nusabali

Disney+ Bakal Masuk Indonesia 5 September, Babak Baru Dunia Perfilman

  • www.nusabali.com-disney-bakal-masuk-indonesia-5-september-babak-baru-dunia-perfilman

DENPASAR, NusaBali
Tak bisa dipungkiri, pandemi turut memberikan dampak masif bagi dunia perfilman. Mulai dari ditutupnya bioskop, hingga anjuran untuk berdiam diri di rumah yang membuat masyarakat membutuhkan akses hiburan melalui gawai masing-masing.

Seiring dengan kebutuhan hiburan tersebut, di Indonesia sendiri sudah terdapat beberapa aplikasi penyedia layanan streaming, seperti Iflix yang berasal dari Malaysia, Viu yang jadi favorit para pecinta drakor, Netflix yang punya segudang series original hit dunia, hingga Hooq yang kini sudah pamit. 

Nah, aplikasi-aplikasi penyedia layanan streaming ini bakalan kedatangan pesaing baru di bulan September 2020 mendatang. Dialah Disney+, aplikasi layanan streaming milik perusahaan raksasa Disney. Kabar masuknya Disney+ ke Indonesia sendiri diumumkan melalui media sosial Disney+. “Apakah kalian sudah siap, Indonesia? Mulai streaming 5 September,” demikian dikutip dari akun Twitter resmi Disney+ Hotstar ID. 

Sejak Disney+ pertama kali diluncurkan pada November 2019 lalu, layanan ini sendiri sudah menjangkau beberapa negara, seperti Amerika, Australia, Austria, Kanada, Prancis,Jerman, India, Irlandia, Italia, Jepang, Monako, Belanda, Selandia Baru, Puerto Riko, dan Inggris. Kemunculannya di Indonesia bakal menjadikan Indonesia sebagai negara Asia Tenggara pertama yang disambangi Disney+. 

Di Indonesia sendiri, Disney+ akan hadir dengan nama Disney+ Hotstar, di mana Hotstar merupakan sebuah layanan streaming mitra Disney+ yang berbasis di India. Disney+ Hotstar terbentuk pada Maret 2020, yang berujung pada sukses besarnya kemitraan Disney+ dengan Hotstar. Dikutip dari media Partners Asia, Disney+ Hotstar kemungkinan akan menjadi platform video terbesar kedua di India setelah YouTube. 

Pengumuman hadirnya Disney+ ke Indonesia sendiri sontak menuai beragam reaksi netizen. Ada yang menyambut gembira, ada pula yang mengkhawatirkan nasib bisnis bioskop. Seperti Ernest Prakasa dalam cuitannya di Twitter yang mengungkapkan Disney+ yang bakal menjadi game changer. “The one player that’s gonna change the entire game. Bakal seru nih,” cuitnya. 

Pengumuman mengenai Disney+ ini dibarengi juga dengan pengumuman terbaru bahwa sehari sebelum Disney+ dirilis di Indonesia, yakni 4 September, film live action Mulan bakalan dirilis melalui platform streaming tersebut, dan bukannya di bioskop. Hadirnya film Mulan di Disney+ memang di satu sisi terlihat wajar, mengingat film ini telah diundur jauh dari tanggal rilis seharusnya sebagai dampak dari pandemi Covid-19. 

Disambut Gembira, Namun Waspada Pembajakan

Kedatangan Disney+ juga terutama disambut baik oleh para netizen Indonesia yang tinggal di daerah yang tidak terjangkau layanan bioskop. Bagi para penggemar film yang jauh dari bioskop, selama ini seolah selalu ketinggalan euphoria setiap ada film terbaru yang hits. Untuk menonton pun, banyak dari masyarakat yang menjadikan layanan streaming film secara illegal sebagai pilihan. 

