nusabali

Dagang Keripik Dibunuh di Warungnya

Insiden Berdarah di Jalan Bypass Ngurah Rai Betngandang, Sanur

  • www.nusabali.com-dagang-keripik-dibunuh-di-warungnya

Korban Sri Widayu tinggal sendirian di warung pasca pisah ranjang dengan suaminya, Suwarno, sejak 3 tahun silam

DENPASAR, NusaBali

Seorang pedagang keripik pisang dan peyek asal Banyuwangi, Jawa Timur, Sri Widayu, 48, ditemukan tewas bersimbah darah di warungnya kawasan Jalan Bypass Ngurah Rai Nomor 438 Sanur, Denpasar Selatan, Selasa (2/2) malam pukul 20.30 Wita. Perempuan berusia 48 tahun ini diduga kuat tewas dibunuh dengan sejumlah luka berat, bahkan kening dan kepala belakang sampai pecah.

Korban Sri Widayu sejak 2 tahun terakhir tinggal seorang diri di warung tempat usahanya yang berada di wilayah Banjar Betngandang, Desa Sanur Kauh, Kecamatan Denpasar Selatan tersebut. Korban sudah pisah ranjang dengan suaminya, Suwarno, 53, sejak 3 tahun silam.

Sang suami, Suwarno, tinggal di Banjar Tanjung, Desa Sanur Kauh, Kecamatan Denpasar Selatan. Sedangkan anak laki-laki hasil pernikahan mereka, Eko Agus Wahyudi, 27, tinggal terpisah di Jalan Danau Poso Sanur.

Kasubbag Humas Polresta Denpasar, Iptu Ketut Sukadi, mengatakan kematian tragis korban Sri Widayu pertama kali diketahui pemilik kontrakan, I Nyoman Sukerta, 53, yang masuk memerika kondisi warung pasca mendapat laporan ada kegaduhan di sana. Korban Sri Widayu ditemukan tergeletak dalam kondisi bersimbah darah di kamarnya.

Menurut Iptu Ketut Sukadi, terungkapnya kematian Sri Widayu berawal dari kecurigaan tetangga korban, Nur Badri, 40. Perempuan yang tinggal di Jalan Betngandang I Nomor 55 XX Sanur, tak jauh dari lokasi TKP, awalnya melihat dua orang, laki-perempuan, keluar dari warung korban, Selasa malam sekitar pukul 20.30 Wita.

Sebelum kedua orang itu keluar dari dalam warung, saksi Nur Badri mendengar ada keributan di sana. Dalam keributan itu, salah seorang terdengar menghardik “Sudah empat bulan kamu!” Penasaran dengan suara ribut-ribut di dalam warung korban, saksi Nur Badri pun keluar rumah. Dia melihat ada dua orang, lelaki dan perempuan berkerudung, naik satu motor warna merah berboncengan ke arah utara Jalan Bypass Ngurah Rai Sanur.

Curiga terjadi sesuatu, saksi Nur Badri kemudian mendekati warung seraya memanggil-manggil korban Sri Widayu. Namun, tidak ada yang menyahut. Saat itu, pintu warung korban masih terbuka.

Saksi Nur Badri kemudian melaporkan kejadian ini kepada pemilik kontrakan, I Nyoman Sukerta. Selanjutnya, Nyoman Sukerta mengajak Mohammad Najib masuk ke dalam warung yang dikontrak korban Sri Widayu. “Mereka kaget melihat korban telentang dalam kondisi bersimbah darah di kamarnya,” ungkap Iptu Sukadi, Rabu (3/2).

Saat ditemukan tewas bersimbah darah, korban Sri Widayu masih mengenakan baju kaos warna hitam campur putih, celana jean pendek warna biru muda. Peristiwa maut itu langsung dilaporkan Nyoman Sukerta kepolisi untuk dilakukan tindaklanjut. Menjelang tengah malam sekitar pukul 23.30 Wita, Tim Inafis Polresta Denpasar tiba di lokasi kejadian untuk melakukan olah TKP, meminta keterangan skasi-saksi, dan mengevakuasi korban Sri Widayu yang sudah dalam keadaan tak bernyawa. Jenazah korban selanjutnya dibawa ke Instalasi Kedokteran Forensik RSUP Sanglah, Denpasar untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Menurut Iptu Sukadi, dari hasil pemeriksaan luar, korban Sri Widayu diduga kuat tewas dibunuh. Korban dianiaya menggunakan benda tumpul, hingga kening dan kepala belakangnya pecah. "Korban diduga dihantam menggunakan tabung gas elpiji ukuran 3 kilogram. Akibatnya, kening dan kepala bagian belakang korban pecah,” katanya.

