nusabali

Disdikpora Lanjutkan Deteksi Dini Siswa Disleksia

  • www.nusabali.com-disdikpora-lanjutkan-deteksi-dini-siswa-disleksia

“Sekarang kami sudah melakukan deteksi dini di jenjang SD. Guru kelas III kami libatkan untuk asesmen awal, agar anak-anak yang kesulitan membaca bisa terpetakan”

SINGARAJA, NusaBali
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng melalui Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) terus menindaklanjuti penanganan siswa kesulitan membaca dan menulis (disleksia). Setelah program pendampingan tahun ajaran baru lalu berjalan, kini Disdikpora mulai melakukan deteksi dini untuk menemukan gejala disleksia sejak dini di tingkat sekolah dasar (SD).

Kepala Disdikpora Buleleng, Ida Bagus Gde Surya Bharata, Rabu (29/10) mengatakan, deteksi dini menjadi langkah penting agar siswa yang mengalami kesulitan membaca bisa segera dipetakan dan mendapatkan pendampingan sesuai kebutuhan.

“Sekarang kami sudah melakukan deteksi dini di jenjang SD. Guru kelas III kami libatkan untuk asesmen awal, agar anak-anak yang kesulitan membaca bisa terpetakan,” ucap Surya Bharata.

Program ini dijalankan melalui kerja sama dengan Unit Layanan Disabilitas (ULD) Disdikpora Buleleng. Para guru dibekali pemahaman tentang cara mengenali gejala disleksia serta langkah penanganannya.

Menurutnya, upaya ini merupakan kelanjutan dari program kolaborasi antara Disdikpora dan Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Undiksha dan IAHN Mpu Kuturan Singaraja, yang sebelumnya melibatkan mahasiswa dan dosennya sebagai pendamping siswa. Program tersebut dinilai cukup efektif, meski masih menyisakan sejumlah kendala di lapangan.

“Sudah ada progres yang baik, tetapi tantangan utamanya adalah sinkronisasi antara pendamping, kebijakan sekolah, dan peran orang tua. Kadang anak tidak hadir saat jadwal pendampingan, atau orang tua belum sempat mendampingi. Ini yang akan kami evaluasi agar lebih optimal,” kata pejabat asal Bangli ini.

Sementara untuk siswa yang sudah teridentifikasi memiliki kesulitan berat, penanganan dilakukan oleh Guru Pendidikan Khusus (GPK) secara bergilir. Saat ini, Buleleng memiliki empat GPK, masing-masing dua di SD dan dua di SMP. Mereka berperan seperti pengawas, datang ke beberapa titik untuk memberikan pendampingan satu sampai dua kali seminggu.

Disdikpora juga mendorong adanya penyesuaian capaian pembelajaran (CP) bagi siswa disleksia, agar beban akademiknya tidak disamakan dengan siswa reguler. Mereka tidak dialihkan ke pendidikan nonformal dan masih tetap di sekolah semula. Namun cara dan target pembelajaran anak disleksia yang akan berbeda dengan siswa reguler.7 k23

Komentar