Tapi tunggu dulu. Berbicara soal menonton film secara illegal, rasanya pasti bakal ada saja oknum-oknum nakal yang bisa membajak film-film ini, secanggih apapun aplikasi yang digunakan. Di bioskop saja, ada banyak penonton nakal yang diam-diam merekam jalanny film. Kemungkinan, melalui aplikasi streaming, penonton sendiri akan mencoba memanfaatkan fitur screenshot atau rekaman layar pada jenis gawai tertentu selama menonton film. 

Kalau melalui Netflix sendiri, pengguna tidak bisa tuh, menangkap layar untuk mengabadikan momen-momen tertentu dalam tayangan tersebut. Lalu, apakah Disney+ di Indonesia juga akan menerapkan hal yang sama? Kita lihat nanti.

Akses dan Harga

Di Indonesia, Disney+ sendiri akan tersedia dengan biaya berlangganan sebesar 6,99 Dolar AS, atau Rp 101.857. Harga ini tentu lebih mahal dari layanan Netflix yang biaya berlangganannya sebesar Rp 49.000 sebulan, atau Iflix yang dimulai dari Rp 39.000 sebulan, bahkan Viu yang harga berlangganannya dimulai dari Rp 15.000 hingga Rp 30.000 per bulan. 

Belum lagi, menyusul pengumuman bahwa film-film baru Disney seperti Mulan yang akan ditayangkan di Disney+, akan diterapkan sistem video on demand, yang berarti ada harga lain yang harus dibayar untuk mengakses film tersebut. Belum lagi, harga ini juga diperkirakan akan mengalami kenaikan karena adanya pajak pertambahan nilai (PPN) sebesar 10%, dikutip dari Kompas.

Layaknya Telkomsel yang menggaet ‘almarhum’ Hooq namun memblokir Netflix, ada kemungkinan juga Disney+ menggaet salah satu internet provider di Indonesia. Jika hal yang sama terjadi, ada kemungkinan netizen akan mendapat kemudahan akses atau promo jika menggunakan provider tertentu. Namun, hal ini sendiri belum dapat dipastikan. 

Menggeser Bioskop?

Terlepas dari adanya sistem video on demand bagi film baru, hadirnya Disney+ ke Indonesia sendiri akan menjadi game changer dalam dunia perfilman. Bagaimana tidak, layanan streaming online termasuk pada film-film baru seperti Mulan, akan menjadikan penonton beralih dari bioskop ke tontonan di gawai masing-masing. 

Apalagi, Disney merupakan salah satu perusahaan raksasa di bidang hiburan dengan konten cenderung menyasar anak-anak atau keluarga. Tak hanya itu, Disney juga melebarkan sayapnya dengan anak-anak perusahaan di bawah Disney, seperi ABC, Pixar, hingga Marvel yang saat ini merajai box office dunia. Ini berarti, sebagian besar film-film top dunia dimiliki oleh Disney, yang notabene akan ditampilkan di Disney+.

Ditambah dengan situasi pandemi seperti ini yang membuat bioskop belum memiliki kepastian kapan akan dibuka kembali. Sebelumnya, bioskop sempat akan dibuka kembali pada tanggal 29 Juli 2020 menyusul era adaptasi kebiasaan baru, namun rencana ini pun pupus dengan pandemi yang tak kunjung reda. Bisa jadi, layanan streaming seperti Disney+ benar-benar akan menjadi gaya hidup baru bagi masyarakat.

Tapi rasanya sayang, kalau mengingat adanya euforia yang dirasakan saat film yang ditunggu-tunggu akhirnya tayang di bioskop. Bayangkan, misalnya saat Avengers: Endgame dirilis pada 2019 lalu, antrean tiketnya bahkan dimulai sejak subuh di jam pertama film tersebut ditayangkan, dengan ramainya penonton yang menggunakan merchandise berlogo Marvel atau Avengers untuk menonton film tersebut. Lalu, belum lagi saat adegan tertentu yang membuat penonton bersorak-sorai hingga mengharu-biru bersama di bioskop. Rasanya sayang, kalau euforia ini tergantikan menjadi diskusi penuh spoiler di sosial media karena film yang ditayangkan melalui layanan streaming.*cr74

loading...

Komentar