nusabali

Mencegah Sampah Upakara Tak ke TPA

Ketika Ratusan Biopori Berjejer di Natar Pura

  • www.nusabali.com-mencegah-sampah-upakara-tak-ke-tpa

Masih banyak masyarakat dengan pemikiran lama, menyapu sampah, mengumpulkan, masuk kampil, ikat, lalu buang ke TPA.

GIANYAR, NusaBali

Tumpukan sampah upakara di jaba pura baik karena piodalan maupun karya, kerap membuat lingkungan sekitar kumuh bahkan jorok. Ujung-ujungnya sampah ini harus dibuang ke TPA. Biaya angkutnya pun tak kecil, belum lagi pengelola TPA dibuat kelabakan, hingga sangat merepotkan.

Padahal khusus sampah organik bekas upakara di pura, sangat mudah dikelola. Apa yang dilakukan Komunitas Peliatan Ngogo (Pego Community), Desa Peliatan, Kecamatan Ubud, Gianyar, bisa menginspirasi penanganan sampah serupa di tempat lain. Seperti terlihat saat persembahyangan Hari Raya Galungan, Buda Kliwon Dungulan, Rabu (19/2) di Pura Puseh, Desa Adat Peliatan, Kecamatan Ubud. Untuk kali pertamanya, mis atau sampah organik sisa pamuspan pamedek tidak sampai membludak mengotori area pura. Natar (halaman) pura bersih seketika, saat pamedek usai sembahyang.

Bersihnya natar pura karena setiap pamedek sudah langsung memasukkan bunga, kwangen dan dupa organik usai sembahyang ke dalam lubang biopori. Ada 117 biopori pada natar pura dan 25 lagi di area perantenan (dapur) hingga total 142 biopori. Letaknya tepat pada nataran tempat pamedek sembahyang, sehingga cukup dari tempat duduk pamedek sudah bisa menjaga kebersihan.

Pembuatan biopori ini dipelopori oleh Komunitas Peliatan Ngogo (Pego Community). Pembuatannya dilakukan secara gotong royong bersama krama pangempon pura sejak beberapa bulan lalu. Bertepatan dengan Hari Raya Galungan, biopori ini mulai dimanfaatkan. Kedepan, seluruh area pura termasuk jaba tengah dan jaba sisi rencananya akan dibuat hal serupa. Bahkan komunitas ini telah menyasar Sekolah Dasar (SD) se Desa Peliatan serta beberapa rumah penduduk.

Ditemui Minggu (23/2) lalu, Koordinator Pego Community I Wayan Sudiarta didampingi anggota komunitas lainnya menjelaskan, biopori di Pura Puseh Peliatan merupakan projec kedua. Setelah sekitar enam  bulan lalu, dibuat 143 biopori di Pura Dalem Puri Peliatan, Ubud. Rinciannya, 125 di natar pura dan 18 biopori di perantenan. Jarak antara satu biopori dengan lainnya sekitar 1 meter. Sedangkan kedalaman lobang bisa mencapai 1 meter lebih dengan diameter 10 sampai 20 cm. “Biopori di Pura Puseh Peliatan efektif mengatasi sampah organik sisa pamuspan pamedek. Dengan biopori ini, saat Galungan sama sekali tidak ada sampah yang berserakan atau sampai dibawa keluar,” jelas dosen Prodi Senirupa Undiksha Singaraja ini.

Biopori, kata Wayan Sudiarta, memiliki dua fungsi utama yakni resapan air dan composter (mengurai sampah jadi sampah) secara alami. “Umumnya pura sekarang dipaving atau batu sikat. Sehingga kandungan air permukaan nyaris tidak ada. Kita sudah pengalaman pernah ngebor, tanah satu meter masih gembur kering, sehingga menambah semangat tim untuk memperbanyak lagi lobang biopori,” jelasnya.

Sebagai komposter alami, sampah organik yang masuk ke lubang biopori akan hancur dengan sendirinya kemudian menjadi pupuk kompos. “Yang pasti, tidak akan ada sampah organik lagi yang berserakan,” jelasnya.

Selain di pura, komunitas ini juga memelopori pembuatan biopori di tempat umum dan sekolah. “Untuk di rumah sendiri, kami gugah pemilik rumah untuk membuat biopori. Pekarangan sikut satak (hunian Bali) misalnya, idealnya ada 40 sampai 50 lobang biopori,” terangnya.

