nusabali

Pelaku Usaha Tambak Nener di Gerokgak Bertahan di Tengah Pandemi

Penuhi Pasar Ekspor ke Filipina

  • www.nusabali.com-pelaku-usaha-tambak-nener-di-gerokgak-bertahan-di-tengah-pandemi

SINGARAJA, NusaBali
Di tengah hantaman pandemi Covid-19, beberapa sektor usaha di Bali tiarap mengalami penurunan drastis, terutama sektor pariwisata.

Kondisi ini berbeda dengan sektor usaha perikanan. Terbukti, usaha budi daya perikanan darat atau tambak bibit bandeng (nener) hingga kini mampu bertahan di tengah situasi perekonomian yang sulit.
Usaha budi daya tambak nener bertahan di tengah pandemi, meskipun pada sektor usaha ini juga terdampak Covid-19 akibat menurunnya transaksi ekonomi nasional dan dunia yang berimbas pada permintaan pasar menurun. Hal ini seperti diungkapkan salah seorang pelaku usaha tambak di asal Desa Patas, Kecamatan Gerokgak, Hengky Putro Raharjo.

Menurut Hengky, usaha yang sudah dia geluti sejak bertahun-tahun lalu ini sempat mengalami keterpurukan akibat permintaan pasar yang menurun saat awal-awal pandemi merebak. Bahkan, usahanya sempat mengalami penurunan omzet saat harga nener merosot di bawah standar di kisaran Rp 3 sampai Rp 4 per benih di tingkat petambak.

Hanya saja, para petambak nener yang merupakan produksi asli Buleleng barat tetap bertahan dengan kondisi tersebut. Hasilnya, sektor itu punya peluang pasar ekspor terutama ke Filipina. "Kami awalnya mengalami situasi sulit. Kami pun bertahan untuk tidak merumahkan karyawan karena berhitung soal ketahanan ekonomi keluarga," ujar Hengky, Kamis (18/3) siang.

Sesungguhnya, kata Hengky, harga normal bibit bandeng (nener) ini menyesuaikan dengan standar produksi dan operasional berada di kisaran di atas Rp 10 rupiah per ekor benih. Hanya saja harga itu kadang-kadang belum bisa terangkat mengingat belum adanya regulasi untuk menertibkan harga di tingkat petambak.

Akibatnya, banyak pengusaha yang tak mampu bertahan karena hasil produksi tak mampu menutupi tingginya biaya operasional. Tapi, berkat kegigihannya itu membuat usaha yang digelutinya sejak lama ini mampu bertahan. Bahkan tak tanggung-tanggung, dirinya bersama pengusaha budi daya nener lain mampu membuka peluang pasar ekspor ke Filipina.

Harga per benih atau per ekor nener berada di kisaran Rp 40 hingga Rp 45. Kondisi inipun mampu menggairahkan perekonomian masyarakat yang bekerja pada sektor tersebut. Bahkan, meski di tengah situasi pandemi Covid-19 yang melanda seluruh dunia, tak satupun tenaga kerja di sektor ini yang terkena imbas pemutusan hubungan kerja.

"Sekali pengiriman sekitar 40 juta hingga 70 juta bibit bandeng atau sekitar 700 koli hingga 1.200 koli, ke Filipina. Ini karena permintaan dari negara itu meningkat. Bisa dua kali dalam seminggu, kami ekspor bibit Bandeng ke Filipina," ungkap Hengky.

Kata Hengky, ekspor nener ke Filipina ini memakai pesawat yang disewa urunam bersama pengusaha lainnya untuk dapat menekan biaya operasional. "Di Filipina sekarang musim tebar benih, sehingga bisa disebut high season. Kami estimasi ini berlangsung sampai akhir Juni 2021 nanti," jelas Hengky.

Menurut Hengky, sektor budi daya bandeng di Buleleng yang merupakan produksi dunia, mendapat perhatian serius. Sebab, selain punya nilai ekonomis, nutrisi dan gizi yang terkandung dalam bandeng melebihi ikan Salmon. "Di sisi lain, kami bersyukur masih bisa bertahan dan bisa membantu perekonomian masyarakat, saat beberapa sektor usaha terpuruk akibat pandemi Covid-19," kata Hengky.

Sementara itu, Camat Gerokgak, Made Juartawan tak menampik, sebagian besar warga Kecamatan Gerokgak bekerja di sektor budi daya tambak dapat bertahan secara ekonomi. Bahkan dari 14 desa yang ada di Kecamatan Gerokgak, desa yang memiliki usaha tambak, justru yang paling kecil sebagai data penerima BLT-DD dibandingkan desa lainnya yang tidak punya usaha budi daya tambak.

Menurut Juartawan, hal tersebut dikarenakan warga mendapatkam penghasilan bekerja sebagai buruh maupun petambak skala rumahan. "Warga terbantu secara ekonomi dari sektor budi daya perikanan darat ini. Sektor ini telah membantu ekonomi masyarakat untuk dapat bertahan ditengah situasi pandemi Covid-19," singkat Juartawan.*m

Komentar