nusabali

Pengguna Dokar di Kuta Turun Drastis, Sejumlah Kusir Jadi Buruh Serabutan

  • www.nusabali.com-pengguna-dokar-di-kuta-turun-drastis-sejumlah-kusir-jadi-buruh-serabutan

MANGUPURA, NusaBali
Pandemi Covid-19 berdampak ke semua lini, termasuk kusir dokar di Pantai Kuta, Kelurahan/Kecamatan Kuta, Badung.

Lantaran tidak ada wisatawan yang menggunakan dokar sejak Maret 2020 lalu, puluhan kusir terpaksa banting setir jadi buruh serabutan. Meski demikian, ada juga yang masih setia menunggu meski dibayar murah dan hanya mendapat dua kali orderan dalam seminggu.

Saat ditemui di pangkalan dokar di Pantai Kuta, Kamis (29/10), salah seorang kusir bernama Sun, 61, menerangkan sejak pandemi Covid-19 mencuat pada Maret 2020 lalu, dia sangat merasakan imbasnya. Pasalnya, tidak ada lagi wisatawan yang datang dan menggunakan jasa mereka. Hal ini diperparah karena para kusir yang ada di Pantai Kuta tidak memiliki mata pencaharian lain selain menarik dokar. Walhasil, para kusir tersebut terpaksa mengambil sejumlah pekerjaan serabutan. Hal ini semata untuk menyambung kebutuhan hidup sehari-hari.

“Sejak Maret, kami (kusir) di sini pada tutup semua. Tidak ada lagi yang narik, toh juga tidak ada wisatawan yang datang. Sehingga, banyak yang jadi buruh serabutan,” ungkap Sun, Kamis (29/10) sore.

Diakui oleh pria yang sejak 1990 menjadi kusir di Pantai Kuta, baru kali ini merasakan dampak yang membuat dia dan sejumlah rekannya berpikir keras untuk mendapatkan penghasilan. Semenjak pariwisata ‘tutup’ pada Maret lalu, dia beberapa kali mengambil pekerjaan menjadi buruh bangunan dengan upah Rp 75.000 per hari. Namun, pekerjaan menjadi buruh bangunan itu hanya sebentar karena pembangunan juga ikut dihentikan.

“Banyak (kerjaan) yang kami ambil. Saya sudah beberapa kali jadi buruh. Tapi, itu tidak lama dan cari pekerjaan lain lagi,” kata Sun.

Padahal, menurut Sun, sebelum pandemi Covid-19 ini, dia dan 40 kusir lainnya yang mangkal di Kuta dikatakan serba berkecukupan. Sebelumnya mereka bisa menghasilkan uang sekitar Rp 150.000 hingga Rp 200.000 sehari, tergantung orderan. Namun, untuk mendapatkan uang sebesar itu saat ini sangat sulit. “Boro-boro mau dapat segitu saat ini, untuk makan saja kita mengharapkan sumbangan sembako dari orang lain. Ya, tunggu uluran tangan dari mereka yang berada,” ucapnya yang diiyakan oleh rekannya bernama Kurnia, 38.

Masih menurut Sun, sejak dibuka kembali aktivitas untuk dokar pada awal Oktober lalu, dia dan 4 rekannya memilih untuk mangkal, sementara rekannya yang lain masih menunggu situasi membaik. Meski sudah mangkal, sejauh ini masih kesulitan untuk mendapatkan wisatawan yang menggunakan jasa mereka. Bahkan, dalam sepekan, dia dan rekan-rekannya hanya bisa menarik 2 kali saja.

“Baru berlima saja yang mulai beroperasi. Kalau rekan-rekan yang lain masih kerja serabutan. Kalau kami di sini (yang sudah mangkal) belum tentu ada orderan. Bahkan bisa sampai seminggu nggak ada orderan. Kalau ada, itu pun tarifnya cuma Rp 25.000. Ya, terpaksa kita ambil untuk memenuhi kebutuhan hidup,” tuturnya.

Dia berharap pandemi berlalu, sehingga bisa menafkahi keluarga termasuk memberi makan kuda yang digunakan untuk menarik dokar dengan layak. “Kalau dulu, kami biasa memberi makan kuda dengan dedak, harganya lumayan mahal. Tapi, karena semuanya sudah kekurangan, terpaksa kudanya kami beri ampas tahu, karena harganya jauh lebih murah yaitu Rp 10.000 per ember kecil. Itu pun hanya diberikan sekali dalam sehari,” kata Sun. *dar

Komentar