nusabali

104 Gebogan dari 52 Banjar Parade Ngerobok di Desa Adat Kerobokan

  • www.nusabali.com-104-gebogan-dari-52-banjar-parade-ngerobok-di-desa-adat-kerobokan
  • www.nusabali.com-104-gebogan-dari-52-banjar-parade-ngerobok-di-desa-adat-kerobokan

MANGUPURA, NusaBali.com – Sebanyak 104 gebogan dari 52 banjar di wewidangan Desa Adat Kerobokan berparade serangkaian acara Ngerobok pada Redite Wage Kuningan, Minggu (8/1/2023) sore.

Kegiatan Ngerobok ini baru diadakan untuk kali kedua setelah diisi dengan kegiatan mamenjor sekitar enam bulan yang lalu. Festival adat yang melibatkan seluruh banjar di Desa Adat Kerobokan ini biasanya juga dirangkaikan dengan patirtan Pura Desa lan Puseh.

Lomba dan parade gebogan ini merupakan rangkaian lanjutan dari lomba pembuatan canang sari oleh yowana istri dan cili oleh krama istri. Perlombaan itu sendiri diadakan pada Sabtu (7/1/2023) kemarin di Balai Budaya Giri Nata Mandala Puspem Badung.

Bendesa Adat Kerobokan AA Putu Sutarja menjelaskan bahwa pelaksanaan parade dan lomba gebogan ini bukan sekadar kompetisi semata. Lantaran, gebogan yang sudah dibuat dan diparadekan bersama antara wimuda, winata, dan wiwerda ini akan dihaturkan di Pura Desa lan Puseh.

“Ini bukan sekadar lomba. Karena dari 52 banjar yang sangat banyak ini semuanya bersatu padu menghaturkan canang agung alias prani kepada Ida Bhatara yang berstana di Pura Desa lan Puseh,” kata Gung Sutarja di sela-sela acara.

Foto: AA Putu Sutarja, Bendesa Adat Kerobokan. -NGURAH RATNADI

Makna ini pun ditunjukkan pada saat pelaksanaan parade gebogan. Di mana ada anak-anak pembawa canang sari yang terlibat merepresentasikan wimuda. Kemudian, ada yowana istri yang merepresentasikan winata, dan ada krama istri sebagai bagian dari wiwerda.

Pada pembukaan parade gebogan ini, hal menarik sempat terabadikan lensa NusaBali.com. Terdapat iring-iringan dokar yang ditumpangi oleh Sekretaris Daerah Badung I Wayan Adi Arnawa. Iringan dokar ini pun diikuti baleganjur dan kendang raksasa (bedug) di belakangnya. Adi Arnawa sendiri hadir untuk membuka kegiatan Ngerobok.

Setelah orang nomor satu di dapur pemerintahan Giri Prasta-Suiasa itu sampai dipanggung kehormatan, sekitar lewat pukul 18.00 Wita, parade pun dimulai.

Titik awal parade dimulai dari Puri Kajanan Desa Adat Kerobokan yang terletak di Banjar Jambe dan berakhir di Pura Desa lan Puseh. Jaraknya sekitar kurang dari satu kilometer.

Barisan parade tersebut terdiri dari bandrang, tombak, umbul-umbul, dan tedung Pura Desa lan Puseh, Sasana Pecut Badung dari Puri Kajanan, pangasepan, barisan canang sari, dan gebogan.

Foto: Dokar yang ditumpangi Sekda Adi Arnawa. -NGURAH RATNADI

Untuk parade gebongan sendiri, tukang suwunnya berasal dari satu yowana istri dan satu krama istri dari masing-masing banjar. Kemudian, barisan parade ditutup dengan Tari Tenun yang kreatornya sendiri, I Nyoman Ridet dan I Wayan Likes, berasal dari Banjar Campuan, Desa Adat Kerobokan.

Menurut dua perwakilan tukang suwun gebogan dari Banjar Kuwum, Ketut Nisi Riani, 40, dan Ni Komang Nadya Diantari, 16, mapeed gebogan ini cukup melelahkan. Meskipun nyuwun gebogan sudah menjadi hal biasa bagi krama istri seperti Riani, rasa gugup membuatnya mengeluarkan lebih banyak energi.

“Gebogan ini berbeda dari gebogan biasa karena masih tradisional menggunakan gedebong pisang dan buahnya ditusuk menggunakan bambu, bisa lebih berat,” ujar Riani ketika ditemui usai mengikuti parade.

Sementara itu, Nadya sendiri mengaku baru pertama kali nyuwun gebogan. Walaupun masih gugup karena pengalaman pertamanya ditonton banyak orang, Nadya bersyukur karena diberikan kesempatan untuk belajar menjadi perempuan Bali.

“Dari sini, kita bisa belajar bagaimana membuat gebogan. Apalagi prosesnya cukup panjang dari beli bahan yang harus serba lokal di Pasar Ngerobok, harus rapi, dan tuasan cilinya harus sesuai,” ungkap Nadya dijumpai dalam kesempatan yang sama.

Foto: Nadya dan Riani dari Banjar Kuwum, Kerobokan. -WAYAN

Atas terselenggaranya kegiatan hasil kerja sama berbagai kalangan dan usia ini, Sekda Adi Arnawa mengaku bangga. Sebab, ketika ia masih menjadi Camat Kuta Utara yang wilayahnya meliputi wewidangan Desa Adat Kerobokan, acara yang dibuat oleh desa adat yang menyatukan Badung dan Denpasar ini tidak pernah biasa-biasa saja.

“Dari waktu saya ngayah jadi Camat Kuta Utara, acara yang dibuat oleh Desa Adat Kerobokan ini sing taen enduk. Oleh karena itu, Pemkab Badung hari ini memberikan Rp 30 juta sebagai dana motivasi,” tutur Adi Arnawa dalam sambutannya.

Kegiatan Ngerobok ini disebut sebagai pembuktian bahwa dari begitu besar dan banyaknya wilayah adat Kerobokan, semuanya masih mampu mempersatukan visi dan misi dengan kuat. *rat

Komentar