuk merebut kembali apa yang dulu hilang, baik wilayah, kehormatan, maupun keyakinan bahwa ‘kita benar’.
Uniknya lagi, Krishna dalam Bhagavad Gītā, Kṛṣṇa menasihati Arjuna untuk berperang bukan karena gengsi atau dendam, tetapi karena itu adalah jalan dharmanya, tugas suci yang dijalani tanpa keakuan. Kṛṣṇa ingin menunjukkan bahwa perang sejati bukan untuk menegakkan kehormatan, melainkan untuk mengalahkan ego yang menguasai hati. Perang sejati itu ada di dalam diri. Inilah perang ketiga, yang berbeda, yang tak pernah ada dalam berita. 7
Komentar