nusabali

62 Puisi untuk 62 Tahun RSUP Sanglah

  • www.nusabali.com-62-puisi-untuk-62-tahun-rsup-sanglah

DENPASAR, NusaBali
RSUP Sanglah menapaki usia 62 tahun pada 30 Desember 2021 mendatang. Untuk memaknai bertambahnya umur, RSUP Sanglah membuat sesuatu yang tak biasa dengan mengundang masyarakat untuk menulis puisi bertema ‘Rumah Sakit’.

Tak disangka, lebih dari 200 karya terkumpul berasal dari peserta di seluruh Indonesia. Sebanyak 62 puisi terpilih akan dibukukan menjadi buku antologi puisi. Sejak undangan menulis puisi ini diumumkan pada 8 Oktober 2021 hingga batas waktu pengiriman puisi pada 5 November 2021, panitia menerima 249 puisi yang ditulis oleh 121 peserta dari seluruh Indonesia. Tidak hanya dari Bali, peserta juga berasal dari berbagai provinsi di Indonesia, seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, Jogjakarta, Jawa Barat, Banten, Jakarta, Lampung, Riau, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Aceh, NTB, NTT, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan dan dari daerah lainnya.

“Kami mengundang masyarakat untuk menulis puisi dengan tema ‘Rumah Sakit’. Ternyata sangat antusias diikuti oleh peserta. Tercatat karya peserta yang masuk berasal dari 15 provinsi dan 54 kota se-Indonesia,” ujar Kasubbag Humas RSUP Sanglah, Dewa Ketut Kresna, Rabu (17/11). Dewa Kresna mengatakan, lomba menulis puisi ini menjadi terobosan baru RSUP Sanglah untuk lebih dekat lagi dengan masyarakat. Sebab melalui puisi, pegiat seni maupun masyarakat umum bisa ikut terlibat meramaikan. “Kalau lomba-lomba tentang kesehatan dan penyuluhan, itu sudah menjadi tugas sehari-hari nakes, sehingga pemirsanya biasanya orang kesehatan saja. Akan tetapi, dengan lomba menulis puisi ini, bisa memperluas RSUP Sanglah berada di tengah-tengah masyarakat. Siapa saja bisa ikut terlibat,” kata dewa Kresna.

Diungkapkan, panitia tidak hanya menerima kiriman puisi dari penyair profesional. Karya puisi juga diikuti berbagai kalangan mulai dari pelajar, mahasiswa, ibu rumah tangga, dokter, perawat, pegawai negeri, pegawai swasta, dan sebagainya. Dari seluruh karya yang masuk, kemudian melalui proses kurasi oleh dewan kurator yang terdiri dari Wayan Jengki Sunarta, Made Adnyana Ole, dan dr Sthiraprana Duarsa.

Dewa Kresna melanjutkan, selama proses kurasi secara bertahap, dewan kurator akan memutuskan sebanyak 62 puisi terpilih. Selanjutnya, ke-62 puisi tersebut akan dibukukan menjadi sebuah antologi puisi. “Bagi penulis yang puisinya masuk dalam buku tersebut, akan mendapat satu buku. Selain itu, buku puisi juga akan dikirim ke rumah sakit vertikal yang ada di Indonesia,” terang Dewa Kresna.

Dari catatan dewan kurator, 62 puisi yang lolos kurasi ini menampilkan keunggulan dari segi pendalaman tematik dan komposisi puitik yang utuh padu. Selain itu, puisi-puisi ini juga menyuguhkan kekuatan dan keunikan gaya ucap yang menunjukkan kematangan penulisnya dalam mengolah tema menjadi puisi yang bernas. Secara umum, sebagian besar puisi yang dikirimkan sudah sesuai dengan tema.

Namun ada sejumlah catatan evaluasi dalam penulisan puisi seperti teknik penulisan puisi yang masih tertatih-tatih merangkai diksi, sentuhan swasunting, serta penggunaan tata bahasa dan ejaan. Menurut dewan kurator, sebenarnya banyak puisi berpotensi bagus, namun secara teknik belum diolah dengan matang.

“Akan tetapi kami memberikan apresiasi terhadap sejumlah puisi yang cukup kokoh secara komposisi puitik dan pendalaman tematik. Puisi-puisi tersebut mampu menggetarkan kalbu melalui diksi, metafora, frase, dan kalimat puitik yang sublime,” ungkap salah satu dewan kurator, dr Sthiraprana Duarsa. *ind

Komentar