nusabali

Gemilang Budidayakan Madu Kela-kela

Ketut Wiarsana, Mantan Pegawai Museum di Ubud

  • www.nusabali.com-gemilang-budidayakan-madu-kela-kela

GIANYAR, NusaBali
Bali salah satu pulau subur. Subur bukan selalu karena gelimang dolar wisata. Namun alam Bali, terutama di pedesaan dan pegunungan, dominan berhawa sejuk, bervegetasi lestari, dan bertanah gembur.

Kesuburan itu menjadikan Bali sangat ideal menjadi area pengembangan agrobisnis, terutama budidaya kela-kela atau trigona. Sebagaimana dilakukan Ketut Wiarsana,53, mantan karyawan sebuah museum di kawasan Ubud, Gianyar, dari Banjar Tegallinggah, Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar. Dengan mata cerdas ditambah utak-atik ekonomis, dia menangkap potensi budidaya hewan hitam bersayap kecil itu. ‘’Kalau mau jujur berusaha ditambah daya kreativitas, Bali ini sesungguhnya punya banyak potensi usaha berbasis alam. Budidaya kela-kela, ini contoh paling nyata. Persoalannnya sekarang kitanya mau ndak,’’ ujarnya kepada NusaBali, Jumat (25/6).

Wiarsana sejak setahun lalu intens bergelut budidaya kela-kela. Bermula dari istrinya, Nengah Sukarmi, sakit karena serangan penyakit gula darah bertubi-tubi. Atas saran teman, agar seeing mengkosumsi madu kela-kela. Kondisi sang istri pun membaik. Saat itu pula, dia berpikir, dibandingkan sering membeli madu kela-kela untuk istri, maka lebih baik langsung budidaya sendiri madu kela-kela.

Dia memulai pelihara 20 kotak koloni kela-kela di samping tempat usaha garmennya, di rumah, Banjar Tegallinggah, Desa Bedulu. Sebelum itu ‘ilmu’ perkela-kelaan didapatkan dari seorang teman asal Kalimantan, yang kebetulan ke Bali. Sang teman mendiklat tentang kela-kela sambil berwisata. ‘’Saya praktikkan pelatihan tentang kela-kela itu, sampai saya punya budi daya kela-kela ini,’’ jelas laki-laki kelahiran 31 Mei 1968 ini.

Dia mau membuka rahasia budi dayanya. Diawali membeli kotak koloni. Agar kotak mau dihuni kela-kela, dia membeli koloni kela-kela dalam bambu. Kela-kela ini dipindahkan ke kotak koloni. Namun kini kotak kela-kela itu sudah jadi jenis kotak toping, di dalamnya ada ‘perangkat’ program madu, berupa plastik mika sehingga panen kela-kela jadi praktis. Pembiakan koloni kela-kela ini sangat mudah dengan cara seplit koloni yang ada. ‘’Sekarang saya punya ratusan koloni kela-kela,’’ ujar ayah dari Putu Eka Arsa Dewi dan Made Dwi Arsana Putra ini.

Kini, Wiarsana mengembangkan budidaya kela-kela di Desa Peninjoan, Kecamatan Tembuku, Bangli. Selain itu, menangani pengkolonian 100 kotak kela-kela di Desa Sibang Kaja, Kecamatan Abiansemal, Badung. Budidaya ini atas pembiayaan BUMDes setempat.

Dia mengatakan, berdasarkan pengalamannya, membudidayakan kela-kela itu mudah. Rumah koloni yang telah ada kela-kela tinggal ditaruh di sebuah tempat yang agak tinggi. Bisa pakai penyangga atau hanya taruh di atas tembok pekarangan, asal aman. Pembudiaya tinggal menunggu koloni kela-kela itu memproduksi madu. Kendalanya, kela-kela takut asap dan serangan semut. Oleh karena itu, usakan jangan ada orang bakar sampah di sekitar habitat koloni kela-kela. ‘’Koloni bermadu agar tak dirubung semut, itu ada tekniknya. Antara lain dengan mengompreskan zat organik di sekitar koloni. Kela-kela akan kabur jika di sekitarnya kurang pakan akibat ada perabasan vegetasi secara luas atau ada sebaran zat kimia tertentu,’’ ujar penekun usaha garmen ini.

Jelasnya, jika koloni kela-kela sudah mapan dan banyak, maka lubang kotak koloni otomatis tertutupi oleh media koloninya. Maka semut tak bisa masuk. Wiarsana mengaku, kini pemesanan kotak koloni kela-kela makin mengalir. Hal ini sejurus dengan peningkatan pemahaman masyarakat tentang kasiat klinis madu kela-kela. Karena madu kela-kela sejak zamannya terbukti menjadi obat atau penawar hampir segala penyakit.

Daa mengaku siap mendiklat kelompok warga yang mau membudidayakan madu kela-kala. Kata dia, per kotak koloni kela-kela dapat menghasilkan madu 200 - 400 mili liter tiap panen 4 bulan sekali. Tingkat produksi madu tergantung kualitas dan kuantitas vegetasi atau  makanan alami kela-kela. Oleh karena itu koloni kela-kela bagus ditaruh di lahan rimbun hijauan, pinggir sungai, dan lokasi lain yang kaya pakan jenis bunga-bunga. ‘’Saya bisa analisis area atau  halaman layak dan tak layak untuk pelihara kela-kela, dan berapa kotak koloni layak memelihara. Saya tak berani bilang sebuah area bisa dipasangi banyak kotak koloni tanpa analisis lingkungan yang kuat,’’ ujarnya.

Wiarsana menambahkan, budidaya kela-kela tak hanya untung karena dapat madu kualitas super. Kela-kela juga sangat perlu ada dalam jumlah banyak untuk mengawinkan serbuk sari bunga segala tanaman. ‘’Saya buktikan, sebelum punya koloni kela-kela, kelapa saya jarang buahnya. Kini, buahnya makin banyak karena bantuan penyerbukan untuk pembuahan oleh koloni kela-kela,’’ paparnya.

Dia menegaskan, kela-kela itu aman. Kela-kela suka masuk ke lubang telinga, hanya mitos  untuk menakuti anak-anak zaman dulu agar tidak liar kemana-mana. Karena aman, Wiarsana mengaku berani tak pakai baju dan tutup kepala saat panen mada kela-kela. *wilasa

Komentar