nusabali

Prof Ramantha Dorong Kembangkan Sektor Keuangan di Bali

Menyikapi Pandemi Covid-19 yang Belum Mereda

  • www.nusabali.com-prof-ramantha-dorong-kembangkan-sektor-keuangan-di-bali

Dengan adanya sektor Keuangan, maka Bali akan memiliki empat pilar penyangga perekonomian yang memiliki kekuatan seimbang.

DENPASAR, NusaBali.com
Dimulainya era adaptasi kehidupan baru memang kembali menggeliatkan aktivitas perekonomian Bali, meski tak serta merta kembali menghidupkan ekonomi Bali seperti sedia kala. Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana, Prof Dr I Wayan Ramantha MM, mengungkapkan bahwa era adaptasi kehidupan baru tidak terlalu banyak berarti bagi pemulihan ekonomi dalam jangka waktu pendek. Sebagai catatan, era adaptasi kehidupan baru yang sebelumnya dikenal dengan istilah new normal memang mesti dilakukan dengan memprioritaskan kesehatan.  

“Ekonomi akan lebih cepat pulih kalau masyarakat sehat. Saat ini ekonomi Bali sedang belajar (reorientasi) dari dominasi sektor pariwisata menuju ke penyangga yg lebih seimbang antara Pariwisata, Pertanian dan UMKM. Kinerja ketiga sektor ekonomi itu tdk bisa dalam jangka pendek merubah pertumbuhan ekonomi kita yang saat ini minus 10% lebih,” ungkapnya pada NusaBali, Sabtu (12/9).

Sementara itu, di samping ketiga sektor ini, terdapat satu sektor lagi yang perlu dikembangkan, yakni sektor Keuangan. Dengan adanya sektor Keuangan, maka Bali akan memiliki empat pilar penyangga perekonomian yang memiliki kekuatan seimbang. Sektor ini, lanjut Wayan Ramantha, merupakan suatu sektor yang potensial. Sebab, sektor ini dijalankan secara online sehingga mengurangi pertemuan langsung. 

Salah satu negara yang telah menerapkan ini, yakni Singapura, yang menjadi pusat keuangan dunia secara online. “Bali punya potensi ke arah itu. Bali memiliki lembaga keuangan mikro yang sangat terkenal di dunia dengan karakter masyarakat yang jujur dan modal sosial yang tinggi,” lanjutnya.

Diperkirakan, butuh waktu kurang lebih lima tahun untuk membangun sektor Keuangan tersebut. “Mesti direncanakan ke arah itu dari sekarang karena memerlukan waktu lima tahun lebih kalau menuju ke arah itu. Sama seperti kita mau mengembangkan sektor pertanian, ini sudah 50 tahun kita lakukan, tapi sampai saat ini belum bisa berperan sebagai penyangga seperti yang kita harapkan,” papar Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana ini. 

Kendati demikian, jumlah kasus Covid-19 akhir-akhir ini mengalami peningkatan yang signifikan. Situasi ini tak hanya dihadapi Bali, namun juga wilayah-wilayah lainnya, seperti DKI Jakarta. Menanggapi situasi ini, DKI Jakarta dikabarkan akan kembali melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). 

Sementara itu, wilayah Bali menjadi termasuk salah satu wilayah yang disarankan untuk melakukan PSBB oleh para pakar. Wayan Ramantha yang sependapat dengan usulan ini menyebutkan, ini tak lepas dari masifnya penularan Covid-19 yang disebabkan oleh protokol kesehatan yang tidak ditaati oleh masyarakat Bali yang heterogen. 

Apalagi, dengan adanya klaster-klaster penyebaran Covid-19, misalnya pada upacara adat dan perkantoran dengan tingkat penularan yang masif sehingga wacana PSBB pun kembali berdengung. “Ya kita harus memilih, fakta empiriknya pada saat PKM (Pembatasan Kegiatan Masyarakat, red) yang meninggal di Bali dibawah 10 orang, setelah new normal kenaikannya sangat signifikan bahkan sempat 14 orang dalam sehari,” jelasnya.

Memang tak bisa dipungkiri, bahwa pembatasan kegiatan masyarakat membuka peluang untuk kembali melemahnya ekonomi yang sembat bergerak. Namun seperti yang ditegaskan oleh Wayan Ramantha, bahwa perekonomian akan lebih cepat pulih jika masyarakatnya sehat. “Dalam masyarakat yang sehat ada ekonomi yang kuat,” tegasnya.*cr74

Komentar