nusabali

Leak dalam Tragedi Sejarah, Sebuah Fiksi Sejarah oleh Samar Gantang

  • www.nusabali.com-leak-dalam-tragedi-sejarah-sebuah-fiksi-sejarah-oleh-samar-gantang

“Semenjak kehadiran tentara baret merah, Kabupaten Carik terasa genting. Penduduk waswas. Warga yang PKI, simpatisan PKI, dan yang netral, tanpa partai, nasib mereka di ujung tanduk. Peristiwa tragedi 30 September 1965 menjalar menjadi epidemi teror di seantero Indonesia.” Leak Tegal Sirah, I Gusti Putu Bawa Samar Gantang, 2019.

DENPASAR, NusaBali.com
Sejarah panjang yang dimiliki Indonesia tak hanya melulu soal merebut kemerdekaan dan mempertahankan kesatuan negara. Dalam sejarah panjang tersebut, banyak bagian yang masih ‘abu-abu’. Bagian yang abu-abu inilah, yang kemudian memberikan ruang bagi sastra untuk masuk di dalamnya, menyuapi pembaca dengan imajinasi yang diambil dari sisi lain sebuah tragedi. 

Novel Leak Tegal Sirah, sebuah novel karya I Gusti Putu Bawa Samar Gantang yang bergenre fiksi sejarah ini merupakan novel yang mengambil latar pada tragedi tahun 1965, yakni tahun di mana terjadi pembantaian pada masyarakat yang dituduh sebagai simpatisan PKI. Novel yang telah diterbitkan sejak November 2019 lalu ini mengambil latar pada Banjar Tegal Sirah, sebuah desa yang merupakan bagian dari Kota Carik di Bali yang tak luput dari tragedi genosida di tahun 1965.

Yang namanya berlatar di Bali, peristiwa yang terjadi dalam novel ini dibumbui dengan unsur magis oleh sang penulis Samar Gantang. Cerita dalam novel yang berpusat pada pembantaian 20 terduga simpatisan PKI di Banjar Tegal Sirah kemudian berubah menjadi teror yang dialami para tameng (algojo) oleh arwah penasaran kedua puluh orang korban ini, ditambah dengan adanya beberapa penduduk desa yang mengeluarkan ilmu pangleakannya terhadap keenam algojo ini. 

Novel yang dalam pembuatannya memakan waktu selama 19 tahun ini menceritakan secara detail horror yang dialami masyarakat Banjar Tegal Sirah. Mulai dari pembunuhan para terduga simpatisan yang menceritakan dengan detail bagaimana mereka dibunuh dengan cara dipenggal dan seperti apa kemudian jenazah mereka diperlakukan. Dari sinilah, didapat nama Tegal Sirah, nama yang menjadilatar tempat kisah di dalam novel dan didaulat menjadi judul novel. 

Tak ketinggalan pula, aksi dari aktivis yang ‘hobi’ membakar rumah milik para simpatisan PKI, yang tertuduh simpatisan hanya karena tak memiliki simbol penanda PNI di pekarangan rumah mereka. Belum lagi penganiayaan pada para wanita yang dicap Gerwani karena anggota keluarga yang merupakan aktivis PKI tertangkap. Semuanya, digambarkan secara detail dan terbuka. 

Kehororan teror oleh manusia ini bersaing dengan porsi horror yang disajikan dari segi pengeleakan yang turut membumbui cerita ini. Dari sisi magisnya sendiri, Samar Gantang pun tak lupa untuk menjelaskan secara detail tingkat-tingkat ilmu pengeleakan, bagaimana penduduk mendapatkannya, dan bagaimana pengaruh ilmu pengeleakan ini mempengaruhi psikologis para pelaku pembantaian. 

Namun demikian, cerita dalam novel ini tertata apik dalam sudut pandang orang ketiga serbatahu. Mulai dari tokoh utama Ti Jabrag, hingga sudut pandang para tameng dalam bab-bab yang dikhususkan untuk membahas nasib para tameng yang berakhir tragis. Namun dengan berakhirnya nasib para tameng di novel pertama dari seri trilogi ini, apakah yang akan dibahas dalam sekuel novel trilogy yang (spoiler!) berjudul Jagal Satak Tegal berikutnya?

Sang penulis sendiri, I Gusti Putu Bawa Samar Gantang, mengungkapkan bahwa sesuai judulnya, yakni Jagal Satak Tegal, akan berfokus pada kisah-kisah lima tameng yang menjadi sudut pandang utama berikutnya. Hal ini membuat pembaca menebak-nebak, apakah para tameng yang dimaksud kembali pada para tameng dalam kisah di novel pertama, atau kah menceritakan tameng lainnya yang belum terungkap? Kita tunggu saja.

Akhir kata, novel yang sejak awal ceritanya telah mengandung beragam plot twist ini berhasil membuai pembaca, menggabungkan antara sejarah dan dongeng seram sebelum tidur, persis seperti yang ditulis sang pengarang untuk menutup kisah di buku pertama. 

“Alunannya naik-turun lembut seperti embusan angin yang membuai.
Siapa pun yang mendengarkannya jadi mengantuk seperti dibuai dan ingin tidur ….” *yl

loading...

Komentar