nusabali

Kenangan Estetik Seniman Multi Talenta I Wayan Pugeg

Pematung Handal, Penabuh hingga Pengukir Buah

  • www.nusabali.com-kenangan-estetik-seniman-multi-talenta-i-wayan-pugeg

I WAYAN Pugeg, 90, seniman multi talenta asal Banjar Sengguan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Gianyar, telah berpulang 19 Agustus 2025.

Dia seniman patung yang memiliki kemampuan dan daya kreatifitas tinggi.

Seniman ini mampu berkiprah di berbagai bidang seni, kerajinan, bangunan, dan upakara, lahir tahun 1935, di Banjar Mukti, Desa Singapadu, dari pasangan suami istri I Nyoman Doblogan dan Ni Rekin. Dia kemudian diboyong ke Banjar Sengguan-Singapadu, diambil sebagai anak angkat oleh pamannya, I Made Mondrong dan istrinya  Ni Made Ngampyog.

Menurut I Wayan Loso Antara, salah seorang anaknya, almarhum Wayan Pugeg diaben pada 28 Agustus 2025. 

Suami dari almarhum Made Sikreg ini mulai menggeluti seni pahat, dengan membuat topeng, sejak usia 25 tahun.  Sebelum menggunakan kayu, almarhum Wayan Pugeg pernah membuat topeng berbahan pangkal pisang (bungkil biyu).

Sejak usia 27 tahun mulai menekuni seni patung dengan menciptakan patung-patung kayu, khususnya akar-akar pohon, dengan berbagai jenis tema. Kerajinan merada, nyulam dan merakit udeng, serta membuat sarana upakara, dijalaninya di tengah-tengah aktivitas mematung.  

Bangunan pura megah Dalem Tenggaling Pangukur-ukuran, Banjar Sengguan-Singapadu, yang dibangun pada akhir tahun 1960 dan selesai tahun 1962. Bangunan ini merupakan saksi bisu dan bukti nyata dari keahlian seorang Wayan Pugeg dalam hal keundagian.  Adalah Wayan Pugeg yang menjadi “master mind” dari pura megah ini sehingga menjadi sebuah tempat suci yang sangat dibanggakan terutama oleh warga Banjar Sengguan Singapadu. Ketika muda, Pugeg juga aktif sebagai penabu, pemain gangsa. 

Di mata masyarakat luas, kakak kandung pematung ternama, almarhum I Ketut Muja, lebih dikenal sebagai seniman patung. Karya-karya patungnya tersimpan di studio sederhana di rumahnya dengan tema dan ukuran beragam. Nama Wayan Pugeg dikenal masyarakat luas karena karya-karya patungnya yang berkualitas tinggi, memiliki keunikan tersendiri, dan hidup berjiwa (mataksu). Semua karya ini merupakan hasil perenungan yang mendalam yang kemudian dituangkan ke dalam berbagai bongkahan kayu dengan kreativitas tinggi. Karya-karya patung ciptaannya seniman otodidak ini dikoleksi oleh para kolektor dalam dan luar negeri negeri seperti Amerika Serikat, Australia, Jepang, Jerman, dan Inggris.  

Almarhum Wayan Pugeg dengan Made Singkreg melahirkan 6 (enam) orang anak, terdiri dari tiga putri dan 3 putra). Ketika Barong Kuntrisraya Banjar Sengguan sedang laris-larisnya, tahun 1950-an sampai akhir tahun 1970-an, setiap pagi Wayan Pugeg ikut menabuh (sebagai penabuh gangsa) mengiringi dramatari Barong Kuntisraya.  

Sewaktu Wayan Pugeg mulai memahat topeng, yang diawali dengan topeng-topeng rangda, sejumlah anak muda Banjar Sengguan datang kerumahnya untuk belajar membuat topeng.  Di antara mereka yang pernah belajar memahat topeng bersamanya adalah I Wayan Ruja, I Ketut Sukarwa, I Gusti Made Raka, dan I Wayan Dibia.  Dari empat orang muridnya ini, hanya dua yang berhasil menjadi tukang ukir yaitu I Ketut Sukarwa dan almarhum I Gusti Made Raka. Pada generasi berikutnya ada sejumlah pemuda yang datang belajar mematung dengan Wayan Pugeg.  Salah satu muridnya yang paling berhasil adalah I Wayan Miasa, alias Wayan Tapak, yang kini sukses sebagai pematung dan pembuat patung cetakan. 

