nusabali

Dilarang Kendarai Motor, Penderita Epilepsi Ngamuk

  • www.nusabali.com-dilarang-kendarai-motor-penderita-epilepsi-ngamuk

I Kadek Erwin Adijaya berteriak-teriak di depan UGD BRSU Tabanan saat menunggu ambulans yang akan mengantarnya ke RSJ Bali di Bangli.

TABANAN, NusaBali
Unit Gawat Darurat (UGD) BRSU Tabanan dihebohkan oleh ulah pasien epilepsi sekaligus pengidap orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang ngamuk pada Jumat (28/5). Dia adalah I Kadek Erwin Adijaya, 25, berteriak-teriak saat hendak dibawa ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Bali yang ada di Kabupaten Bangli.

Kadek Erwin Adijaya ini adalah pemuda asal Banjar Subamia Dencarik, Desa Subamia, Kecamatan/Kabupaten Tabanan. Dia memang memiliki riwayat penyakit epilepsi yang membuat gerak aktivitasnya dibatasi oleh keluarga. Diduga karena tertekan, Kadek Erwin menjadi depresi. Bahkan sebelum diajak ke rumah sakit, di rumahnya Kadek Erwin sempat memecahkan kaca jendela.

Pantauan Jumat siang kemarin, Kadek Erwin bersama keluarga menunggu mobil ambulans yang akan membawanya ke RSJ Bangli. Dengan tangan terborgol Kadek Erwin kerap berteriak-teriak hingga membuat pengunjung rumah sakit yang lewat di depan UGD BRSU Tabanan tak berani mendekat.

Dalam teriakanya itu, dia selalu melontarkan kata ‘matiang cang neh’ (bunuh saya). Sejumlah keluarga dan anggota Satpol PP Tabanan sempat menenangkan Kadek Erwin, namun tak direspons. Bahkan Kadek Erwin sempat kabur ke arah selatan rumah sakit hendak pulang dalam posisi tangan terborgol.

Komandan Peleton Pengendalian Masyarakat Satpol PP Tabanan I Wayan Ardika, menjelaskan Satpol PP Tabanan mendapat informasi dari keluarga pasien untuk mengevakuasi pasien ODGJ yang mengamuk. Sekitar pukul 09.30 Wita, dengan jumlah anggota enam orang mereka langsung menuju rumah pasien di Banjar Subamia Dencarik, Desa Subamia, Kecamatan Tabanan. “Jadi kami mendapatkan informasi Jumat pagi bahwa diminta mengevakuasi pasien ODGJ yang mengamuk,” kata Wayan Ardika.

Kemudian sampai di rumah pasien, dia bersama dengan anggota mendapati tangan pasien sudah terborgol dan duduk di depan Pos Kamling banjar setempat. Borgol yang digunakan untuk mengamankan itu adalah milik Bhabinkamtibmas Desa Subamia yang ikut mengamankan pasien. “Yang memborgol ini katanya keluarga pasien, karena di rumahnya sempat mengamuk,” imbuh Wayan Ardika.

Dengan segala bujuk rayu meskipun pasien masih teriak-teriak, Kadek Erwin mau naik mobil patroli Satpol PP. Karena sesuai keputusan keluarga pasien akan dibawa ke RSJ Bangli, namun sebelum itu harus dibawa ke BRSU Tabanan untuk mendapatkan kelengkapan surat administrasi. “Saat kami amankan, pasien mau nurut,” ucap Wayan Ardika.

Wayan Ardika menambahkan sesuai penuturan keluarga, Kadek Erwin ini memiliki penyakit epilepsi. Sehingga ruang gerak dia di keluarga dibatasi. “Segala aktivitas yang berat-berat dibatasi, keluarga takut terjadi hal yang tidak diinginkan, inilah menyebabkan dia depresi,” bebernya.

Sementara itu ayah pasien, I Wayan Sukantra menyebutkan anaknya kumat ini karena tak dikasih izin mengendarai sepeda motor lantaran Kadek Erwin memiliki riwayat epilepsi. “Karena itu jadinya ngamuk. Sempat pecahkan kaca jendela di rumah,” ujar Wayan Sukantra.

Wayan Sukantra menyebut, anaknya ini memiliki riwayat epilepsi sejak kelas I SMP. Sempat pingsan di sekolah kemudian sering kali kumat. Bahkan sempat jatuh dari sepeda motor karena epilepsinya kumat. “Kalau malali itu harus kita ikuti,” imbuhnya di sela-sela menunggu ambulans yang akan membawa anaknya ke RSJ di Bangli.

Wayan Sukantra menambahkan ngamuknya Kadek Erwin bukan kali pertama. Empat bulan lalu dia sempat ngamuk kemudian dievakuasi atau ditenangkan di Panti Laras di bawah naungan Dinas Sosial Tabanan. “Tetapi saat itu hanya dirawat sehari, kemudian besoknya sudah pulang karena sudah tenang,” ucapnya. *des

Komentar