Kerap Dirundung, Siswi SMP Putus Sekolah
trauma yang mendalam membuat ALDP menolak untuk melanjutkan pendidikannya.
NEGARA, NusaBali
Seorang siswi di salah satu SMP di Kecamatan Pekutatan, Jembrana, Ni Kadek ALDP,14, terpaksa menghentikan pendidikannya. Sebab dia diduga menjadi korban perundungan (bullying) di sekolah. Trauma mendalam akibat perlakuan teman-temannya itu sempat membuat ALDP kerap merasa ketakutan, jatuh sakit, bahkan pernah pingsan.
Gadis yang seharusnya duduk di bangku kelas 3 SMP ini telah putus sekolah selama enam bulan terakhir. Saat ditemui di rumahnya di salah satu desa di Pekutatan, Senin (8/9) sore, ALDP didampingi sang ibu, Wayan W, mengungkapkan perasaannya.
ALDP mengaku kerap dijelek-jelekkan dan dijauhi oleh teman-temannya. Dia pun mengaku kerap dikucilkan. "Dijauhi dan tidak pernah disapa. Kalau saya sapa mereka tidak menyahut. Saya merasa tertekan dan tidak nyaman. Hanya ada satu teman yang baik pada saya," ucapnya.
Wayan W, ibu ALDP, menceritakan bahwa perlakuan tidak menyenangkan dari teman-teman sekolah membuat kondisi fisik dan mental putrinya memburuk. Dia juga menyebut putrinya sering sakit dan pernah pingsan. Kemungkinan besar karena beban pikiran akibat perundungan. "Anak saya sempat kurus. Sekarang baru mulai berisi badannya," kata Wayan W.
Wayan W mengatakan, dia sudah berupaya membujuk ALDP agar kembali ke sekolah, bahkan sempat ikut ke sekolah untuk mendampingi. Namun, trauma yang mendalam membuat ALDP menolak untuk melanjutkan pendidikannya. "Sebagai orang tua, ingin anak saya lebih sukses dari orangtuanya yang tidak sekolah. Tapi sebagai orangtua saya tidak berani memaksa. Nanti dia sakit lagi," ucapnya.
Wayan W pun menyatakan bahwa putrinya ini sebelumnya sempat sakit waktu kelas 4 SD dan lumpuh, namun sudah sembuh. Kelumpuhan yang pernah dialami anaknya itu lah yang dinyatakan kerap menjadi bahan olokan teman-temanya sejak menginjak SMP sehingga membuat ALDP akhirnya memutuskan putus sekolah.
"Diejek-ejek sejak kelas 1 (SMP). Awalnya anak saya tetap berusaha bertahan, tetapi waktu kelas 2 sudah tidak tahan lagi dan akhirnya minta berhenti," ucapnya.
Wayan W menyatakan, ALDP memilih berhenti sekali dan memutuskan bakal mengikuti program Kejar Paket. Saat berhenti sekolah, ALDP telah berpamitan kepada para guru, kepala sekolah, beserta teman-temannya. Ia menambahkan, Kepala Sekolah telah berpesan bahwa pintu sekolah akan selalu terbuka jika ALDP ingin kembali.
Meski sudah putus sekolah, ALDP mengaku tetap berusaha belajar secara mandiri. Sambil menunggu Kejar Paket, ALDP yang memiliki cita-cita bekerja ke luar negeri ini mengisi waktu luangnya dengan membantu ibunya membuat jejahitan (sarana upakara) untuk dijual. ALDP juga mengaku berencana membuka usaha kecil-kecilan di rumah, seperti berjualan es dan makanan ringan.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Dikpora) Jembrana I Gusti Putu Anom Saputra, mengatakan pihaknya telah berkomunikasi dengan kepala sekolah, pengawas, dan Kepala SKB (Sanggar Kegiatan Belajar). Dia pun berencana akan mendalami dugaan perundungan itu. "Nanti kami kunjungi dulu. Sekalian nanti kita berikan alternatif-alternatif. Kebetulan untuk Kejar Paket masih bisa masuk saat ini," kata Anom Saputra.
Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) Jembrana Ida Ayu Sri Utami Dewi mengaku juga akan mengecek kondisi sang anak. Dia berencana agar ALDP mendapatkan konseling psikologi. "Kalau sampai ada anak sakit atau tidak masuk sekolah, berarti ada trauma luar biasa yang dirasakan. Masukan dari saya kalau boleh nanti kita konseling psikologi sehingga dia bisa percaya diri lagi dan bersosialisasi seperti biasa," ucapnya.
Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Cabang Jembrana, I Nengah Suardana mengaku sudah sempat mengonfirmasi ke pihak sekolah terkait persoalan tersebut. Namun, dari pihak sekolah memastikan tidak ada masalah perundungan terhadap sang anak di sekolah dan justru mendapat keterangan yang kontradiktif.
Karena itu, kata Suardana, untuk memastikan apa yang menjadi persoalan sang anak putus sekolah, harus ditelusuri lebih mendalam. Kemudian hal yang dinilai paling penting dalam hal itu adalah bagaimana menyelamatkan pendidikan ataupun masa depan si anak. "Kami belum bisa menyimpulkan. Tapi kami lihat memang perlu adanya dukungan untuk memvalidasi perasaan si anak. Makanya kami juga berencana minta bantuan psikolog dari dinas terkait ataupun dari polres," ucap Suardana yang juga merupakan warga Pekutatan ini.7ode
Komentar