Ketua Fraksi Golkar DPRD Bali Gencar ‘Turba’
Tak Tunggu Pemilu, Alasan hanya Menyamabraya
DENPASAR, NusaBali -Jadi politisi harus siap kurangi jam tidur kalau mau fokus untuk masyarakat. Siap ‘ngayah’ inilah dilakoni politisi senior yang juga Ketua Fraksi Golkar DPRD Bali Anak Agung Bagus Tri Candra Arka (Gung Cok).
Gung Cok makin gencar turun ke bawah (turba) meskipun tidak musim pemilu. Tak tanggung-tanggung, sehari wakil rakyat DPRD Bali asal dapil (daerah pemilihan) Kabupaten Badung bisa turba di 12 titik dalam sehari.
Gung Cok menyebutkan menemui masyarakat tidak hanya dimusim kampanye maupun pemilu. Dia mengaku, sebelum terpilih menjadi anggota dewan sudah terbiasa keliling ‘mabraya’ menemui masyarakat. “Sebelum jadi DPR sudah biasa keliling. Nggak hanya di Badung saja, di seluruh Bali. Entah itu melayat, kundangan pawiwahan, tiga bulanan hingga melaspas juga. Itu acara adat, belum termasuk reses sebagai anggota dewan. Jadi kurangi jam tidur kalau sudah terjun di politik,” ujar Gung Cok di Denpasar, Kamis (23/10).
“Kalau dulu sebelum terpilih sebagai anggota dewan mungkin agak longgar. Sekarang tambah padat, bisa 12 titik dalam sehari,” imbuh fungsionaris DPD I Golkar Bali ini.
Gung Cok mengakui sering jalan ke masyarakat mulai dari pukul 07.00 wita dan pulangnya dini hari. Tidak melibatkan tim yang banyak. Hanya dengan satu relawan saja. “Antara musim kampanye dan tidak musim kampanye sama saja. Apalagi kalau musim nikah, bisa sampai dini hari baru selesai,” kelakar politisi asal Kelurahan Kerobokan, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung ini.
Gung Cok mengatakan aksi turba ke masyarakat tidak curi start, karena tidak musim pemilu. Tetapi memang karena menyamabraya sebagai masyarakat Bali yang hidup dalam tatanan adat dan budaya yang kental. “Ketika ada braya atau sameton yang mengundang untuk upacara yadnya, prinsip saya ya harus hadir. Kita diundang, itu artinya diberi apresiasi sebagai wakil rakyat,” ujar putra dari tokoh Golkar Bali yang mantan Anggota DPR RI, almarhum I Gusti Ketut Adhiputra ini.
Bukan sekalian panaskan mesin politik? “Tergantung melihatnya dari sisi mana dulu? Kalau secara politis menilai mungkin dianggap memanaskan mesin politik. Kalau melihat sebagai krama Bali, akan menjadi lumrah, karena kita di Bali itu lekat dengan adat, lekat dengan konsep Tri Hita Karana, filsafah mulia tentang menjaga hubungan harmonis antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam/lingkungan dan manusia dengan Tuhan. Nah, untuk kegiatan adat ini hubungan manusia dengan manusia. Jadi nggak semua politik lah,” tegas tokoh olahraga Bela Diri Tarung Derajat ini. n nat
1
Komentar