nusabali

Berkat Bisnis Siap Kurungan Impor, Ayahnya Sembuh dari Sakit

Putu Agus Hendra Manik, Camat Pupuan yang Punya Hobi Unik Pelihara Ratusan Ayam Jago Impor

  • www.nusabali.com-berkat-bisnis-siap-kurungan-impor-ayahnya-sembuh-dari-sakit

Sebelum pandemi Covid-19, dalam sebulan Putu Agus Hendra Manik bisa jualan siap kurungan impor sampai Rp 60 juta. Namun, sejak pandemi dalam 5 bulan terakhir, dia alami kerugian Rp 70 juta

TABANAN, NusaBali

Tak banyak orang tahu, Camat Pupuan, Tabanan, Putu Agus Hendra Manik, 44, memiliki hobi unik. Dia memelihara ratusan siap kurungan (ayam jago) impor di rumahnya kawasan Banjar/Desa Mangesta, Kecamatan Penebel, Tabanan. Usut punya usut, hobi unik ini digeluti setelah ayahnya berhasil sembuh dari sakit karena terapi ayam.

Putu Agus Hendra Manik mengaku geluti bisnis siap kurungan impor, untuk meneruskan usaha ternak ayam jago ayahnya, I Nyoman Suteja. Sang ayah yang seorang bebotoh tajen (sabung ayam) sempat sakit, lalu putuskan beternak ayam indukan impor dari Filipina dan Amerika Serikat sejak tahun 2010 silam.

Seiring perjalanan waktu, ternak ayam impor yang digeluti ayahnya mulai menemukan celah bisnis. Sayangnya, Nyoman Suteja kembali sakit parah tahun 2014 hingga harus menjalani operasi jantung. Sejak itulah Putu Agus Hendra Manik mulai merawat ternak ayam impor peliharaan ayahnya. Kegiatan merawat ayam impor dilakukan Hendra Manik di sela kesibukan dinasnya yang saat itu menjabat sebagai Camat Penebel.

“Saya bantu kasi makan, karena bapak harus bolak balik ke rumah sakit selama sebulan. Tahun 2014 itu sebenarnya saya tidak tahu urusan ayam, hanya bantu saja dulu,” kenang Hendra Manik kepada NusaBali di kediamannya, Minggu (23/8) lalu.

Selama mengurus ayam ayahnya, ternyata Hendra Manik mulai me-rasakan ketertarikan untuk berternak ayam impor ini. Apalagi, penualan siap kurungan pada tahun 2014 sangat laris di mana ayam laku dijual Rp 250.000 sampai Rp 500.000 per ekor.

Nah, setelah sang ayah selesai operasi jantung, Hendra Manik kemudian membuat kandang ayam yang lebih besar disertai dengan pengembangan ayam jenis lain, namun masih impor. Ajaibnya, kata Hendra Manik, berkat dibuatnya kandang yang lebih luas, ayahnya justru sembuh dari sakit jantung. “Bapak sembuh berkjat terapi ayam,” jelas Hendra Manik, yang menjabat sebagai Camat Pupuan sejak 2017.

Menurut Hendra Manik, ayahnya semula tidak berani ketemu orang, tak berani naik motor dan mobil, namun sekarang bisa nyetir sendiri gara-gara terapi ayam. “Jadi, terapi ayam ini sangat membantu kesembuhan bapak saya. Sebab, ayam dijadikan hiburan. Sekarang bapak sudah bisa nyetir sendiri, meskipun harus minum obat,” papar lulusan Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Mataram tahun 1998 ini.

Maka, sejak saat itu Hendra Manik mulai getol menekuni bisnis ayam jago impor di rumahnya. Selain bisa menjadi terapi sang ayah, bisnis ini cukup menjanjikan karena hasilnya sangat luar biasa. Periode 2015-2018, hasil penjualan rata-rata kisaran Rp 40 juta-Rp 60 juta per bulan.

Saat ini, ada 300 ekor ayam jago hingga indukan yang dipelihara Hendra Manik. Beberapa di antaranya ayam impor Amerika Serikat jenis pure black mamba, pure black bonanza, dan pure black marte. “Untuk ayam jenis ini, harganya sampai Rp 7 juta per ekor,” beber camat kelahiran 8 Januari 1976 ini.

Sedangkan ayam jago impor Filipina yang dipelihara Hendra Manik, antara lain, jenis pilifin, dom hart, black grey, white sambuanga, dan spangle. Harganya bervariasi kisaran Rp 1 juta-Rp 7 juta per ekor.

Karena mengembangkan ayam jago impor, maka kandang yang dibuat adalah style Amerika. Rumah ayam dibuat berbentuk segitiga dalam ukuran kecil dan pendek, dengan kondisi ayam langsung bisa sentuh tanah. “Jadi, ayam jago yang sudah mulai bisa diikat di kandang style Amerika ini adalah umur 6 bulan,” kata Hendra Manik, yang sempat selama 7 tahun menjadi Camat Penebel (2010-2017).

Hendra Manik menyebutkan, di tengah pandemi Covid-19 ini, bisnis siap kurungan impornya ikut terimbas. Selama 5 bulan terakhir, dia bahkan mengalami kerugian sekitar Rp 70 juta. Masalahnya, nyaris tidak ada yang beli ayam sekarang. Padahal, sebelum pandemi Covid-19, dalam sebulan dia bisa menjual 10-20 ekor ayam impor. “Sekarang mau jual dengan harga Rp 1 juta saja susah,” keluhnya.

Untuk menekan jangan sampai kerugian semakin membengkak, Hendra Manik pilih mengurangi jumlah ayam induknnya. “Banyak ayam indukan dipotong, untuk hemat biaya. Tetapi, ayam jagonya kita pelihara, karena semakin tua harganya kian mahal,” beber ayah tiga anak dari pernikahannya dengan Ni Wayan Astri Ardiyani ini.

Putu Agus Hendra Manik sendiri mengawali kariernya di birokrasi sejak lulus IPDN Mataram tahun 1998. Kariernya melejit sejak diangkat menjadi Sekretaris Kecamatan (Sekcam) Selemadeg Timur, Tabanan tahun 2004. Setelah 3 tahun bertugas di sana, Hendra Manik dialihkan menjadi Sekcam Selemadeg pada 2007.

Pada 2008, Hendra Manik dialihkan menjadi Kasubag Otonomi Daerah Setda Kaupaten Tabanan. Jabatan itu dipegang selama setahun, sebelum kemudian promosi menjadi Camat Penebel pada 2010. Terakhir, Hendra Manik dialihkan menjadi Caat Pupuan sejak 2017. *des

Komentar