nusabali

Edu-Aksi Plastic Exchange Kumpulkan 300 Ton Sampah Plastik

  • www.nusabali.com-edu-aksi-plastic-exchange-kumpulkan-300-ton-sampah-plastik

GIANYAR, NusaBali
Plastic exchange (penukaran sampah plastik) dengan beras di Bali, terutama di Gianyar berlangsung 8 bulan.

Aksi selama pandemi Covid-19 ini mampu mengumpulkan sampah plastik sekitar 300 ton.  Inisiator plastic exchange Made Janur Yasa dalam pertemuan dengan komunitas pecinta lingkungan di Warung Tetamian, Banjar Peninjoan, Desa Batuan, Kecamatan Sukawati, Minggu (14/2), mengatakan aksi ini harus diedukasi setiap saat. "Kalau 1 orang pungut sampah plastik 5 kali saja dalam sehari, maka dalam sebulan orang tersebut memungut sampah plastik 150 kali. Paling tidak, dia akan ingat dengan tindakannya," jelasnya.

Untuk membiasakan itu, pemilahan sampah harus dimulai dari dapur setiap rumah tangga. "Karena sampah yang tercampur tidak ada nilainya. Sehingga harus dipilah," jelasnya. Pria plontos asal Tabanan inipun mengajak para ibu rumah tangga saat memasak di dapur, mulai belajar memilah sampah. "Tempatkan sampah plastik di tempat khusus, terpisah dengan sampah organik. Pas ada plastik exchange, tukar," pintanya.

Selama 8 bulan edu-aksi ini, Made Janur mengaku sudah 250 banjar yang bergerak. Bahkan ada dua desa yang rutin menggelar aksi ini setiap bulan, yakni Desa Batuan Kaler, Kecamatan Sukawati, dan Desa Lodtunduh, Kecamatan Ubud. Sampah plastik yang terkumpul dipadatkan oleh pengepul, kemudian dikirim ke Jawa. "Uangnya kami kembalikan lagi ke masing-masing banjar untuk membeli beras penukar," terangnya.

Diakui, barter penukar berupa beras bisa saja diganti dengan produk lain. Namun beras sebagai kebutuhan pokok saat pandemi, dinilai paling efektif. Beras yang disediakan pun, kata Made Janur sejatinya tidak cukup. Karena harga beras lebih mahal dari harga jual plastik. "Selama ini beras itu bersumber dari donasi, subsidi dari para donatur. Baik itu orang Bali, Indonesia bahkan WNA. Karena banyak yang peduli ingin melakukan sesuatu bagaimana bantu Bali," jelasnya.

Hal senada diungkapkan, Komunitas Kedas Kedas Desa Lodtunduh I Wayan Eka Sugiarta. Kata dia, setiap ibu rumah tangga di Desa Lodtunduh kini terbiasa memilah sampah plastik dan organik. "Dampaknya sudah jelas, mengurangi sampah plastik dari sumbernya. Ibu rumah tangga sekarang di dapur sudah memilah. Jadi, kami pastikan di Desa Lodtunduh, khususnya Banjar Apuh tidak lagi ada sampah tercampur. Kita masih tetap bisa giatkan tiap bulan," ujarnya.

Ditambahkan Wayan Suartika alias Wayan Gabler, Komunitas Toltol asal Banjar Sakah, Desa Batuan Kaler, Kecamatan Sukawati, plastic exchange sudah terbiasa dilakukan. Komunitas ini bergerak sejak tahun 2016. ‘’Awalnya bersih-bersih sendiri di jalan, masyarakat tidak menghiraukan. Sejak ada plastic exchange, sampai nenek nenek tergugah," ujarnya. Aksi inipun mendapat suport dari Pemerintahan Desa Batuan Kaler. "Desa rutin menggelontor beras penukar. Karena desa terbantu, truk sampahnya semakin sedikit menyuplai sampah ke TPA," ungkapnya.

Dalam diskusi itu, hadir Ketua Komisi III DPRD Gianyar Putu Gede Pebriantara, Dia mengaku mendukung pelaksanaan plastic exchange. Kata dia, dengan ada aksi tukar beras, warga tertarik untuk mencari sampah agar bisa ditukar dengan beras.

Politisi asal Banjar Peninjoan, Desa Batuan ini mengaku sudah membiasakan diri memilah sampah mulai dari rumah. Kata dia, budaya memilah sampah ini paling sulit. ‘’Namun kini sudah mulai dibiasakan. Banjar-banjar sudah masif dengan gerakan ini. Niscaya, sampah yang dikirim ke TPA akan berkurang," ajaknya. *nvi

Komentar