nusabali

I Dewa Putu Berata, Dedikasi Membawa Gamelan Bali Go International

  • www.nusabali.com-i-dewa-putu-berata-dedikasi-membawa-gamelan-bali-go-international

GIANYAR, NusaBali.com – Bukan hanya dikenal di Pulau Dewata, namun kiprah I Dewa Putu Berata juga dikagumi di AS.

Terlebih gamelannya mengisi soundtrack game di PlayStation 5, Kena: The Bridge of Spirits yang dirilis Agustus 2021 ini. Pencapaian Dewa Berata tidak diraih secara instans. Ia meniti bakat dan minatnya pada dunia gamelan sedari kanak-kanak. Lahir di Desa Pengosekan, Ubud, Gianyar pada 55 tahun silam,  bakat seninya tumbuh di bawah bimbingan sang ayah.

Ayahnya yang bernama Dewa Nyoman Sura adalah seorang seniman gamelan Bali pada era 1960an, telah banyak memberikan inspirasi kepada Dewa Berata sehingga dirinya tumbuh berkembang mendedikasikan diri untuk menjadi seorang seniman, khususnya gamelan Bali.

“Saya sudah ikut terlibat di kegiatan gamelan Bali, dari umur 5 tahun. Dulu sering melihat ayah saya memainkan gamelan, jadi di sanalah mulainya ketertarikan saya pada dunia gamelan Bali,” ujar pemilik Sanggar Cudamani di  Ubud ini.

Dewa Berata pun menceritakan kisah masa kecilnya, pada saat menempuh pendidikan Sekolah Dasar (SD), di SD 4 Mas Ubud, pada tahun 1970an. “Dulu alat musik gamelan hanya ada di pura, dan itu pun dijaga ketat oleh pengawas pura, tapi saya nakal pada saat itu saya mengajak teman-teman sekolah saya untuk berlatih gamelan, mencuri-curi waktu di pura, saking tertariknya dengan gamelan itu,” tuturnya.

Tak hanya menekuni dunia gamelan Bali, saat remaja dan menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Pertama (SMP) 1 Ubud, Dewa Berata menekuni dunia melukis. Dirinya pun mengungkapkan, ilmu melukis diperolehnya oleh seorang seniman lukis, yang bernama Dewa Nyoman Batuan. “Pada saat itu, dari kegiatan melukis yang saya tekuni, memperoleh pundi-pundi rupiah, untuk membiayai sekolah,” ujarnya.

Dirinya pun menambahkan, bahwa ia sangat mengingat pesan ayahnya, yang mengatakan “Jika ingin mendapatkan sesuatu, berusahalah dengan kemampuan sendiri,” jelas Dewa Berata.

Dewa Berata pun menceritakan bahwa pada saat duduk di bangku SMP, dirinya secara aktif mengikuti ekstrakurikuler sepakbola. “Dulu sempat bergabung di tim Persegi Gianyar, saat itu ayah saya mengatakan, harus memilih salah satu bidang antara gamelan dan sepakbola, lalu saya memutuskan memilih gamelan Bali,” tuturnya.

Setelah itu dirinya pun mengatakan melanjutkan sekolah ke SMKI Negeri Denpasar yang kini bertransformasi menjadi Kokar (SMK 3 Sukawati). “Dulu SMKI Negeri Denpasar yang di Jalan Ratna, yang sekarang menjadi Kokar (SMK 3 Sukawati),” ungkapnya.

Setelah itu, Dewa Berata pun melanjutkan pendidikan dalam rangka memperdalam pengetahuannya di dunia gamelan Bali, di STSI Denpasar. Dirinya pun menyebutkan bahwa pada saat menempuh pendidikan di STSI Denpasar, di sanalah awal mulainya mendapatkan kesempatan untuk pergi ke luar negeri pada tahun 1992 dalam rangka mengikuti program KIAS (Kesenian Indonesia Amerika Serikat). “Sangat beruntung rasanya mendapatkan kesempatan itu,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Dewa Berata mengungkapkan bahwa dirinya sudah aktif mengajar gamelan Bali pada saat duduk di bangku kelas 1 saat menempuh pendidikan di SMKI Denpasar. “Saat itu sudah sempat mengajar di berbagai tempat, seperti Desa Mawang, Payangan, Desa Sukawati, Bangli, Klungkung, dan Padang Bai pada tahun 1984,” tuturnya.

Mental dan kemampuan mengajarnya telah terasah sejak dini, dan hingga saat ini dirinya tetap terus belajar dalam memahami karakter anak didik, sehingga dapat menerapkan metode mengajar yang benar dalam konteks mengajar gamelan Bali. “Tidak hanya mendalami dunia gamelan Bali, namun pada saat mengajar secara tidak langsung mempelajari dunia psikologi juga,” kata Dewa Berata.

Pada tahun 1993 setelah tamat menempuh pendidikan di STSI Denpasar, Dewa Berata mendapat undangan oleh Sekar Jaya yang merupakan sekaa gamelan Bali yang berbasis di Amerika. “Karena saya terus tekun dan konsisten untuk aktif mengajar gamelan Bali, Sekar Jaya mengundang saya untuk mengajar di California, saat itu salah satu tokoh seniman Bali yang ada di Sekar Jaya yakni Made Sidia yang merupakan seorang seniman dalang,” jelasnya.

Setelah sembilan bulan mengajar, Dewa Berata banyak memperoleh relasi dan pengalaman, dan pada tahun 1997, dirinya mendirikan Sanggar Cudamani, yang berlokasi di Desa Pengosekan.

Perlu diketahui Sekar Jaya berdiri pada tahun 1979 yang digagas oleh I Wayan Suweca, Michael Tenzer, dan Rachel Cooper. Sekar Jaya merupakan organisasi non profit, yang bertujuan untuk melestarikan dan memperkenalkan gamelan Bali di kancah dunia.

Dengan berdirinya Sanggar Cudamani, Dewa Berata memiliki misi untuk melestarikan gamelan Bali bagi para generasi penerus Bali. Dirinya pun tidak memungut biaya sepeser pun dalam menjalani sanggarnya, berlandaskan ketulusan, Dewa Berata yakin bahwa misi yang dibawanya dalam memperjuangkan gamelan Bali, akan bermanfaat di kemudian hari. “Saya tidak pernah mengharapkan sesuatu dari adanya Sanggar Cudamani yang saya dirikan tersebut, yang saya pegang teguh adalah bagaimana menanamkan nilai-nilai luhur budaya Bali, dalam hal ini adalah gamelan Bali, kepada para generasi penerus,” tegasnya.

Dari hasil ketekunan, dan dedikasinya dalam dunia gamelan Bali, dirinya pun telah terlibat dalam pengisi musik gamelan Bali dalam game PlayStation 5 Kena: Bridge of Spirits. “Sebelumnya juga saya sempat menjadi konsultan budaya, dalam pembuatan film Disney Raya and The Last Dragon yang telah terlaksana dari tiga tahun lalu” tuturnya.

Dewa Berata pun menjelaskan, bahwa dalam menekuni sesuatu, hendaknya seseorang tidak mengharapkan sesuatu dan menjalankannya dengan sepenuh hati. Dirinya pun berpesan kepada para generasi muda Bali, agar selalu memanfaatkan segala kesempatan yang ada, dan sebanyak mungkin membekali diri dengan ilmu pengetahuan.

“Terutama generasi muda Bali, harus memiliki ketertarikan kepada budayanya sendiri, dan mengamalkan ilmu pengetahuan dan wawasan yang dimiliki dalam melestarikan budaya tersebut,” tutupnya. *rma

Komentar