nusabali

Pembangunan Jaringan Pipa Dua Kali Gagal Tender

  • www.nusabali.com-pembangunan-jaringan-pipa-dua-kali-gagal-tender

Dua kali gagal tender, ULP Barang/Jasa Pemkab Buleleng meminta Gapensi mengajukan diri untuk penunjukkan langsung, namun tidak juga berhasil karena anggota Gapensi Buleleng tidak ada memiliki spesifikasi khusus.

Terkait PLTS di Desa Bukti, Kubutambahan

SINGARAJA, NusaBali
Pembangunan jaringan pipa untuk memasok kebutuhan air bersih bagi warga di daerah kering Desa Bukti, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, terungkap dua kali gagal tender. Akibatnya, upaya pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) untuk memasok air bersih ke daerah atas belum bisa diwujudkan.

Semula ada sekitar 80 kepala keluarga (KK) di Banjar Dinas Sanih terlayani air bersih yang bersumber dari sumur sedalam kurang dari 10 meter. Air tersebut dinaikkan menggunakan dua mesin diesel sejak tahun 2004. Namun karena harga BBM jenis Solar terus naik, pihak pengelola air bersih itu terus merugi, karena biaya operasional tidak sebanding lagi dengan pendapatan. Pihak pengelola yakni Kelompok Tirta Amerta Sari yang berada di bawah naungan BUMDes Bukti hanya mampu menjual air bersih sebesar Rp 5.000 per kubik.

Sebagai pengganti, Pemkab Buleleng mengupayakan pengganti mesin diesel dengan pembangunan PLTS yang bersumber dari Corporate Social Responsibility (CSR) PT Indonesia Power. PLTS telah rampung dibangun pada bulan Juli 2015. Dengan pemanfaatan PLTS, selain mengirit biaya produksi, jumlah layanan pun akan dikembangkan hingga di dua banjar dinas dengan target pelanggan mencapai 300 KK. Namun karena jaringan pipa sepanjang 3,6 kilometer belum terbangun, air bawah tanah itu pun belum bisa dipasok menggunakan PLTS. 

Usut punya usut, ternyata proyek pemasangan jaringan pipa tersebut sudah dua kali gagal tender di Unit Layanan Pengadaan (ULP) Barang/Jasa Pemkab Buleleng. Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Buleleng I Nyoman Gede Suryawan membenarkan program pipanisasi di Desa Bukti senilai Rp 300 juta, dua kali gagal tender di ULP. Akibatnya, pemasangan pipa yang akan memasok air ke daerah atas di Desa Bukti belum bisa dilaksanakan. “Itu karena kegiatannya gagal tender, jadi ini yang membuat terlambat,” terangnya, Selasa (1/12).

Suryawan menegaskan, setelah dua kali gagal tender, sesuai regulasi yang ada pelaksanaan proyek itu bisa ditempuh dengan cara penunjukan langsung (PL). “Sekarang sudah ada pihak rekanan yang siap, tinggal tandatangan kontrak kerja saja, setelah itu sudah langsung pekerjaan,” imbuhnya. Sementara Kepala ULP, Ida Bagus Gede Surya Bratha mengatakan, gagal tender terjadi karena tidak ada pihak rekanan yang mengajukan penawaran. 

Dari dua kali gagal tender tersebut, pihaknya kemudian meminta Gapensi mengajukan diri untuk penunjukkan langsung. Namun upaya tersebut tidak juga berhasil, karena anggota Gapensi Buleleng tidak ada memiliki spesifikasi khusus. Akhirnya menunggu rekanan dari luar. “Kalau dari Buleleng tidak ada yang punya spesifikasi khusus, terakhir ada rekanan dari Tabanan yang mengajukan diri, dan sudah ditunjuk. Mungkin sekarang sudah persiapan pekerjaan,” jelas Gus Surya, panggilan akrab dari IB Gede Surya Bratha.

Sebelumnya, pembangunan PLTS merupakan solusi pengganti mesin diesel yang telah beroperasi sejak tahun 2004. Namun karena harga BBM jenis Solar yang terus naik, pihak pengelola kewalahan menutup biaya operasional yang diperkirakan mencapai Rp 3 juta per bulan dengan harga jual Rp 5 ribu per kubik. Pemakaian mesin diesel itu pun kini hanya sekadarnya, dan tidak berani menambah jumlah pelanggan yang saat ini tidak kurang dari 80 sambungan. “Rata-rata biaya operasional itu Rp 3 juta, tapi kita hanya dapat jual air sebesar Rp 2,7 juta, jadi tidak dapat keuntungan apa-apa. Dan sekarang kami masih punya utang di BUMDes,” ucap Ketua Kelompok Tirta Amerta Sari, Jero Mangku Ketut Darsana.

Rencananya, pengelolaan air bersih dengan PLTS itu akan diserahkan pada Kelompok Tirta Amerta Sari – kelompok pengelola air bersih di Desa Bukti. PLTS itu dibangun di atas tanah seluas kurang lebih 2 are milik perseorangan di Banjar Dinas Sanih. PLTS ini akan dimanfaatkan menaikkan air dari sumur kemudian mendistribusikan air bersih tersebut kepada warga dua banjar yakni Banjar Sanih dan Bukti yang berada di daerah bagian atas. Air sumur itu diperkirakan memiliki kapasitas hingga 12 liter per detik. Dengan PLTS, jumlah warga yang mampu dilayani ditarget mencapai 300 KK. 7 

Komentar