nusabali

Bulan Bahasa Bali Dibuka dengan Lantunan Pupuh Sanjiwani

Koster: Dari 352 Bahasa Daerah di Indonesia, 11 di Antaranya Sudah Punah

  • www.nusabali.com-bulan-bahasa-bali-dibuka-dengan-lantunan-pupuh-sanjiwani

DENPASAR, NusaBali
Diawali dengan lantunan bait-bait Pupuh Sanjiwani, Bulan Bahasa Bali III Tahun 2021 secara resmi dibuka Gubernur Wayan Koster, Senin (1/2) petang, di Gedung Ksirarnawa, Taman Werdhi Budaya Provinsi Bali, Jalan Nusa Indah Denpasar.

Pembukaan Bulan Bahasa Bali dilakukan bersamaan dengan dibukanya Pameran Industri Kecil Menengah (IKM) Bali Bangkit, di tempat yang sama. Rangkaian pembukaan Bulan Bahasa Bali II 2021 diawali dengan lantunan Utsawa Gita Pangrastiti Pamahayu Jagat Ngider Bhuwana, Senin petang sekitar pukul 18.00 Wita, di mana para Penyuluh Bahasa Bali dari 9 kabupaten/kota se-Bali secara bersama-sama melantunkan bait-bait Pupuh Sanjiwani. Lantunan Pupuh Sanjiwani ini intinya untuk memohon agar pandemi Covid-19 segera berakhir dan bumi kembali bersih. Sedangkan rangkaian pembukaan Bulan Bahasa Bali III 2021 ditutup dengan tarian Taru Pramana, tadi malam sekitar pukul 20.00 Wita.

Pembukaan Bulan Bahasa Bali III 2021 ditandai dengan penyerahan lontar kepada salah satu seniman oleh Gubernur Koster. Dalam sambutannya, Gubernur Koster menyebutkan momen Bulan Bahasa Bali yang digelar untuk ketiga kalinya tersebut sebagai sarana menyebarluaskan dan sekaligus melestarikan bahasa, aksara, dan sastra Bali sebagai ibu dan jiwa kebudayaan Bali dalam kondisi dunia global saat ini.

“Bahasa daerah atau bahasa lokal di dunia banyak yang sudah semakin hilang. Apalagi, seperti diketahui, hasil penelitian yang telah dilakukan UNESCO tahun 2020 menunjukkan di seluruh dunia ada kurang lebih 6.000 bahasa daerah. Dari jumlah itu, 200 bahasa daerah di antaranya telah dinyatakan punah dan 538 bahasa daerah lagi sudah hampir punah atau kritis,” jelas Gubernur Koster.

Gubernur Koster menambahkan, Badan Pengembang dan Pembinaan Bahasa Republik Indonesia, mencatat di Indonesia terdapat 352 bahasa daerah. Dari jumlah itu, 11 bahasa daerah di antaranya sudah punah.

“Sangat bahagia kita di Bali telah mempunyai Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Bali Nomor 4 Tahun 2020 tentang Penguatan dan Pemajuan Kebudayaan Bali dan Peraturan Gubernur (Pergub) Bali Nomor 80 Tahun 2018 tentang Perlindungan Bahasa, Aksara dan Sastra Bali serta Penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali, yang merupakan jalan untuk merefleksikan dan menyebarkan bahasa, aksara, dan sastra Bali dengan lengkap berkelanjutan hingga ke seluruh desa di Bali,” papar Gubernur yang juga Ketua DPD PDIP Bali ini.

Menurut Koster, hal ini sesuai dengan visi pembangunan Pemerintah Provinsi Bali ‘Nangun Sat Kerthi Loka Bali’ melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana menuju Bali Era Baru, yang mengutamakan pembangunan berdasarkan atas adat, tradisi, seni-budaya, dan kearifan lokal Bali. Dengan adanya perkembangan teknologi, hal ini mesti dikelola untuk meningkatkan usaha-usaha memperkokoh bahasa, aksara, dan sastra Bali, bersamaan dengan menghormati Susastra Bali sebagai sumber pengetahuan dan pengembangan teknologi, utamanya yang berkaitan dengan usaha dan industri kerajinan Bali.

