nusabali

Pindang Kusamba, Diolah Tradisional Citarasa Gurih

  • www.nusabali.com-pindang-kusamba-diolah-tradisional-citarasa-gurih

SEMARAPURA, NusaBali
Desa Kusamba Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung memang sebuah desa nelayan. Namun bukan sekadar desa nelayan. Kusamba merupakan tempat pemindangan ikan terbesar di Bali.

Berton-ton ikan, khususnya ikan tongkol diolah jadi ikan asin atau  pindang oleh puluhan pemindang. Tempatnya di Bangsal Pemindangan di Pantai Segara Kusamba.

“Pindang Kusamba memang sudah terkenal gurih dan enak,” ujar Ni Nengah Jiwi seorang buruh memasak pindang, Jumat (19/6). Ditemani I Gusti Biang Budiasih, buruh lainnya Jiwi menuturkan setidaknya perlu waktu 4 jam untuk memproses bahan baku yang sebagian ikan tongkol sampai matang menjadi be/ikan pindang. Mulai dari mencuci, membersihkan, menggarami dan proses terusannya dan memasak sampai matang sehingga siap jadi pindang untuk dipasarkan. “Nggih cukup lama,” ucap Jiwi.

Menurut penuturan para pemindang, cara pengolahan yang tradisional serta pemanfaatan tumbuhan tertentu seperti daun salam dan jenis tumbuhan lainnya menyebabkan pindang Kusamba memiliki cita rasa beda dengan pindang produksi di tempat lain. “Selain itu, untuk memasaknya tetap menggunakan kayu bakar. Ini juga memberi aroma yang khas,” ujar Komang Suidep, seorang pelaku usaha pindang lainnya.

Suidep menuturkan rata-rata sehari, dia memindang  antara 700-800 kranjang. Jumlah tersebut setara dengan 1 ton lebih ikan. Untuk saat ini pasokan bahan baku cukup stabil. Demikian juga harganya. Menurut Suidep, harga per kilo berkisar antara Rp 13.000 sampai Rp 14.000 ribu. “Lumayan cukup,” ujarnya.

Bahan baku merupakan hasil tangkapan nelayan setempat, yakni Kusamba dan Nusa Penida (Klungkung). Juga tangkapan nelayan dari daerah lain di Bali. Mulai dari Karangasem, Kedonganan( Badung). Termasuk kalau bahan baku demikian seret  pemindang mendatangkan bahan baku dari Jawa. Bahan baku dari Jawa, biasanya dalam kondisi beku. “Biasanya jika kondisi cuaca di laut buruk, menyebabkan nelayan tak bisa melaut,” ujar buruh lainnya. *k17

loading...

Komentar