nusabali

Tubuh dan Alam Sehat?

Shatum vo amba dhāmāni sahastramuta vo ruhaha, Adhā shatakratyo yuyamimum megadum kurta. (Yajurveda, 12.76)

  • www.nusabali.com-tubuh-dan-alam-sehat

Tubuh adalah alat utama dalam meraih tujuan. Untuk itu, kesehatan mesti terus dijaga dengan cara diet yang benar, disiplin dalam kegiatan harian, dan perilaku mulia. Hanya badan yang bebas penyakit yang bisa menjadi sumber kebahagiaan.

SEPERTINYA sudah menjadi ketentuan alam bahwa diet yang tepat, disiplin menjalani hidup sehari-hari, dan berperilaku mulia harus menjadi landasan hidup semua orang dalam hal menjaga tubuhnya tetap sehat. Memilih makanan atas apa yang diperlukan tubuh lebih bijaksana ketimbang atas apa yang diinginkan. Sebagian besar dari kita berperilaku sebaliknya, yakni memakan makanan atas apa yang diinginkan pikiran dan bukan atas apa yang dibutuhkan. Di sini lah mengapa Veda menyarankannya demikian. Masalah memilih makanan kelihatannya sederhana karena itu telah menjadi keseharian, tetapi kita kadang abai, tidak mampu membedakan mana kebutuhan dan mana keinginan.

Disiplin harian juga penting, seperti seimbang antara kerja dan istirahat, menjaga rumah tetap bersih dan segar, olahraga teratur, dan mengerjakan pekerjaan rumah secara teratur. Terakhir, perilaku mulia juga asas dari tubuh yang sehat. Mereka yng tidak memiliki perilaku mulia biasanya mengalami berbagai penyakit berat. Mengapa? Karena perilaku mulia bersumber dari hati dan pikiran yang bersih. Hati dan pikiran yang bersih mempengaruhi badan untuk tetap sehat. Demikian sebaliknya, hati dan pikiran yang kotor akan mengotori sistem tubuh. Bisa saja penyakit seperti tekanan darah tinggi, kencing manis, dan kolesterol tidak saja disebabkan oleh diet yang salah tetapi lebih banyak diakibatkan oleh kemarahan, irihati, dan ketamakan. Sifat pemarah, irihati, dan tamak bertentangan dengan kemuliaan sehingga perlu dijauhi atau bahkan dihilangkan.

Ketiga hal tersebut jika bisa dilaksanakan dengan baik akan menjadikan tubuh sehat. Sepertinya hidup sehat itu sederhana. Bahkan, jika ketiga persyaratan hidup sehat itu diaplikasikan ke alam, maka ‘mengambil dari alam hanya apa yang dibutuhkan’ adalah terjemahan yang tepat. Mari kita pelajari satu per satu. Pertama, jika kita makan hanya apa yang dibutuhkan dan bukan atas apa yang diinginkan, tentu tidak akan terjadi over-eating, tidak ada eksploitasi yang berlebihan dari alam. Jika kehadiran manusia tidak eksploitatif terhadap alam, tentu alam akan tetap mampu menjaga keseimbangannya sendiri. Hanya saja, tabiat manusia itu serakah, sehingga kehadirannya sangat disayangkan. Jika alam bisa memilih, ia pasti tidak ingin kehadiran manusia. Namun apa daya, manusia telah bercokol, sehingga alam mengalami kerusakan dini.

Kedua, jika manusia bisa hidup disiplin dengan cara tetap menjaga kesehatan fisik dan mental, mereka tentu sangat memerlukan udara yang segar dan bersih. Agar udara segar dan bersih, pepohonan menjadi kuncinya. Manusia tentu menanam pohon untuk kepentingan itu. Ini adalah perilaku yang sesuai dengan prinsip keseimbangan alam. Namun apa daya, untuk kepentingan konsumsi yang berlebih, mereka malah menebang hutan. Mereka kemudian mengeksploitasi bumi, mengambil kekayaannya untuk kepentingan energi, seperti bahan bakar fosil dan lain-lain. Bisa dibayangkan bencana apa yang akan segera dihadapi. Ketiga, perilaku mulia bisa dikembangkan hanya ketika hati terasah dengan baik. Hati inilah yang membuat orang merasa terhubung dengan yang lain, sehingga mereka memiliki pengetahuan akan pentingnya men-threat orang lain seperti dirinya sendiri. Pengetahuan ini pasti mengalami perluasan tidak saja atas sesamanya, tetapi atas semua alam beserta isisnya. Kembali ini adalah perilaku yang selaras dengan hidup seimbang. Hanya saja, manusia terlalu kering hatinya dan abai untuk mengasahnya. Benda-benda, bahkan sesamanya bisa dijadikan komoditas atau objek keserakahannya. What next? Tentu kehancuran, tidak ada yang lain.

Bisakah manusia tetap menjaga dirinya sehat beserta alam yang ditumpanginya sehat? Bisa, tetapi tidak mau. Bagaimana caranya agar manusia mau melakukannya? Tidak ada cara apapun. Kesadaran manusia tidak bisa ditumbuhkan dari nasihat, imbauan atau aturan. Bukankah banyak manusia yang sadar akan hal tersebut dan melakukan banyak hal? Masih lebih banyak yang tidak sadar. Bahkan walaupun mereka sadar, kesadarannya itu bukanlah untuk kepentingan alam, melainkan hanya untuk kepentingan dirinya supaya lebih lama bisa bertahan hidup di alam. Apakah Covid-19 ini peringatan? Bisa saja, tetapi no way untuk manusia. *

I Gede Suwantana  
Direktur Indra Udayana Institute of Vedanta

loading...

Komentar