nusabali

Perajin Tenun Keluhkan Kenaikan Harga dan Kelangkaan Bahan Baku

  • www.nusabali.com-perajin-tenun-keluhkan-kenaikan-harga-dan-kelangkaan-bahan-baku

DENPASAR, NusaBali
Produksi kain tenun rawan tersendat. Hal tersebut disebabkan terbatasnya bahan baku, yakni benang.

Padahal pesanan kain endek sudah mulai menggeliat, antara lain endek untuk seragam sekolah atau perkantoran. Juga pesanan kain untuk bahan sandang. I Nyoman Sudira, seorang perajin dan tokoh tenun Bali asal Desa Gelgel, Kecamatan/Kabupaten Klungkung, menuturkan ‘kelangkaan’ benang menjadikan perajin mengalami kesulitan ganda. Selain sulit bahan baku, juga harga benang. Pasalnya, harga benang mendahului meningkat.

Menurut Sudira, benang 80/2 dan benang 70/2 yang merupakan bahan baku tenun endek, melesat naik. Harga benang 80/2 awalnya Rp 850.000 menjadi Rp 1.050.000 per pak. Sedang untuk jenis benang 70/2 dari Rp 725.000 naik  menjadi Rp 950.000 per pak. “Kenaikan harga benang terjadi sebelum harga BBM naik,” kata Sudira, Jumat (9/9).  

Sudira memperkirakan kebutuhan benang cukup banyak. Hal itu karena jumlah perajin tenun yang di Bali juga tidak sedikit. Sebagai gambaran, Sudira menyebut koperasi perajin tenun Bali, yakni Koperasi Cipta Wasta Sundaram (CWS), di mana Sudira sebagai sekretaris. Dengan 25 anggota koperasi tersebut butuh 750 pak benang setiap bulan. Karena itu untuk seluruh Bali, kemungkinan jumlahnya lebih dari 750 pak benang setiap bulan. “Bisa jadi 4 kali lipat dari itu (750 pak),” jelas Sudira. Untuk 1 pak benang, setara dengan 5 kilogram benang.

Dikatakan Sudira, saat ini para perajin masih mampu berproduksi, dengan memanfaatkan stok benang yang tersisa. Masalah akan muncul jika stok benang yang ada habis, sedangkan pasokan benang tak kunjung datang.

“Mudah-mudahan segera teratasi. Kami di koperasi masih berusaha mendapatkannya,” kata Sudira. Menurutnya pasokan biasanya didatangkan dari Surabaya, Jawa Timur.

Untuk saat ini pesanan kain endek sudah semakin ramai. Antara lain pesanan endek untuk pakaian seragam siswa maupun seragam yang lain seperti pegawai, baik swasta maupun pemerintah. Juga pesanan endek untuk jenis industri sandang dan busana lainnya.

Hal senada disampaikan I Nyoman Ludra, perajin tenun endek dari Gianyar. “Harga benang melambung,” ujarnya dihubungi terpisah.

Kesulitan bahan baku benang sudah dirasakan Ludra sejak sekitar 4 bulan lalu. Padahal biasanya benang tak sulit dicari. “Di toko-toko ada pemasoknya,” imbuh Ludra.

Untuk sementara, aktivitas tenun memanfaatkan stok benang yang masih ada. Namun jika stok habis, Ludra mengiyakan produksi kain tenun tentu terganggu.

Sama seperti yang disampaikan Sudira, Ludra juga berusaha agar benang segera tersedia. “Sekarang kami sedang berusaha,” ucap Ludra. *k17

Komentar