Dalam momen yang bertepatan dengan pembukaan Pameran IKM Bali Bangkit ini, Koster menyampaikan apresiasi kepada Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Bali, Ni Putu Putri Suastini, atas usahanya membangun perekonomian Bali Bangkit yang tentu berkontribusi besar bagi para pelaku IKM.

“Pameran IKM Bali Bangkit yang dilaksanakan akhir tahun 2020 lalu, sudah tentu dan penanda menyelamatkan para pelaku IKM Bali. Dalam waktu yang sangat baik ini, saya mengumumkan agar seluruh masyarakat Bali selalu ingat melestarikan dan menyebar luaskan bahasa, aksara, dan sastra Bali, bersamaan dengan menggunakan produk IKM Bali,” tegas politisi senior PDIP asal Desa Sembiran, Kecamatan Tejakula, Buleleng yang sempat tiga periode duduk di Komisi X DPR RI Dapil Bali tiga periode (2004-2009, 2009-2014, 2014-2018) ini.

Bulan Bahasa Bali III 2021 dengan tema ‘Wana Kerthi: Sabdaning Taru Mahottama’ (yang bermakna Bulan Bahasa Bali sebagai altar pemuliaan bahasa, aksara, dan sastra Bali tertaut jelajah pemaknaan hutan sebagai pranata kehidupan) akan digelar selama sebulan penuh, 1-28 Februari. Sedangkan Pameran IKM Bali Bangkit akan dilaksanakan selama 2 bulan penuh, 1 Februari-31 Maret 2021.

Meski digelar secara luring dan daring, pelaksanaan Bulan Bahasa Bali tahun nini tidak jauh berbeda Bulan Bahasa Bali I 2019 dan Bulan Bahasa Bali II 2020. Bulan Bahasa Bali 2021 menyajikan sejumlah agenda acara yang dikemas dalam bentuk Widya Tula (seminar), Kriya Loka (lokakarya), Prasara (pameran), Wimbakara (lomba), Utsawa (fes-tival), Sesolahan (pergelaran), dan pemberian penghargaan Bali Kerti Nugraha Mahottama.

Widya Tula (seminar) akan mengangkat enam topik yakni Kalimosaddha, Widyosadha, Sastra Panaweng Gering, Usadhi Pranawa, Usadhikanda, dan Dharma Usadha. Sedangkan kegiatan Kria Loka (loka karya) akan menghadirkan enam narasumber dengan mengangkat tiga materi, yakni Pangenter Acara (Pembawa Acara), Ngreka Baligrafi, dan Ngracik Loloh. Kemudian Prasara (pameran) seni prasi melibatkan 89 seniman prasi lintas generasi. Ini merupakan pameran karya seni prasi terbesar di Bali.

Menurut Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Wayan Kun Adnyana, Wimbakara (lomba) terdiri atas 17 jenis lomba, dengan kategori untuk umum dan ada juga peserta merupakan hasil seleksi dari tingkat kabupaten/kota. Untuk lomba kategori umum meliputi Lomba Pidarta Tingkat Universitas, Lomba Vlog, Lomba Artikel, Lomba Musikalisasi Puisi, Lomba Foto dan Caption Berbahasa Bali, Lomba Cipta Puisi, Lomba Cerpen, Lomba Prasi, Lomba Poster, dan Lomba Komik Strip.

Sedangkan lomba yang diikuti perwakilan kabupaten/kota adalah Lomba Nyatua Bali Krama PKK, Lomba Pidato Berbahasa Bali Bendesa Adat, Lomba Debat Bahasa Bali, Lomba Baligrafi, Lomba Mengetik Aksara Bali di Komputer, Lomba Ngwacen Lontar Daha Taruna, dan Lomba Nyurat Aksara Bali Tingkat SD.

Selanjutnya, Sesolahan (pergelaran) akan melibatkan 16 Sanggar yang dikurasi kurator Bulan Bahasa Bali, yaitu Prof Nyoman Suarka, Dr Komang Sudirga, dan Putu Eka Gunayasa. Terakhir, Penghargaan Bali Kerti Nugraha Mahottama akan diberikan kepada dua tokoh yang telah berjasa dalam usaha pelestarian dan pengembangan bahasa, aksara, dan sastra Bali. Penghargaan berupa lencana emas dan hadiah uang masing-masing Rp 100 juta. *cr74

Komentar