nusabali

Keluarga Tempuh Jalur Niskala

Pencarian Korban Jatuh di Tukad Petanu Nihil

  • www.nusabali.com-keluarga-tempuh-jalur-niskala

Keluarga korban juga setiap saat menghaturkan canang beserta rarapan di lokasi kejadian.

GIANYAR, NusaBali

Pencarian Ni Komang Ayu Ardani,37, yang diduga hilang hanyut di aliran Tukad Petanu, kawasan Banjar Laplapan, Desa Petulu, Kecamatan Ubud, Gianyar, Kamis (18/3), dilanjutkan, Minggu (21/3). Hasilnya, masih nihil hingga pihak keluarga menempuh jalur niskala.

Pencarian tersebut melibatkan puluhan tim gabungan dari Basarnas, BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Gianyar, Balawista, Tagana dan pihak terkait. Pencarian sejak pukul 08.00 Wita. Namun hingga sore, posisi korban asal Banjar Teruna, Desa Siangan, Kecamatan Gianyar, Gianyar ini, belum terdeteksi.

Sementara itu, pihak keluarga menempuh jalur Niskala. Salah satu keluarga korban, I Nyoman Ardana mengaku sudah melakukan persembahyangan di Pura Khayangan Tiga hingga Segara atau pantai. Keluarga juga beberapa kali meminta petunjuk niskala. "Sudah tiga kali meluasang (minta petunjuk orang pintar,Red). Tapi ten kayun maraosan (belum mau bicara)," jelasnya ditemui di lokasi kejadian, jembatan sebelah timur Hotel Maya Ubud, Desa Peliatan, Kecamatan Ubud.

Keluarga korban juga setiap saat menghaturkan canang beserta rarapan di lokasi kejadian. "Setiap saat, kami keluarga berdoa agar segera bisa ditemukan," jelasnya.

Sepengetahuan Nyoman Ardana, saat kecelakaan tunggal masuk jurang pada Kamis (18/3) malam, korban Ni Komang Ardani membonceng anak sulungnya I Putu Kevin Ramansa,9, dan ibu mertua Ni Ketut Rindit,55.

"Mertuanya bekerja di Ubud sebagai tukang banten. Setiap kali sudah selesai, menantunya ditelepon untuk menjemput," jelasnya. Pernah pula, Ni Ketut Rindit sampai harus menginap jika sampai larut malam membuat banten.

Korban hilang, Ni Komang Ayu pun diketahui sudah biasa lewat di jalan alternatif tersebut. Masih berdasarkan penuturan Nyoman Ardana, suami korban, I Made Sumansa diakui masih syok. Sementara putra sulung I Putu Kevin kondisinya mulai stabil. "Suaminya di rumah, tentu masih sangat syok," ungkapnya.

Kepada keluarga, Putu Kevin masih jelas menceritakan kejadian tragis tersebut. "Katanya, saat jatuh ke jurang Putu nangkap bambu. Nyangkut diantara akar pohon. Dia menangis dan teriak minta tolong," ujarnya. Terkait prosesi pemakaman almarhum Ni Ketut Rindit masih ditunda sementara. Saat ini jenazahnya masih dititip di RS Ari Canti di Desa Mas, Kecamatan Ubud. Keluarga, bahkan warga se Banjar Teruna ikut membantu melakukan pencarian. "Upacara (pemakaman jenazah Ni Ketut Rindit, Red) belum. Menunggu ini (pencarian korban hilang). Mudah-mudahan segera ditemukan," harapnya.

Terpisah, Kabid  Kedaruratan dan Logistik BPBD Gianyar Ida Gusti Ngurah Dibya Prasasta, ditemui di titik kumpul area Parkir Goa Gajah, Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, mengatakan titik pencarian sudah diperluas hingga Kecamatan Sukawati. "Pencarian dilakukan beberapa titik, dipusatkan di aliran dekat Goa Gajah, yang jalan empat regu, pencarian hingga memasuki kecamatan Sukawati," ujarnya. Proses pencarian, memasuki hari keempat. Melibatkan tim gabungan dari Basarnas Bali, BPBD Gianyar, Polda Bali, PMI Bali, PMI Gianyar, Balawista, Polsek Ubud, dan pihak terkait.

Hilangnya korban Ni Komang Ayu mengundang perhatian masyarakat sekitar. Di beberapa titik lokasi pencarian, dipadati masyarakat yang penasaran. Mereka melihat pencaraian dari ketinggian.

Warga yang datang berasal dari alamat korban Desa Siangan, Gianyar dan warga sekitar Banjar Laplapan, Desa Petulu, dan sekitarnya. Selain menyaksikan pencarian korban, warga juga ikut mendoakan agar korban cepat ditemukan. "Ingin tahu proses pencariannya, semoga cepat bisa ditemukan," ujar sejumlah warga di lokasi. *nvi


Disayangkan, LPJ di TKP Lama Padam
SEIRING dengan kasus sekeluarga jatuh di TKP itu, warga menyayangkan minimnya lampu penerang jalan (LPJ) di Jalan Raya Gunung Sari, Desa Peliatan, Kecamatan Ubud. LPJ di sekitar juga kerap padam. Kondisi ini sudah terjadi sejak lama.

Terdapat dua titik lampu yang terpasang. Satunya di timur jembatan dan satunya lagi di barat jembatan. "Saya tidak tahu lampu mati karena apa, yang di timur itu kadang mati kadang hidup," ujar seorang warga, Putu Adi, di sekitar TKP, Minggu (21/3).

Diakuinya, jika tanpa lampu, sepanjang jalan hingga memasuki TKP sangat gelap di malam hari. "Memang sangat gelap, memasuk jembatan saru," ujarnya. Sepengetahuannya, kejadian serupa pernah terjadi sekitar Tahun 2017 lalu. Korban seorang tukang laundry. "Orangnya selamat, hanya motornya saja yang jatuh ke sungai," ujarnya.

Kepala Dinas Perhubungan Gianyar I Wayan Suamba, saat dikonfirmasi, tak menampik kondisi ini. Dishub beralasan, ada 6.700 lampu penerang jalan yang diawasi. Sehingga tidak memungkinkan untuk menjangkau secara keseluruhan. Maka itu, Suamba berharap masyarakat aktif melapor jika menemukan lampu penerang jalan yang padam. Khususnya LPJ yang ada di jalan kabupaten. "Ada sekitar 6.700 unit LJP yang harus kita awasi. Jika ada kerusakan, mohon warga atau kaling harap melaporkan," ujar Sumba.

Padam atau rusaknya LPJ, kata Suamba, juga karena terdampak cuaca ekstrem belakangan ini. Ketika ada pohon tumbang cukup sering menimpa kabel jaringan listrik maupun LPJ. "Kita saling mengertilah, karena Covid-19 ini anggaran pemerintah sangat terbatas," ujarnya. *nvi

Komentar