Di pura, selain menampung sisa pamuspan, biopori juga bisa menjadi tempat pembuangan sampah organik usai ngayah atau mebat olahan. “Selama proses ngayah kan sudah pasti ada sampah, terutama yang organik bisa masuk. Kalau sampah plastik harus dipilah,” jelasnya. Setelah sukses membuat ratusan biopori di Pura Dalem Puri dan Pura Puseh Desa Peliatan, Komunitas ini juga membuat hal yang sama di Pura Dalem Gede Peliatan. “Disini kami hanya membuat 19 + 31 biopori. Selanjutnya kami harapkan krama pengempon agar melanjutkan,” jelasnya.

Namun diakui, krama atau masyarakat harus sering-sering dibiasakan membuang sampah organik ke lobang biopori. Sebab saat ini masih banyak dilihat masyarakat dengan pemikiran lama, menyapu sampah, mengumpulkan, masuk kampil, ikat lalu buang ke TPA. “Perlu melatih diri, baru segelintir yang memahami ini. Kami harap semua miliki kesadaran, cari tong sampah yang benar atau cari lubang biopori,” terangnya. Sebelum lubang biopori ini, diakui beragam jurus atasi sampah sudah diterapkan di pura. Seperti misalnya pemilahan sampah dan pengurangan timbulan sampah plastik dengan cara menyediakan minuman reffil galon. “Untuk mensukseskan gerakan ini, harus ada hati yang tergerak,” jelasnya.

Wayan Sudiarta mengaku memproduksi sendiri peralatan biopori, seperti bor maupun penutup lobang. “Tutupnya, berkali-kali kami eksperimenkan agar tampak berestetika, murah, dan kuat,” jelasnya. Untuk kalangan rumah tangga, dia menganjurkan memiliki minimal 1 alat bor. “Rekomendasi kami, satu pekarangan sikut satak minimal punya 30 - 50 lubang biopori,” terang alumni Jurusan Pendidikan Seni Rupa FKIP Unud ini.

Sedangkan untuk sampah plastik, Sudiarta lebih suka menerapkan konsep ecobrick yakni memadatkan sampah plastik dalam sampah botol kemasan. Ecobrik yang terkumpul, kemudian bisa dijadikan sofa, kursi, atau tembok. Pihaknya pun ingin ecobrik ini diterapkan di dunia pendidikan. Seperti yang diterapkan di SD se Desa Peliatan. Setiap minggu anak-anak SD membawa satu ecobrick ke sekolah.”Misal satu sekolah ada 120 siswa, maka sudah terkumpul 120 ecobrick. Ini bisa ditata sesuai kreativitas, bisa dipakai sofa, kursi dan lain-lain. Kalau bisa, hal ini dikawal lewat kebijakan Dinas Pendidikan,” harapnya. Bagi Sudiarta, keberhasilan terbaik dari aktifitas lingkungan bukan seringnya melakukan aksi bersih-bersih. Melainkan pemikiran untuk tidak mengotori lingkungan.

Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gianyar Drs I Wayan Kujus Pawitra SSos MAP sangat bersyukur dengan semakin banyaknya komunitas lingkungan yang tergerak untuk membangun partisipasi dan kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah dan menjaga  lingkungan agar bersih dan sehat. Dia pun memuji langkah-langkah Komunitas Peliatan Ngogo (Pego Community), Desa Peliatan yang telah menginisiasi sekaligus jadi motivator dalam gerakan lingkungan. Lebih-lebih komunitas ini mengembangkan biopori fungsi ganda yakni untuk resapan air dan komposting.

Jelas dia, berbeda halnya dengan biopori lain yang hanya berfungsi untuk resapan air. Resapan air amat penting untuk menjaga kelembaban tanah. Sebab saat ini kebanyakan permukaan tanah sudah dipaving, dibeton, atau dibatu sikat. Tentu menjadi lebih baik, secara hidrologis resapan air untuk mencegah banjir sekaligus menjaga kesuburan tanah. ‘’Kehadiran komunitas lingkungan di Gianyar sangat membantu pemerintah dalam menggerakan masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan,’’ jelas pejabat asal Banjar Kesian, Desa Lebih, Gianyar ini.*nvi

Komentar