nusabali

Jual Jajan Bali hingga Dagang Alat Pertanian

Eks Pekerja Pariwisata Adu Nasib di Area Jembatan

  • www.nusabali.com-jual-jajan-bali-hingga-dagang-alat-pertanian

Pemandangan jalan yang berkelok indah membuat pedagang yakin lokasi ini ramai dilintasi. Tidak saja melintas, aliran Tukad Pakerisan juga kerap dikunjungi para pemancing.

GIANYAR, NusaBali

Jembatan Patemon-Lokasrana, penghubung Banjar Patemon, Desa Pejeng Kangin, Kecamatan Tampaksiring - Desa Siangan, Kecamatan Gianyar, Gianyar, diresmikan Minggu (28/1) lalu oleh Bupati Gianyar I Made ‘Agus’ Mahayastra. Jembatan ini  menjadi berkah bagi warga sekitar.

Terutama mantan pekerjaan pariwisata yang dirumahkan karena situasi pandemi Covid-19. Mereka mencoba adu nasib dengan membuka usaha kuliner di pinggir jalan menuju jembatan. Pemandangan jalan yang berkelok indah membuat pedagang yakin lokasi ini ramai dilintasi. Tidak saja melintas, aliran Tukad Pakerisan juga kerap dikunjungi para pemancing.

Seperti diungkapkan salah satu pedagang, Ni Komang Muliani,32, asal Banjar Lokasrana, Desa Siangan. "Saya dulu kerja di sebuah minimarket kawasan wisata Ubud," jelasnya. Karena pandemi Covid-19, Muliani dan sejumlah karyawan lain kena PHK (pemutusan hubungan kerja). "Karena PHK itu, berbulan-bulan saya di rumah, tanpa penghasilan," jelasnya.

Begitu mendengar informasi bisa membuka usaha kuliner di dekat jembatan baru tersebut, Komang Muliani pun antusias. Ibu satu anak ini mengajukan pendaftaran ke Desa Adat Lokasrana. "Akhirnya saya jualan jaja Bali sejak sebulan lalu di sini," jelasnya.

Meski tempat berjualan masih semi permanen, Komang Muliani yakin ke depan lokasi ini akan ramai. "Sebelum ada Jembatan, jalan ini sepi. Setelah ada Jembatan baru mulai ramai. Jadi sangat strategis. Ada saja yang lewat. Mudah-mudahan ke depan juga jadi objek wisata, kan lebih ramai," harap Komang Muliani.

Deretan warung semi permanen ini mulai buka pukul 11.00 Wita - 20.00 Wita. Selama berjualan, Komang Muliani mengaku bisa mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari. "Lumayan bisa membantu hidup sehari-hari," ujarnya.

Perbekel Siangan I Ketut Berata, ketika dikonfirmasi,  membenarkan ada semacam pasar senggol di dekat jembatan baru tersebut. "Ya, seperti ada pasar sengol di sepadan Tukad Pakerisan sebelah jembatan baru penghubung Desa Siangan dan Desa Patemon. Itu masyarakat setempat yang muncul untuk berjualan, spontanitas," jelasnya.

Saat ini, ‘pasar’ tersebut dikelola oleh desa adat setempat. Dia berharap ke depan tempat berjulan ini bisa makin berkembang, bahkan jadi tempat  usaha permanen. ‘’Apalagi informasinya akan ada penataan pemandangan sebelah jembatan itu," ujarnya.

Jumlah pedagang yang berjualan saat ini sebanyak 16 orang. Pedagang ini akan dikelola ke depan. Sekarang berjualanhnya masih pola sukarela, atau tak ada pungutan retribusi. Pedagang ini menjual mulai dariragam kuliner, termasuk kebutuhan pokok hingga alat pertanian. "Berbagai macam. Dulu itu sepi. Ada pelebaran jalan jadi ramai, potensial," jelasnya.

Yang menarik dari lokasi ini, antara lain menuju jembatan baru ada pemandangan jalan berkelok, aliran Tukad Pakerisan dan terdapat Pura Beji Tirta Selukat. "Mungkin nanti, lokasi ini berkembang jadi objek wisata spiritual. Ada tiga pancuran sedang ditata kembali sehingga menarik untuk dikunjungi," jelasnya.*nvi

Komentar