nusabali

TK Dharma Bakti Ajak Anak Kenali Sampah Lewat Belajar di TPS

  • www.nusabali.com-tk-dharma-bakti-ajak-anak-kenali-sampah-lewat-belajar-di-tps

DENPASAR, NusaBali.com – Taman Kanak-kanak (TK) dan PAUD Dharma Bakti di Lingkungan Buaji Anyar, Kelurahan Kesiman, Denpasar Timur, menggelar kegiatan edukatif bertema pemilahan dan pengolahan sampah selama tiga hari, 13–15 Oktober 2025.

Kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka jeda semester ini bertujuan mengenalkan sejak dini pentingnya menjaga kebersihan lingkungan serta memahami pengelolaan sampah organik dan anorganik.

Kepala TK Dharma Bakti, Ni Putu Yuni Lestari, S.Pd, mengatakan kegiatan dimulai dengan pengenalan jenis sampah dan kunjungan langsung ke Tempat Pengolahan Sampah (TPS) di Jalan Sedap, Gang Simantri, yang berlokasi di sebelah timur sekolah.

“Di hari pertama, anak-anak kami ajak langsung melihat proses pengolahan sampah dan belajar membedakan antara sampah organik dan anorganik,” jelas Yuni yang telah menjabat sebagai kepala sekolah sejak 2014.

Lulusan S1 Pendidikan Universitas Terbuka dan D3 Kesehatan Poltekkes Denpasar ini menambahkan, pada hari kedua anak-anak diajak mempraktikkan cara mengolah sampah secara mandiri di sekolah.

“Kalau di TPS kan pakai mesin. Di sekolah kami ajarkan anak-anak memilih dan menciptakan karya dari sampah agar bisa dimanfaatkan kembali, seperti dijadikan pupuk atau barang berguna,” ujarnya.


Sementara pada hari terakhir, kegiatan diisi dengan pemberian makanan tambahan serta sesi refleksi terhadap pembelajaran dua hari sebelumnya.

Menurut Yuni, kegiatan ini menjadi pengalaman yang berkesan sekaligus media introspeksi bagi anak-anak dan guru dalam menghadapi persoalan lingkungan.

“Masalah sampah memang jadi tantangan besar. Kami ingin anak-anak memahami bahwa menjaga lingkungan bersih itu penting untuk kesehatan,” katanya.

Kegiatan ini juga turut dihadiri perwakilan Kelurahan Kesiman sebagai tamu undangan, serta menghadirkan pihak TPS sebagai narasumber utama.

Antusiasme anak-anak terlihat tinggi, meskipun menurut Yuni, pemahaman mereka masih perlu diasah secara berkelanjutan.

“Dari 39 murid, sebagian besar hadir dan ikut aktif. Tapi tentu belum 100 persen memahami, karena itu kegiatan seperti ini sebaiknya dilakukan rutin tiap tahun,” tambahnya.

Ia menegaskan bahwa proses belajar tidak mengenal batas usia, terutama dalam menanamkan kepedulian terhadap lingkungan sejak dini.

“Segala hal harus dipelajari, dan pembelajaran bisa dimulai dari hal terkecil. Kami ingin kegiatan ini menjadi langkah nyata menanamkan nilai-nilai Jagat Kerthi, yakni menjaga keseimbangan dan kelestarian alam,” tutup Yuni. *m03

Komentar