nusabali

Senderan Rumah Longsor, Ibu Diselamatkan Anaknya

  • www.nusabali.com-senderan-rumah-longsor-ibu-diselamatkan-anaknya

Petaka terjadi di pekarangan rumah keluarga I Nengah Nata, 48, di Banjar Meranggen, Desa Tangkas, Kecamatan Klungkung, Selasa (25/2) sore, ketika senderan rumahnya tiba-tiba longsor.

SEMARAPURA, NusaBali

Dalam musibah ini, satu unit gubuk dan bangunan dapur ikut terjungkal. Beruntung, istri dari Nengah Nata, yakni Ni Wayan Darsi, 48, selamat dari maut setelah diselamatkan anaknya.

Pantauan NusaBali di lapangan, Rabu (26/2) pagi, senderan pekarangan rumah keluarga Nengah Nata yang longsor itu berukuran panjang 10 meter dan tinggi 5 meter. Seluruh senderan amblas berikut tanah setebal 5 meter, hingga membentuk tebing setinggi 7 meter. Ada dua unit bangunan yang terjungkal ke jurang akibat longsor, masing-masing gubuk dan dapur.

Bencana longsor senderan rumah keluarga Nengah Nata ini terjadi Selasa sore sekitar pukul 16.00 Wita. Ketika itu, Ni Wayan Darsi berada di rumah berdua bersama anak bungsunya dari empat bersudara, I Ketut Dendi Agus Prayoga, 15. Sedangkan sang suami, Nengah Nata, dan tiga anaknya yang lain tidak ada di rumah.

Menurut keterangan Nengah Nata, sebelum senderan rumahnya tiba-tiba longsor, sang istri, Wayan Darsi, tengah menggoreng pindang di dapur. Sedangkan anak bungsunya, Ketut Dendi Agus Prayoga, berada di halaman rumah sambil berbincang dengan ibunya yang memasak.

“Tiba-tiba, anak bungsu saya ini (Agus Prayoga) mendengar suara kresek-kresek dari bawah senderan, diiringi pergerakan tanah berikut senderannya. Saat itu juga, anak saya spontan menarik ibunya yang berada di dapur, sehingga istri saya (Wayan Darsi) selamat dari maut,” ungkap Nengah Nata saat ditemui NusaBali di rumah yang pekarangannya longsor, Rabu pagi.

Selang beberapa detik kemudian pasca Wayan darsi diselamatkan anaknya, senderan pekarangan rumah longsor ke jurang arah timur. Sebagian besar perabotan rumah tangga di sisi timur dapur langsung terjun bebas ke jurang sedalam 7 meter. Bahkan, kompor yang sempat digunakan Wayan Darsi untuk menggoreng pindang juga lenyap. “Bisa dibayangkan, bagaimana nasib istri saya jika tidak diselamatkan anaknya,” tutur Nengah Nata,

Bukan hanya itu, bangunan gubuk yang sering dijadikan tempat tidur oleh Nengah Nata juga terjungkal ke jurang. “Saat musibah, kebetulan saya tidak di rumah. Kalau di rumah jam segitu (pukul 16.00 Wita), saya biasanya istirahat di gubuk tersebut,” kenang pria yang kesehariannya bekerja sebagai sopir angkut pasir ini.

Menurut Nengah Nata, istrinya juga sering tidur di gubuk yang terjungkal akibat longsor tersebut. Pasalnya, keluarga ini kekurangan tempat tidur, jika semua anaknya berada di rumah. “Saya memiliki 4 orang anak. Yang pertama laki-laki sudah menikah dan tinggal terpisah. Sedangkan anak kedua dan ketiga perempuan, mereka biasa tidur bareng dengan ibunya kalau pulang. Mereka bekerja di Denpasar dan biasanya pulang seminggu sekali,” papar sopir truk berusia 48 tahun ini.

Sementara Wayan Nata sendiri biasa tidur di gubuk yang terjungkal itu. Sedangkan anak bungsunya yang kini berusia 15 tahun, Ketut Dendi Agus Prayoga, tidur terpisah di kamar sendiri. Setelah dicek, kata Nata, kamar putra bungsunya juga retak-retak. Padahal, kamar tersebutu baru mendapatkan bantuan rehab yang difasilitasi oleh seorang anggota DPRD Klungkung, 6 bulan lalu.

Nata mengisahkan, beberapa jam sebelum senderan rumahnya longsor, dirinya sempat mengalami kejadian yang janggal. Kisahnya, saat dalam perjalanan mengangkut pasir dari Desa Padangbai, Kecamatan Manggis, Karangasem menuju Gianyar, tiba-tiba ban truknya kempes. Padahal, ban tersebut masih baru.

Anehnya lagi, kata Nata, saat dibawa ke bengkel, ternyata ban yang kempes itu sama sekali tidak ada kebocoran. “Bengkelnya sampai bingung mencari-cari di mana letak kebocorannya, namun tidak ditemukan. Akhirnya, ban yang kempes ini dipasang lagi dan bisa dipakai,” cerita Nata.

Gara-gara ban kempes di jalan, Nata terlambat sampai di rumah. Padahal, dia seharusnya sudah berada di rumahnya yang berlokasi di Banjar Meranggen, Desa Tangkas sebelum pukul 16.00 Wita. *wan

loading...

Komentar