Membangun Akuntansi Hijau Berlandaskan Tri Hita Karana untuk Mengatasi Krisis Sampah di Bali
Krisis sampah di Bali kini menjadi tantangan besar yang tidak hanya berdampak pada kebersihan lingkungan, tetapi juga pada citra pulau yang selama ini dikenal sebagai destinasi wisata dunia.
Penulis: Made Christin Dwitrayani
Mahasiswa PDIA Universitas Pendidikan Ganesha
Dosen Universitas Triatma Mulya
Timbunan limbah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), pencemaran sungai, dan banyaknya sampah plastik di pantai menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi belum diimbangi dengan kesadaran lingkungan yang kuat. Ironisnya, persoalan tersebut jarang terlihat dalam laporan keuangan lembaga, perusahaan, maupun instansi pemerintah. Ini menandakan bahwa sistem akuntansi tradisional masih berfokus pada keuntungan material tanpa memperhitungkan kerugian ekologis yang timbul. Dalam konteks inilah konsep akuntansi hijau menjadi relevan yakni sistem pelaporan yang tidak hanya menghitung keuntungan finansial, tetapi juga tanggung jawab sosial dan dampak lingkungan dari setiap aktivitas ekonomi.
Penerapan akuntansi hijau di Bali akan semakin bermakna jika dilandasi oleh filosofi Tri Hita Karana (THK), yang menekankan keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan (Parahyangan), manusia dengan sesama (Pawongan), serta manusia dengan alam (Palemahan). Dalam hal pengelolaan sampah, nilai Palemahan mengingatkan pentingnya menjaga alam sebagai bagian dari kehidupan yang harus dilindungi, bukan sekadar tempat pembuangan limbah. Pawongan menuntun masyarakat dan pelaku usaha untuk bertanggung jawab secara sosial dalam mengelola sampah yang dihasilkan, sementara Parahyangan menegaskan bahwa menjaga kebersihan lingkungan merupakan wujud rasa syukur kepada Sang Pencipta. Dengan menerapkan nilai-nilai THK dalam praktik akuntansi, setiap keputusan ekonomi dapat mengedepankan keseimbangan antara kepentingan finansial, sosial, dan spiritual.
Penerapan akuntansi hijau berbasis Tri Hita Karana, seluruh sektor di Bali mulai dari pemerintah, perusahaan pariwisata, hingga masyarakat dapat mencatat dan melaporkan data lingkungan secara transparan, seperti jumlah sampah yang dihasilkan, biaya pengelolaannya, hingga investasi dalam program daur ulang. Pendekatan ini menjadikan laporan keuangan lebih bermakna karena mencerminkan tidak hanya keuntungan ekonomi, tetapi juga komitmen terhadap kelestarian alam dan kesejahteraan sosial. Jika sistem ini dijalankan secara konsisten, Bali dapat menjadi contoh daerah yang mampu menyatukan ilmu modern dan kearifan lokal untuk menjaga keberlanjutan lingkungan. Dengan demikian, akuntansi tidak lagi sekadar alat pencatat laba, tetapi juga sarana menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan sesuai nilai luhur Tri Hita Karana.
Komentar