nusabali

MUTIARA WEDA: Covid-19 dan Patanjali

Nābhicakre kāyavyuhajnānam (Yoga Sutra Patanjali, III. 30).

  • www.nusabali.com-mutiara-weda-covid-19-dan-patanjali

Dengan samyama pada pusar, yogi mencapai pengetahuan sempurna tentang karakter (gerakan dan kejadian) dalam tubuh manusia.

KEHADIRAN virus Corona membuat dunia panik. Setengah lebih dari seluruh negara telah mengkonfirmasi keberadaannya. Beberapa dari mereka bahkan telah me-lockdown wilayahnya untuk memutus rantai penyebaran virus itu. Selama 2 minggu jalanan kota menjadi lengang persis seperti Nyepi di Bali. Tak terkirakan bagaimana kejadian ini berdampak pada ekonomi. Tidak ada pilihan lain, sebab nyawa manusia lebih penting dari apapun. Namun, efeknya tidak saja negatif. Seburuk apapun akibatnya, langit menjadi lebih bersih seiring berkurangnya pembakaran bahan bakar fosil. Kegentingan membuat orang lebih mawas diri. Dalam pertaruhan nyawa, orang mulai memikirkan jalan spiritual. Teks seperti di atas mungkin lebih menarik dipraktikkan atau paling tidak dibaca.

Sutra mengatakan ‘dengan samyama pada nabhi, orang akan memiliki pengetahuan yang sempurna terhadap apa yang terjadi di dalam tubuh’. Yogi yang mempraktikkan samyama ini akan mampu melihat ke dalam tubuhnya sendiri, melihat semua proses yang terjadi di dalam tubuh. Ibarat mesin, tubuh adalah mesin yang sangat kompleks dan dengan berbagai ragam mekanisme yang bekerja. Ia tidak hanya mekanisme tetapi organisme.  Dengan bermeditasi pada nabhi, orang akan mampu melihat mekanisme internal tubuh itu. Tradisi Yogic/siddha sedikit berbeda dengan sains kedokteran modern. Tradisi Yogic/siddha tidak meyakini hasil analisis dari post mortem (mayat). Artinya, pengetahuan tentang metode penyembuhan tidak berdasarkan pada hasil pemeriksaan post mortem (mayat). Untuk mengetahui apa itu hati, jantung, paru-paru, mata, dan organ internal lainnya tidak bersumber dari menganalisa badan yang sudah mati, melainkan dari badan yang masih hidup.

Tradisi ini melihat bahwa jantung tidak lagi jantung kalau tidak hidup, mata tidak lagi mata kalau dia sudah mati. Bahkan mereka melihat bahwa dauh atau bunga jika telah terlepas dari pohonnya tidak bisa dijadikan sebagai obat. Ia bisa menjadi obat hanya ketika masih terhubung dengan batangnya yang hidup. Bunga adalah bunga ketika masih hidup, daun adalah daun ketika masih hidup. Ia hanya tampak seperti daun atau bunga jika sudah terlepas dari pohonnya. Makanya, dalam tradisi siddha, ketika mengambil daun atau bunga dari pohon untuk obat, mereka harus melakukan prana pratishta untuk menjaga daun dan bunga itu tetap hidup. Hanya yang masih memiliki prana yang bisa dijadikan obat. Dengan cara yang sama, untuk mendiagnosa apa yang terjadi di dalam tubuh, orang harus melihat organ-organ itu semasih hidup. Orang akan mengerti apa itu jantung, paru-paru atau hati hanya ketika melihatnya secara langsung pada saat hidup.

Bagaimana caranya? Di sini lah Patanjali memberikan formulanya. Tekniknya sangat sederhana, nābhicakre kāyavyuhajnānam – samyama pada nabhi, maka dia akan memiliki pengetahuan tentang internal tubuh. Dengan mengerti proses mekanik yang terjadi pada tubuh, dia akan mampu mendiagnosa apakah tubuhnya dalam kondisi sehat atau ada benda asing yang masuk. Dengan teknik ini orang akan melihat pergerakan aneh yang ada pada tubuh, tidak terkecuali virus Corona ini. Pengetahuan ini bisa dijadikan sebagai rujukan, tindakan apa yang harus dilakukan selanjutnya. Dengan samyama pada nabhi, orang akan melihat bagaimana fungsi tubuh internalnya dan kemudian mampu mendiagnosa sendiri penyakitnya.

Bagaimana cara mempraktikkan samyama ini? Ini masalah juga, sebab samyama bisa terjadi hanya ketika orang telah menguasai dharana, dhyana, dan samadhi. Namun, hal sederhana bisa dilatih sebagaimana yang diinstruksikan oleh Paramahamsa Nithyananda (dalam Speaking Tree 22 Maret 2011) sebagai berikut: ‘Rentangkan badan dan kaki. Ini bisa juga dilakukan dalam posisi telentang. Ciptakan sebuah lingkaran yang mampu menyentuh keseluruhan tubuh dengan nabhi sebagai titik pusatnya. Ini adalah nabhi cakra vyuha yang menjadi pusat meditasi. Meditasi dilakukan pada keseluruhan cakra ini, tidak hanya pada pusatnya saja. Rasakan energi lingkaran yang terpusat pada pusar (nabhi) menyentuh kaki dan tangan. Rasakan keseluruhan cakra ini dan inilah yang menjadi pusat meditasi’. Paramahamsa mengatakan bahwa, jika latihan ini dilakukan secara benar, dalam sebulan orang akan melihat aliran energi mengalir ke nabhi, dan berbagai kebenaran dalam tubuh bisa dilihat. *

I Gede Suwantana
Direktur Indra Udayana Institute of Vedanta  

Komentar