Pugeg adalah seniman yang tidak pernah kehabisan gagasan-gagasan baru untuk membantu berbagai kebutuhan warga banjar setempat.  Sebagai contoh, untuk menyambut kedatangan tamu-tamu agung yang berkunjung ke Singapadu, untuk menyaksikan pertunjukan tari barong, Wayan Pugeg menciptakan pintu gerbang (candi bentar) berbahan gedeg bambu yang diwarnai dengan cat.  Setiap menjelang upacara odalan besar (odalan nadi) di pura khayangan tiga di Singapadu, Wayan Pugeg selalu sibuk merangkai udeng untuk Sekaa Gong Banjar Sengguan, termasuk merajut udeng dengan hiasan “gim.”  Ketika pelawah gamelan Sekaa Barong Banjar Sengguan masih berupa pelawah sederhana yang tidak diukir (lelengisan), Wayan Pegeg datang dengan gagasan cemerlang yaitu membuat ornamen pepatran menggunakan cat prada.  Hasilnya gamelan Banjar Sengguan menjadi barungan gamelan di desa Singapadu dengan pelawah yang dihias dengan pepatran prada. 

Di awal-awal PKB Wayan Pugeg sempat menampilkan kreasi langka yakni buah yang diukir. Kreasi ini berbahan buah papaya setengah matang, semangka, kelapa muda, dan lain-lain, ditampilkan dalam beberapa lomba hiasan meja dinner untuk wisata. Semenjak penampilannya di PKB Wayan Pugeg sering diminta untuk membuat ukiran-ukiran buah untuk berbagai pesta perkawinan. 

Wayan Pugeg juga sangat jago membuat sepeda hias.  Setiap upacara odalan besar di pura puseh dan desa, Desa Adat Kebon Singapadu, Wayan Pugeg selalu mengajak teman-teman sebayanya untuk membuat atrakasi tambahan (rarenggan) berupa sepeda hias dalam berbagai rupa (ikan, binatang, kapal), menggunakan kertas pembungkus semen dengan pewarna arang.  Rerenggan berupa sepeda hias ini dikelilingkan di sekitar desa Singapadu menjelang prosesi sesaji ke pura.  Di musim-musim odalan, atau musim-musim orang kawin, Wayan Pugeg yang sering disebut sebagai “Nang Songkeg” selalu banjir undangan untuk membuat (nanding) gebongan.  Di tahun 1990-an, beberapa kali Wayan Pugeg diundang ke Jakarta oleh warga Bali di Jakarta untuk membuat mobil hias yang ditampilkan dalam acara arak-arakan budaya dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Mobil hias buatan Wayan Pugeg dengan rancangan yang unik selalu mengundang decak kagum warga ibu kota. 

Di mata para seniman pematung di Gianyar dan sekitarnya, Wayan Pugeg dikenal sebagai pematung Hanuman. Sebagai pematung, Wayan Pugeg memiliki etos kerja  “kerja keras, tuntas, dan berkualitas.”  Ketika ia mendapat inspirasi untuk membuat sebuah patung, ia bisa bekerja siang dan malam, bahkan sering kali sampai lupa makan. Sebagai pematung, ia menggunakan bermacam-macam bahan.  Ada karya patungnya yang terbuat dari kayu gelontongan dan tidak sedikit yang berbahan akar kayu. Beberapa patungnya juga berbahan tanduk (kerbau dan rusa), tulang, dan tulang rusuk ikan paus. 

Sebagai seorang seniman, Wayan Pugeg telah melahirkan sejumlah karya seni patung unggulan. Diantara karya-karyanya yang dikejar oleh banyak kolektor, adalah Bhimaruci (1975). Arjuna Tapa (1980), Dharmawangsa ke Sorga (1990), Ludra Murti (1998), dan Hanuman Duta. Karya yang disebut terakhir menunjukkan sebuah hasil kreativitas tinggi dan pencapaian luar biasa karena dalam patung yang digarap dalam glontongan kayu utuh, digambarkan Dewi Sita dan Hanuman ada di tengah-tengah semak bunga. 

Atas pengabdiannya yang tulus dan kiprahnya yang tak pernah putus di bidang seni, Wayan Pugeg telah mendapat beberapa penghargaan. Tahun 1986 ia menerima Penghargaan Wija Kesuma dari Bupati Gianyar; tahun 1996, ia menerima Penghargaan Cincin Siwa Nataraja, dari Ketua STSI Denpasar;  tahun 1997 dianugrahi penghargaan Seni Dharma Kusuma oleh Gubernur Bali, tahun 2023  dianugrahi penghargaan Bali-Bhuwana Nata Kerthi Nugraha oleh Rektor Institut Seni Indonesia, Denpasar; dan pada tahun yang sama ia menerima penghargaan Parama Satya Budaya dari Bupati Gianyar.7

Komentar