nusabali

Babi Mati Mendadak Terjadi di 7 Desa

  • www.nusabali.com-babi-mati-mendadak-terjadi-di-7-desa

Puluhan babi di tujuh desa di lima kecamatan se-Kabupaten Tabanan, mati mendadak. Sampel masih diteliti di laboratorium veteriner Medan.

TABANAN, NusaBali

Kasus kematian babi secara mendadak tidak hanya terjadi di Desa Jegu, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan. Data sementara kasus babi mati mendadak juga terjadi di enam desa namun beda kecamatan.

Enam desa itu adalah di Desa Rejasa, Kecamatan Penebel; Desa Buahan, Kecamatan Tabanan; Desa Kaba-Kaba dan Desa Cepaka, Kecamatan Kediri; Desa Tegal Mengkeb, Kecamatan Selemadeg Timur; dan Desa Kukuh, Kecamatan Marga.

Jika ditotal ada tujuh desa di Kabupaten Tabanan ditemukan babi mati mendadak. Penyebab babi warga yang mati mendadak ini masih menunggu hasil uji laboratorium dan pendataan.

Perbekel Buahan I Gede Ari Wastika membenarkan bahwa sejumlah babi milik warga mati mendadak, khususnya di Banjar Buahan Selatan. Kejadiannya dimulai 19 Januari. Dan sudah ada sekitar 20-an ekor babi yang mati mendadak. “Matinya memang mendadak, awalnya sakit kemudian mati,” ungkapnya, Minggu (26/1).

Kasus babi mati mendadak ini terjadi di satu banjar saja yakni di Banjar Buahan Selatan. Pascakejadian itu Dinas Pertanian sudah mengambil sampel di Desa Buahan. “Hasilnya belum diketahui, masih menunggu sampel itu,” imbuhnya.

Menurut Wastika babi yang mati ini milik warga rumah tangga karena memelihara 3-4 ekor. “Jadi babi milik rumah tangga, tidak ada yang dimiliki peternak,” jelasnya.

Pascakejadian tersebut khususnya di Banjar Buahan Selatan saat ini steril sementara waktu, artinya warga tidak memelihara babi. Bahkan banyak warga menjual babinya karena khawatir mati mendadak. “Sekarang ada juga yang masih memelihara, namun sudah diimbau untuk menjaga kebersihan,” tegasnya.

Hal serupa juga disampaikan Perbekel Rejasa, Kecamatan Penebel, I Gede Wayan Wiarsa. Di Desa Rejasa kematian babi mendadak sudah terjadi sejak 1 Januari. Jika ditotal sudah ada 50 ekor lebih yang mati.

Menurutnya kematian babi yang dialami awalnya babi tidak mau makan. Kemudian di tubuh babi berwarna kemerahan. Dan selang lima hari langsung mati. Padahal sebelumnya sehat dan mau makan. “Rata-rata warga di Rejasa mengalami kematian babi mendadak. Termasuk saya, babi saya mati 12 ekor, babi penggemukan,” jelasnya.

Dengan kejadian itu, Senin (27/1) hari ini akan melapor ke Dinas Pertanian Tabanan termasuk melapor ke Dinas Kesehatan Tabanan karena warga di Desa Rejasa juga banyak terkena demam berdarah. “Khusus untuk babi, pelaporan secara resmi belum tetapi antar-WhatsApp sudah. Namun belum ada yang turun,” kata Wiarsa.

Dan hingga saat ini di Desa Rejasa sedikit warga yang memiliki babi. Karena sebelumnya sudah mati dikubur dan ada babi sehat yang dijual cepat karena dikhawatirkan mati atau merugi. “Sekarang bisa dibilang sedikit yang pelihara babi akibat kejadian ini,” tegasnya.  

Di Desa Kaba-Kaba, Kecamatan Kediri, juga dilaporkan ada babi mati mendadak. Babi mati mendadak itu ada di Banjar Adat Gamongan masuk Dusun Buading.

Menurut Kelian Dinas Dusun Buading I Wayan Sudana, ada babi warga yang mati mendadak. Jumlahnya masih belum pasti namun kira-kira sudah ada tiga ekor babi milik warga yang mati. “Yang mati ini indukan, habis melahirkan mati beserta dengan 8 ekor anaknya. Ada yang indukan tanpa anak juga mati dan ada juga yang babi menengah mati,” beber Sudana.

Babi yang mati sudah dikubur. Sedangkan babi hidup, ada yang dijual. “Yang punya ini adalah warga yang beternak babi rumahan, belum ada yang peternak,” jelasnya.

Sementara Perbekel Desa Cepaka I Ketut Tedja membenarkan adanya kasus babi mati mendadak di desanya. Sejak dua minggu terakhir sudah ada 25 ekor babi milik warga mati. “Sehari itu ada 2-4 ekor yang mati,” ujarnya.

Untuk saat ini pihaknya masih terus melakukan pendataan. