nusabali

Eks Komisioner KPID Ujian Doktor Pertama Lewat Online di FP Unud

Muliarta Temukan Dekomposer Lokal Pengurai Jerami Padi

  • www.nusabali.com-eks-komisioner-kpid-ujian-doktor-pertama-lewat-online-di-fp-unud

Dr I Nengah Muliarta SSi MSi mengakui sidang terbuka ujian Doktor awalnya dijadwalkan 6 April 2020 lalu. Namun, karena ada surat edaran dan juga arahan pemerinah untuk tetap belajar, bekerja, dan beribadah dari rumah, maka jadwal sidang ditunda, sampai akhirnya bisa dilaksanakan secara online

DENPASAR, NusaBali

Mantan Komisioner Komisi Penyiaran Indonesaia Daerah (KPID) Bali, Dr I Nengah Muliarta SSi MSi, 41, menjadi peserta ujian Doktor terbuka pertama lewat online di Fakultas Pertanian Unud. Dosen Fakultas Teknik Industri Universitas Mahendradatta Denpasar ini berhasil meraih gelar Doktor, setelah berhasil mempertahankan disertasi berjudul ‘Pengelolaan Limbah Jerami Padi untuk Meningkatkan Kesuburan Tanah dan Hasil Padi’, Selasa (21/4). Dalam penelitiannya, dia berhasil temukan dekomposer lokal pengurai jerami padi.

Sidang ujian Doktor Nengah Muliarta hari itu dipimpin lamngsung Dekan Fakultas Pertanian Unud, Dr Ir I Nyoman Gede Ustriyana MM, didampingi Promotor Prof Ir IGA Mas Sri Agung MRurSc PhD, Kopromotor I Prof Dr Ir I Made Adnyana MS, Kopromotor II Dr Ir I Wayan Diara MS. Sebagai Peyanggah adalah Prof Dr Ir I Made Sudana MS, Dr Ir I Ketut Sardiana MSi, Dr Dra Retno Kawuri MPhil, Prof Dr I Gusti Ngurah Santosa MS. Sementara undangan akademik terdiri dari Dr Sukewijaya, Dr Tri Gunarsih, dan Dr Sri Sumarniasih.

Dekan Fakultas Pertanian Unud, Dr Ir I Nyoman Gede Ustriyana MM, mengatakan pelaksanaan ujian promosi Doktor secara online ini menjadi yang pertama kalinya. Langkah ini dilakukan mengingat kebijakan belajar dari rumah di tengah pandemi Covid-19. “Ini merupakan konsekuensi logis dari pandemi Covid-19, bahwa proses belajar harus tetap berjalan dan teknologi juga mendukung. Karena itu, tidak ada alasan kita untuk terganggu oleh Covid. Unud juga jauh-jauh hari sudah memperiapan perangkat sarana prasarana pembelajaran online” ujar Dr Ustriyana.

Menurut Ustriyana, yang terpenting dari pelaksanaan promosi Doktor yaitu temuan dari peneliti atau calon Doktor tersebut dapat diketahui oleh kalangan luas. Dalam ujian terbuka secara online karena keterbatasan teknologi, maka promosinya terbatas pada kalangan akademisi. Misalnya, akibat keberagaman provider yang digunakan, kualitas suara dan gambar juga berbeda. Keterbatasan lainnya, adalah aplikasi yang digunakan dalam menampung jumlah peserta.

Ustriyana juga mengakui bahwa salah satu kendala dalam pembelajaran online adalah kesiapan SDM. Pasalnya, belum semua tenaga pengajar mampu mengikuti perkembangan teknologi yang sangat cepat. “Bahwa tidak semua SDM kita melek dengan teknologi, karena kemunculannya tidak berbarengan dengan kelahiran para dosen, itu wajar, manusiawi,” katanya.

Sementara, Nengah Muliarta mengakui sidang terbuka ujian Doktor awalnya dijadalkan 6 April 2020 lalu. Namun, karena ada surat edaran dan juga arahan pemerinah untuk tetap belajar, bekerja, dan beribadah dari rumah, maka jadwal sidangnya ditunda. “Kemudian, ada surat dari Rektor yang membolehkan ujian secara online, maka promotor saya mengusulkan agar bisa secara online. Para penguji menyatakan siap menguji lewat online,” tutur Muliarta yang notabene mantan wartawan kepada NusaBali.

Disebutkan, pada 20 April 2020 sempat dilakukan ujicoba. Namun, saat pelaksanaan sidang, 21 April 2020, memang terjadi kendala jaringan internet dan aplikasi yang digunakan melambat, karena banyaknya orang yang mengakses di waktu yang sama. “Yang masuk ke aplikasi itu banyak, sehingga aplikasi menjadi lambat. Ketika mau share bahan ujian, tidak semua bisa melihat. Kadang power pointnya sudah jalan, suara saya agak lambat ditangkap,” jelas akademisi kelahiran Klung-kung, 21 Januari 1979, asal Banjar Kayehan, Desa Dawan Kaler, Kecamatan Dawan, Klungkung ini.

Meski terbilang cukup bagus sidang terbuka secara online, namun menurut Muliarta, semua memiliki untung rugi. Muliarta kehilangan momen bertatap muka dengan para sahabat sebagaimana ujian secara konvensional. Kendati demikian, dia memaklumi kondisi saat ini yang mengharuskan membatasi aktivitas keluar rumah dan jaga jarak. “Bukan berarti tidak semangat. Kondisi seperti ini kita harus memakluminya,” papar anak kedua dari tiga bersaudara pasangan I Nengah Muja dan Ni Wayan Wati ini.

Nengah Muliarta akhirnya berhasil meraih gelar Doktor setelah mempertahankan disertasi berjudul ‘Pengelolaan Limbah Jerami Padi untuk Meningkatkan Kesuburan Tanah dan Hasil Padi’. Dalam disertasi tersebut, Muliarta melakukan ujicoba pengemposan jerami padi dengan memanfaatkan 2 kombinasi dekomposer lokal Bali.

Menurut Muliarta, 2 kombinasi dekomposer lokal Bali yang digunakan memiliki kemampuan untuk mendekomposisi limbah jerami padi. Dua kombinasi dekomposer lokal Bali yang merupakan kombinasi bakteri dan jamur tersebut diberi nama dekomposer lokal I dan II. Dekomposer lokal I terdiri dari kombinasi Paenibacillus polimyxa, Pseudomonas flourescens, dan Trichoderma hazianum. Sedangkan dekomposer lokal II kombinasi dari  Pseudomonas flourescens, Trichoderma hazianum, dan Aspergilus niger.

“Bakteri dan jamur yang digunakan ini merupakan lokal Bali atau diisolasi dari sumber medianya di Bali. Ada yang diisolasi dari akar tanaman, akar bawang, kotoran sapi dan kotoran ayam  Bali, Dekomposer ini memiliki kemampuan untuk menguraikan limbah jerami padi menjadi kompos,” tandas mantan Komisioner KPID Bali 2014-2017 ini.

Muliarta menyebutkan, kombinasi dekomposer lokal Bali yang ditemukan mampu mempercepat proses pengomposan jerami padi dan menghasilkan kompos berkualitas yang sesuai dengan standar SNI. Hal ini telah dibuktikan melalui ujicoba penelitian, di mana dekomposer lokal I dalam pengomposan selama 35 hari dan pembalikan 7 hari sekali menghasilkan kompos matang dengan rasio C/N mencapai 13,78. Sedangkan dekomposer lokal II mampu menghasilkan kompos matang dengan rasio C/N 14,80.

“Dekomposer ini merupakan dekomposer aerob, sehingga tidak menghasilkan gas metan dan bau, sehingga lebih ramah terhadap lingkungan. Berbeda dengan pengomposan anaerob yang menghasilkan gas metan, tetapi gas metan yang dihasilkan cenderung dibuang. Padahal gas metan memiliki daya rusak 20-30 kali lebih kuat dari CO2,” jelas ayah satu anak dari pernikahannya dengan Made Sumariani ini.

Muliarta memaparkan, ide awal dari penelitianya terinspirasi setelah melihat adanya kecenderungan pembakaran limbah jerami padi yang dilakukan petani. Pada sisi lain, jerami padi merupakan bahan organik yang mengandung unsur hara yang dibutuhkan oleh tanah dan tanaman.

“Membakar jerami padi sama artinya membuang bahan baku pupuk dan menyebabkan petani membutuhkan pupuk lebih banyak lagi pada musim tanam berikutnya,” terang Muliarta, yang menempuh pendidikan S1 Jurusan Fisika Fakultas MIPA Unud (1997-2002), S2 Magister Ilmu Lingkungan Unud (2003-2005), dan S3 Ilmu Pertanian (Pengelolaan Sumber Daya Air & Lahan Pertanian di Fakultas Pertanianb Unud (2015-2020). *ind

Komentar