Dikonfirmasi NusaBali terpisah, Rabu kemarin, Dokter Penanggung Jawab Pasien (DPJP) Instalasi Kedokteran Forensik RSUP Sanglah, dr Dudut Rustyadi SpFM(K) SH, mengatakan dari hasil pemeriksaan luar, ditemukan sejumlah luka di tubuh korban. “Ditemukan satu luka robek di kepala bagian atas serta beberapa luka memar pada wajah, tangan, dan kaki,” jelas dr Dudut.

Menurut dr Dudut, pihaknya masih menunggu permintaan otopsi lebih lanjut dari kepolisian. Sedangkan pihak keluarga korban Sri Widayu mengungkapkan otopsi jenazah akan dilaksanakan Kamis (4/2) ini, namun belum ditentukan jam berapa dilakukan.

Sementara itu, suami korban, Suwarno, mengakui sudah pisah ranjang dengan Sri Widayu sejak 3 tahun silam. Kendati demikian, mereka masih sering berkomunikasi. Bahkan, beberapa jam sebelum peristiwa maut, tepatnya Selasa sore pukul 15.00 Wita, Suwarno masih sempat bertemu istrinya itu.

“Setiap hari kami kontak. Dia (korban Sri Widayu) kan jualan keripik pisang, molen, nitip sama saya untuk dijualin. Kemarin sore (Selasa) jam 3 itu saya ke sana nganter keripik pisang,” cerita Suwarno daat ditemui NusaBali di Instalasi Kedokteran Forensik RSUP Sanglah, Rabu kemarin.

Pria berusia 53 tahun yang berprofesi sebagai penjual nasi bungkus keliling ini baru mendengar kabar tentang kematian tragis istrinya, Rabu pagi pukul 09.00 Wita dari pihak kepolisian. Menurut Suwarno, korban Sri Widayu adalah sosok yang ramah dan tidak memiliki masalah dengan orang-orang di sekitarnya.

“Dia tidak pernah cerita ke saya punya masalah dengan orang lain,” kenang Suwarno. “Saya berharap polisi segera bisa mengungkap kasus pembunuhan istri saya ini dan ditangkap untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya,” tandas Suwarno yang kemarin didampingi anaknya, Eko Agus Wahyudi, dan kerabat lainnya.

Sementara itu, salah seorang teman korban, Hairiah, 50, mengaku kaget dengan kejadian maut yang merenggut nyawa Sri Widayu. Hairiah mengaku sejak Senin (1/2) lalu bekerja di warung korban untuk membantu kupas kulit pisang buat digoreng jadi keripik. Hairiah kaget saat tiba di warung, Rabu pagi, tempat usaha majikannya itu sudah dipasangi garis polisi.

"Saya benar-benar tidak tahu apa yang terjadi. Baru dua hari saya bekerja di sini, sebelumnya tidak ada kejadian apa-apa," tutur perempuan yang mengaku tinggal di Jalan Tirta Ening I Desa Sanur Kauh, Denpasar Selatan ini.

Menurut Hairiah, warung keripik pisang dan peyek milik korban buka setiap hari. Selama dua hari dia bekerja di sana, Hairiah mengaku selalu pulang sore pukul 17.00 Wita ketika warung masih buka.

Setahu Hairiah, korban Sri Widayu yang dikenalnya dengan nama Bu Wiwik itu tidak memiliki masalah. Dua hari bekerja di sana, Hairiah tidak pernah mendapat cerita atau curhat tentang masalah yang dialami korban. “Saya kerja di sini karena kenal lama dengan Bu Wiwik. Dia orangnya sangat baik. Saya tidak tau kalau dia memiliki masalah dengan orang lain," tutur perempuan asal Banyuwangi ini. *pol,cr74

Komentar