nusabali

Petani Tewas Tersambar Petir di Sawah

Petaka Saat Hujan Deras di Banjar Tengkulak Mas, Kemenuh, Sukawati

  • www.nusabali.com-petani-tewas-tersambar-petir-di-sawah

Pasca kejadian akan digelar upacara pecaruan di sawah lokasi korban tergeletak yang digelar pihak keluarga setelah bulan Pitung Dina atau 42 hari.

GIANYAR, NusaBali

Nasib naas menimpa seorang petani bernama I Wayan Kliling, 72. Dia ditemukan tergeletak tak bernyawa di pematang sawah Subak Teba, Banjar Tengkulak Mas, Desa Kemenuh, Kecamatan Sukawati, Gianyar, Kamis (10/3). Korban ditemukan sekitar pukul 12.30 Wita saat hujan deras melanda kawasan tersebut. Petani yang juga beternak bebek ini diduga tersambar petir. Diketahui dari beberapa bagian tubuh korban seperti terbakar.

Informasi yang dihimpun, sebelum kejadian korban seperti biasa pergi ke sawah setiap pagi. Korban ke sawah untuk mencari tanaman eceng gondok untuk pakan bebek. Ketika korban berangkat dari rumah sekitar pukul 08.00 Wita, cuaca masih cerah. Namun secara tiba-tiba, hujan disertai petir mengguyur kawasan Desa Kemenuh, Sukawati dan sekitarnya mulai pukul 11.00 Wita.

Korban yang seharusnya sudah pulang ternyata hingga pukul 12.00 Wita belum kembali. Istri korban, Ni Nyoman Suji, 70, pun merasa khawatir. Sehingga meminta anaknya, Made Suwitra,45, untuk mengecek keberadaan ayahnya di sawah, mengingat hujan yang sangat deras. Benar saja, setelah dilaksanakan pencarian korban ditemukan di pematang sawah tergeletak dalam keadaan meninggal dunia.

Mendapati ayahnya terbujur kaku, Made Suwitra bergegas memberitahukan dan meminta bantuan evakuasi kepada keluarga yang lain. Kapolsek Sukawati Kompol I Made Ariawan P saat dikonfirmasi membenarkan terjadinya musibah orang meninggal diduga tersambar petir. Dugaan tersebut dikuatkan oleh kondisi tubuh korban seperti terbakar. Selain itu, cuaca saat kejadian sedang hujan deras disertai petir. "Diduga seperti itu (tersambar petir, red). Karena saat kejadian memang sedang hujan deras. Bagian tubuh korban terutama dada dan tangan agak membiru kehitaman atau gosong mengelupas," jelas Kompol Ariawan.

Akibat kejadian tersebut dari pihak keluarga korban sudah mengikhlaskan serta dianggap musibah. Jasad korban dari rumah duka sudah langsung dimakamkan di Setra Adat Tengkulak Kelod, Desa Kemenuh, Jumat kemarin sekitar pukul 16.00 Wita.

Bendesa Adat Tengkulak Kelod, Dewa Ketut Suarbawa saat dikonfirmasi membenarkan salah satu krama setempat meninggal dunia diduga tersambar petir. Menurutnya jenazah almarhum sudah langsung dikuburkan, Jumat kemarin. Selain itu pasca kejadian juga akan digelar upacara pecaruan di sawah lokasi korban tergeletak.

"Nanti ada pecaruan di tempat kejadian," jelasnya. Pecaruan akan digelar oleh pihak keluarga setelah bulan Pitung Dina atau 42 hari. "Nanti habis 42 hari," jelas Bendesa Dewa Suarbawa. Sementara itu dalam keseharian, korban Ketut Kliling yang memiliki 2 anak laki-laki dan seorang anak perempuan ini dikenal ulet bekerja. “Orangnya dikenal ulet bekerja,” imbuh Bendesa Dewa Suarbawa.

Sementara di hari yang sama, Polsek Sukawati juga mendapatkan laporan kasus meninggal dunia karena bunuh diri (ulah pati). Korbannya Dewa Kompyang Wiadnyana, 41, warga Banjar Gede, Desa Batuan, Kecamatan Sukawati. Korban nekat mengakhiri hidupnya di tanah kosong yang diperuntukkan sebagai kandang ayam milik Dewa Nyoman Budhi. Jasad korban pertama kali dilihat oleh seorang asisten rumah tangga, Lince, 21, sekitar pukul 18.39 Wita.

Spontan Lince berteriak histeris dan memberitahu warga sekitar lalu menghubungi pihak Polsek Sukawati. "Nggih, ada kejadian gantung diri," jelas Kompol Ariawan. Namun polisi maupun keluarga belum diketahui motif korban nekat mengakhiri hidup. Dari hasil rembug pihak keluarga, korban langsung dimakamkan ke kuburan untuk diupacarai. Pihak keluarga menerima kejadian tersebut sebagai musibah serta menerima dengan ikhlas kematian korban. "Murni gantung diri, tubuh korban tidak ada tanda-tanda kekerasan," jelas Kapolsek. Korban diperkirakan sudah meninggal dunia 4 jam sebelum ditemukan. *nvi

Komentar