nusabali

150 Ha Lahan Pertanian Beralih Fungsi

  • www.nusabali.com-150-ha-lahan-pertanian-beralih-fungsi

Luas lahan pertanian di Buleleng 47.845 hektare, terdiri dari 10.789 hektare sawah dan 37.056 haktare tegalan.

SINGARAJA, NusaBali

Sembilan subak di Buleleng, perwakilan dari masing-masing kecamatan unjuk gigi dalam lomba subak tahun 2016. Lomba ini salah satu bentuk pembinaan dan pelestarian sekaligus menekan laju alih fungsi lahan pertanian.

Terkait itu, luas lahan pertanian di Buleleng 47.845 hektare, terdiri dari 10.789 hektare sawah dan 37.056 haktare tegalan. Namun alih fungsi lahan pertanian di Buleleng per tahun 2014 mencapai 150 hektare.

Dalam lomba itu, para petani masing-masing subak menampilkan sistem pengelolaan organisasi subak, sistem pertanian, tradisi irigasi warisan dari zaman ke zaman. Tradisi ini dipadukan dengan upacara Hindu dan adat istiadat Bali.

Sembilan subak tersebut merupakan sebagian kecil dari ratusan subak yang masih eksis di Buleleng hingga saat ini. Hal tersebut tersirat saat pelaksanaan lomba subak se-Buleleng di Subak Bengkel, Desa Pakraman Bengkel, Desa Bengkel, Kecamatan Busungbiu, Buleleng, Rabu (21/9). Masyarakat yang merupakan anggota subak, tumpah ruah datang ke pura subak yang mereka sungsung.

Rabu (21/9), ditemui di sela-sela lomba subak, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Buleleng Nyoman Sutrisna, mengatakan kelestarian subak sampai saat ini masih tetap dipertahankan di tengah ancaman alih fungsi lahan. Hingga saat ini di Buleleng ada 203 subak abian dan 308 subak sawah dari 169 desa pakraman. Subak-subak tersebut hingga saat ini masih tetap eksis mempertahankan budaya, adat dan tradisi sejak zaman dulu.

Kata dia, pengelolaan organisasi subak masih menjunjung tinggi nilai gotong royong. Tata cara penanaman padi juga selalu didahului dengan upacara untuk memperlancar dan mendapatkan hasil terbaik. Upaya pelestarian subak di Buleleng terus dilakukan dengan melakukan stimulan kepada petani. Stimulan itu baik dari pemberian bantuan dan pendampingan dari Dinas Pertanian dan Peternakan untuk meraih hasil penen lebih maksimal.

Sedangkan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata terus memotivasi subak agar terus melestarikan subak. Subak mendapatkan bantuan dari Pemprov Bali melalui dana Bantuan Keuangan Khusus (BKK) Rp 50 juta. Dana ini dapat dipakai untuk biaya operasional, budidaya, dan upacara. Sebagian juga dapat digunakan untuk perbaikan fisik pura subak, jalan setapak dan saluran irigasi. “Dengan kegiatan ini kita terus bangkitkan dan gelorakan kembali semangat bersubak di tengah modernisasi,” harap dia.

Kata Sutrisna, keuntungan subak ditetapkan menjadi warisan dunia yakni lebih mendapatkan perhatian pemerintah, terutama bantuan infrastruktur  irigasi, subsidi pupuk, dan bantuan sarana pertanian.  * k23

Komentar