Mengenal Tradisi Masalaran, Refleksi Budaya Agraris Warga Padang Luwih di Tengah Laju Alih Fungsi Lahan
Masalaran
Tipat Bantal
Tradisi
Padang Luwih
Dewi Sri
Siat Tipat Bantal
Matimpugan
Pura Desa lan Puseh
MANGUPURA, NusaBali.com – Warga Desa Adat Padang Luwih, Desa Dalung, Kuta Utara, Badung tetap memegang teguh ritual Masalaran, sebuah tradisi yang tumbuh dari budaya agraris selama berabad-abad, meski zaman telah berubah dan lahan pertanian semakin menyempit dikepung perumahan.
Ketika purusa dan pradana ini matimpug (berpantulan) satu sama lain dari ritual ‘perang tipat bantal’ tersebut maka kehidupan atau kesuburan akan tercipta. Untuk segmen matimpugan dalam tradisi Masalaran ini tidak dinafikan Kelihan Adat Adi Ardana memang mirip dengan yang dilaksanakan di Desa Adat Kapal, Mengwi, Badung.
Meski begitu, Adi Ardana tidak berani mengonfirmasi apakah tradisi Masalaran ini dibawa ke Padang Luwih oleh tokoh Kapal atau sebaliknya di masa lampau. “Kami tidak berani mengatakan mana yang dulu, mana belakangan. Yang bisa kami pastikan, tradisi ini sudah ada dari dahulu kala dan tidak pernah tidak dilaksanakan sejauh ini bahkan saat pandemi,” tegasnya.
Adi juga menegaskan, rangkaian tradisi Masalaran sudah sedemikian rupa dari generasi ke generasi. Adi yang sudah berusia setengah abad lebih masih mengingatkan mengikuti tradisi ini ketika masih belia dan tidak ada yang berubah, kecuali satu yakni lahan pertanian yang ia lihat dulu kini berubah jadi beton.
"Kondisi sekarang memang sudah beda. Kalau dulu agraris, sekarang sudah tidak agraris. Tetapi, kami tetap melaksanakan tradisi ini supaya anak cucu kami tahu bahwa dulu kita desa agraris, kita hidup dari hasil bumi,” tegas Adi Ardana.
Dua subak di Padang Luwih yakni Subak Muding di sisi selatan desa dan Subak Gaji di sisi utara semakin menyempit akibat laju alih fungsi. Kata Adi, lahan pertanian di desanya tersisa sekitar 30 persen dari luas desa. Tahun 2010 silam, sawah yang masih bisa dilihat dari Jalan Raya Padang Luwih–Kerobokan kini sirna dari pandangan.
Selain sawah menyempit, lahan pertanian yang masih tersisa saat ini di Padang Luwih pun tidak dikelola sendiri oleh warganya yang sebagian besar sudah tidak lagi berprofesi sebagai petani. Faktor utamanya lantaran pertanian tidak dipandang menjanjikan dibanding pekerjaan di swasta maupun pemerintahan.
“Meski begitu, kami akan tetap mempertahankan tradisi ini sekali pun akhirnya sudah tidak ada lahan pertanian di Padang Luwih. Tapi, kami bisa sedikit tersenyum ketika selesai matimpugan itu ada yang mengambil bekasnya untuk dibawa pulang artinya mereka masih punya ternak atau bertani,” ungkap Adi Ardana.
Salah satu warga yang mengambil tipat dan bantal bekas ritual, Senin petang, adalah Ni Made Sriyani, 50. Ia bersama beberapa warga lain tampak mengais ketupat dan bantal yang masih cukup utuh dari jalan raya di depan Pura Desa lan Puseh Desa Adat Padang Luwih.
“Dibawa pulang untuk dikasih makan ternak seperti babi, sapi, dan lainnya. Kami percaya, dengan ini ternak kami tumbuh sehat dan bermanfaat bagi keluarga kami,” beber Sriyani ketika ditemui NusaBali.com usai pelaksanaan tradisi.
Sementara itu, Adi menilai, tradisi Masalaran menjadi salah satu ritual sekaligus cara mengedukasi generasi penerus bahwa historis leluhur yang hidup dari hasil bumi di Padang Luwih tidak boleh dilupakan. Selain itu, diharapkan lahan agraris yang tersisa secuil bisa terjaga demi identitas dan budaya. *rat
Meski begitu, Adi Ardana tidak berani mengonfirmasi apakah tradisi Masalaran ini dibawa ke Padang Luwih oleh tokoh Kapal atau sebaliknya di masa lampau. “Kami tidak berani mengatakan mana yang dulu, mana belakangan. Yang bisa kami pastikan, tradisi ini sudah ada dari dahulu kala dan tidak pernah tidak dilaksanakan sejauh ini bahkan saat pandemi,” tegasnya.
Adi juga menegaskan, rangkaian tradisi Masalaran sudah sedemikian rupa dari generasi ke generasi. Adi yang sudah berusia setengah abad lebih masih mengingatkan mengikuti tradisi ini ketika masih belia dan tidak ada yang berubah, kecuali satu yakni lahan pertanian yang ia lihat dulu kini berubah jadi beton.
"Kondisi sekarang memang sudah beda. Kalau dulu agraris, sekarang sudah tidak agraris. Tetapi, kami tetap melaksanakan tradisi ini supaya anak cucu kami tahu bahwa dulu kita desa agraris, kita hidup dari hasil bumi,” tegas Adi Ardana.
Dua subak di Padang Luwih yakni Subak Muding di sisi selatan desa dan Subak Gaji di sisi utara semakin menyempit akibat laju alih fungsi. Kata Adi, lahan pertanian di desanya tersisa sekitar 30 persen dari luas desa. Tahun 2010 silam, sawah yang masih bisa dilihat dari Jalan Raya Padang Luwih–Kerobokan kini sirna dari pandangan.
Selain sawah menyempit, lahan pertanian yang masih tersisa saat ini di Padang Luwih pun tidak dikelola sendiri oleh warganya yang sebagian besar sudah tidak lagi berprofesi sebagai petani. Faktor utamanya lantaran pertanian tidak dipandang menjanjikan dibanding pekerjaan di swasta maupun pemerintahan.
“Meski begitu, kami akan tetap mempertahankan tradisi ini sekali pun akhirnya sudah tidak ada lahan pertanian di Padang Luwih. Tapi, kami bisa sedikit tersenyum ketika selesai matimpugan itu ada yang mengambil bekasnya untuk dibawa pulang artinya mereka masih punya ternak atau bertani,” ungkap Adi Ardana.
Salah satu warga yang mengambil tipat dan bantal bekas ritual, Senin petang, adalah Ni Made Sriyani, 50. Ia bersama beberapa warga lain tampak mengais ketupat dan bantal yang masih cukup utuh dari jalan raya di depan Pura Desa lan Puseh Desa Adat Padang Luwih.
“Dibawa pulang untuk dikasih makan ternak seperti babi, sapi, dan lainnya. Kami percaya, dengan ini ternak kami tumbuh sehat dan bermanfaat bagi keluarga kami,” beber Sriyani ketika ditemui NusaBali.com usai pelaksanaan tradisi.
Sementara itu, Adi menilai, tradisi Masalaran menjadi salah satu ritual sekaligus cara mengedukasi generasi penerus bahwa historis leluhur yang hidup dari hasil bumi di Padang Luwih tidak boleh dilupakan. Selain itu, diharapkan lahan agraris yang tersisa secuil bisa terjaga demi identitas dan budaya. *rat
1
2
Komentar