nusabali

102 Pelajar Dilatih Cara Menulis Lontar

  • www.nusabali.com-102-pelajar-dilatih-cara-menulis-lontar

SINGARAJA, NusaBali
Sebanyak 102 orang siswa SMP di Buleleng dilatih menulis lontar pada Kamis (12/11) dan Jumat (13/11) di Puri Seni Sasana Budaya.

Kegiatan yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng ini dimaksudkan untuk melestarikan warisan budaya Bali yakni budaya nyastra aksara Bali di atas daun lontar. Latihan  selain dilakukan dengan tatap muka langsung juga disiarkan online melalui media sosial. Sehingga pesertanya tak terbatas meski dalam situasi pandemi Covid-19. Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng, Gede Dody Sukma Oktiva Askara mengatakan selain melestarikan warisan budaya leluhur, pelatihan ini juga ditujukan untuk memberikan edukasi kepada generasi muda. Khususnya tentang budaya kearifan lokal berupa manuskrip.

Terlebih dengan keberadaan Museum Gedong Kirtya yang dikenal sebagai museum lontar satu-satunya di  Bali. Museum yang sudah memiliki reputasi dan dikenal hingga mancanegara diharapkan dapat menjadi kebanggaan dan juga dimanfaatkan generasi muda Buleleng sebagai referensi pembelajaran mereka.

Kegiatan ini secara rutin akan digelar setiap tahunnya. Generasi muda yang sebagai sasaran pelestari warisan budaya diharapkan tidak abai dengan kekayaan lontar di Museum Gedong Kirtya. “Edukasi yang diberikan tentang pengenalan dan cara menulis lontar yang benar. Dengan mereka mengenal dan tahu cara membaca tulisan di lontar, tentu akan sayang dan peduli dengan khazanah budaya utamanya manuskrip tulisan di atas daun lontar,” ujar Dody Sukma.

Adapun pelatih yang dilibatkan dalam kegiatan yang dibagi dalam dua sesi ini sebanyak dua orang yakni I Gusti Bagus Sudiasta asal Desa Bungkulan, eks Kepala Museum Gedong Kirtya dan Ni Made Ari Dwijayanti dosen STAHN Mpu Kuturan Singaraja. Sementara itu Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana,  mengatakan Museum Gedong Kirtya nantinya akan dijadikan pusat penelitian lontar kuno. Bahkan koleksi Gedong Kirtya menjadi rujukan para pemikir Bali dan dunia. Sehingga ini harus dikembangkan.

“Ini sangat penting, bagaimana kita bisa menggali pelajaran dari leluhur kita yang tertuang di lontar-lontar tersebut. Karena masih banyak hal-hal yang perlu kita ketahui dari peninggalan leluhur untuk mempertahankan warisan budaya leluhur kita,” jelas dia.*k23

loading...

Komentar