nusabali

Puncak Musim Hujan Diprediksi Februari 2021

  • www.nusabali.com-puncak-musim-hujan-diprediksi-februari-2021

MANGUPURA, NusaBali
Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar, memprakirakan puncak musim penghujan di Pulau Dewata terjadi pada Februari 2021.

Saat memasuki puncak musim hujan, masyarakat diingatkan untuk waspada cuaca ekstrem seperti hujan deras, petir, dan gelombang tinggi. Kepala Bidang Data dan Informasi BBMKG Wilayah III Denpasar Iman Fatchurochman, mengatakan saat ini tercatat sebagian besar wilayah Indonesia, yaitu 93 persen dari 342 Zona Musim (Zom) telah memasuki musim hujan termasuk Pulau Dewata. Dari total 342 Zom tersebut, diperkirakan memasuki puncak musim hujan pada Februari 2021.

Menurut Iman, memasuki puncak musim penghujan, masyarakat perlu mewaspadai potensi cuaca ekstrem yang cenderung meningkat. “Kami meminta masyarakat dan seluruh pihak untuk tetap terus mewaspadai potensi cuaca ekstrem yang cenderung meningkat ketika puncak musim penghujan tiba,” katanya, Senin (11/1) siang.

Iman mengatakan, cuaca ekstrem tersebut sangat berpotensi mengakibatkan dampak bencana hidrometeorologi seperti banjir bandang, tanah longsor, hujan lebat disertai kilat/petir, dan gelombang tinggi yang membahayakan pelayaran dan penerbangan.

“Dalam prakiraan cuaca, Bali memang salah satu yang berpotensi. Selain itu, ada juga wilayah lainnya seperti Aceh, Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Jogjakarta, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, NTB, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Maluku, Papua Barat, dan Papua,” jelas Iman.

Untuk gelombang tinggi di Selat Bali dan Selat Lombok diperkirakan tingginya mencapai 2 meter, perairan Utara Bali hingga 1 meter. Sementara, di perairan Selatan Bali diperkirakan mencapai 3 meter.

Guna mencegah hal yang tidak diinginkan, Iman mengharapkan kapal penumpang untuk selalu memperhatikan setiap imbauan dari BBMKG, begitu juga dengan para nelayan agar mempertimbangkan kondisi sebelum melaut.

“Kami terus mengimbau masyarakat/nelayan dan semua pihak yang terkait dengan sektor transportasi, untuk selalu meningkatkan kewaspadaannya terhadap gelombang tinggi yang bisa saja terjadi saat memasuki puncak musim penghujan ini,” kata Iman.

Sementara, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Badung juga mengimbau warga agar lebih waspada saat musim penghujan. Sebab, sebagian wilayah di Gumi Keris rawan terjadi bencana, seperti tanah longsor, pohon tumbang, dan banjir.

“Kami imbau warga untuk meningkatkan kewaspadaan. Kenali risiko yang mungkin terjadi di lingkungan tempat tinggal kita,” kata Kepala Pelaksana BPBD Badung Bagus Nyoman Wiranata, Senin (11/1).

Bagus Wiranata juga mengimbau agar warga melaporkan kepada petugas apabila ada potensi bahaya yang mengancam. “Kalau ada potensi bahaya yang mengancam, seperti adanya pohon lapuk yang harus segera dilakukan perompesan atau pemotongan, segera laporkan ke kami,” katanya.

Secara umum, jelas Bagus Wiranata, BPBD telah memetakan daerah rawan bencana di Badung. Misalnya di Badung Utara, rawan terjadi bencana longsor hingga pohon tumbang, sedangkan di Badung Selatan berpotensi terjadi banjir dan tsunami.

Untuk kawasan yang berpotensi rawan longsor, lanjut Bagus Wiranata, hampir tercatat di semua daerah. Namun, dari hasil pemetaan yang dilakukan titik yang paling diatensi yakni di wilayah Kecamatan Petang, Kecamatan Abiansemal, Kecamatan Mengwi, termasuk juga di Kecamatan Kuta Selatan.

Sementara, untuk wilayah rawan tsunami ada di 18 desa atau kelurahan yang ada di pesisir, terutama di Badung Selatan, yakni Tanjung Benoa, Benoa, Jimbaran, Kutuh, Ungasan, Pecatu, Kedonganan, Kuta, Tuban, Legian, Seminyak, Kerobokan Kelod, Kerobokan, Tibubeneng, Canggu, Pererenan, Munggu, dan Cemagi. *dar, asa

loading...

Komentar