nusabali

Produksi Sampah di Badung Turun 52 Persen

Wilayah Badung Selatan Masih Jadi Penyumbang Terbanyak

  • www.nusabali.com-produksi-sampah-di-badung-turun-52-persen

MANGUPURA, NusaBali
Selama pandemi Covid-19 ini, produksi sampah di wilayah Badung mengalami penurunan sekitar 52 persen per harinya.

Hal ini disebabkan sejumlah akomodasi pariwisata sudah berhenti atau mulai mengurangi aktivitas mereka. Meski ada penurunan, wilayah Badung Selatan yakni Kuta dan Kuta Selatan masih menjadi penyumbang sampah terbanyak.

Kepala Bidang Pengelolaan Kebersihan dan Limbah Bahan Berbahaya Beracun, Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Badung AA Gede Agung Dalem, menerangkan sebelum adanya wabah global Covid-19, produksi sampah per hari di Badung mencapai 285 ton. Namun, saat ini hanya berada di kisaran 138 ton per hari atau 48 persen dari normal harian. “Sampah yang kami ambil dari seluruh wilayah Badung saat ini hanya di kisaran 48 persen, atau turun 52 persen dibanding sebelum Covid-19,” tuturnya, Kamis (14/5) siang.

Menurut Gung Dalem, sapaan AA Gede Agung Dalem, pengambilan kisaran 138 ton per hari itu karena sampah yang dihasilkan selama masa pandemi ini fluktuatif. Seperti pencatatan pada Minggu (10/5) lalu berbeda dengan Senin (11/5). Pada pencatatan hari Minggu hanya 95,68 ton dari seluruh wilayah Badung. Namun, pada Senin mencapai 165,56 ton. Untuk rincian pada Senin, dari wilayah Badung Selatan yakni Kecamatan Kuta Selatan sebanyak 43,5 ton dan Kecamatan Kuta sebanyak 56,1 ton. Sementara, untuk wilayah Kecamatan Kuta Utara 36,465 ton, wilayah Mengwi 27,72 ton, dan wilayah Abiansemal 1,98 ton.

“Sifatnya fluktuatif, makanya kita ambil penurunannya di 52 persen dari produksi sampah pada hari normal,” ungkap Gung Dalem.

Terkait jenis sampah yang dihasilkan saat pandemi ini, dia mengakui yang dominan sampah organik sebesar 55 persen dan non organik 45 persen. Sampah tersebut keseluruhan diangkut ke TPA Suwung (TPA Sarbagita) di Denpasar Selatan. Penyebab turunnya produksi sampah ini karena pihak manajemen akomodasi pariwisata seperti hotel, vila, restoran, dan lainnya mengurangi produksi bahkan menutup tempat usaha. Secara otomatis, hal ini membuat produksi sampah berkurang. “Kalau penurunan ini sudah berlangsung sejak Februari lalu, karena banyak akomodasi wisata yang tidak beroperasi,” ungkap Gung Dalem. *dar

Komentar