Sistem Agroforestri Salak Karangasem Raih Pengakuan Dunia dari FAO
Indonesia Terima Sertifikat GIAHS Pertama, Pengakuan atas Warisan Pertanian Berkelanjutan
ROMA, NusaBali.com - Indonesia untuk pertama kalinya menerima sertifikat Sistem Warisan Pertanian Penting Global atau Globally Important Agricultural Heritage Systems (GIAHS) dari Food and Agriculture Organization (FAO) Perserikatan Bangsa-Bangsa. Penghargaan bergengsi ini diberikan kepada sistem agroforestri salak di Karangasem, Bali, yang dinilai berhasil memadukan nilai ekologis, sosial, dan budaya dalam satu lanskap pertanian berkelanjutan.
Penyerahan penghargaan dilakukan dalam GIAHS Award Ceremony 2025 di Roma, Italia, Jumat (31/10/2025) oleh Deputi Direktur Jenderal FAO Godfrey Magwenzi kepada Sekretaris Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian RI, Muhammad Taufiq Ratule.
“Pemerintah Indonesia berkomitmen menjaga dan mengembangkan lanskap warisan pertanian ini agar terus memberikan manfaat bagi masyarakat, memperkuat ketahanan sistem pangan, serta menjadi ruang pembelajaran bagi pertanian berkelanjutan berbasis kearifan lokal,” ujar Godfrey Magwenzi dalam sambutannya.
Ia menambahkan, keberhasilan sistem agroforestri salak Karangasem merupakan hasil kolaborasi antara petani, lembaga adat, akademisi, pemerintah daerah, pemerintah pusat, dan FAO.
Kearifan Lokal Menjaga Keberlanjutan
Kabupaten Karangasem dikenal sebagai sentra salak terbesar di Bali, dengan produksi mencapai 24.972 ton pada 2024. Sistem ini melibatkan sekitar 2.800 petani di Desa Adat Sibetan, yang telah menjaga lebih dari 12 varietas lokal salak secara turun-temurun.
Aturan adat (awig-awig) di wilayah tersebut melindungi lahan pertanian dari alih fungsi dan membatasi penjualan tanah kepada pihak luar, memastikan keberlanjutan sistem agroforestri khas Bali itu tetap terjaga lintas generasi.
“Kami menyambut kolaborasi internasional, berbagi pengetahuan, serta dukungan teknis untuk memperkuat GIAHS di Indonesia dan mendorong penetapan situs GIAHS lainnya di masa mendatang,” kata Muhammad Taufiq Ratule dari Kementerian Pertanian.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Karangasem I Ketut Sedana Merta menyebut pengakuan global dari FAO ini sebagai bentuk penghormatan terhadap pengetahuan leluhur dan tata kelola lahan tradisional masyarakat Bali Timur yang telah menjaga keanekaragaman hayati selama berabad-abad.
“Di tengah tantangan alih fungsi lahan, menurunnya minat generasi muda dalam bertani, serta perubahan iklim, pengakuan GIAHS ini menjadi dorongan untuk terus berinvestasi pada petani dan praktik berkelanjutan mereka,” ujarnya.
Ia berharap penghargaan ini membuka peluang kolaborasi internasional dan memperkuat kemitraan antara pemerintah, swasta, dan komunitas lokal dalam pengembangan agrowisata, produk turunan salak, riset pertanian, serta konservasi keanekaragaman hayati.
FAO Dukung Pengembangan Situs GIAHS di Indonesia
Perwakilan FAO di Indonesia dan Timor Leste, Rajendra Aryal, menegaskan pentingnya GIAHS sebagai model ketahanan pangan dan iklim bagi dunia.
“Komunitas di berbagai wilayah Indonesia memiliki sistem pertanian tradisional yang berharga dan bisa menjadi solusi adaptasi terhadap perubahan iklim. FAO siap mendukung Indonesia menjaga situs GIAHS pertamanya dan mendorong penetapan situs-situs berikutnya,” tegas Rajendra.
Dalam GIAHS Award Ceremony 2025, sistem agroforestri salak Bali ditetapkan sebagai salah satu dari 28 sistem warisan pertanian baru dari 14 negara, termasuk Brasil, China, Ekuador, Iran, Italia, Jepang, Korea, Meksiko, Maroko, Spanyol, Thailand, dan Tunisia.
Penghargaan ini menandai langkah penting Indonesia dalam upaya menjaga warisan pertanian tradisional sekaligus mendorong praktik pertanian berkelanjutan berbasis kearifan lokal menuju panggung dunia.
Komentar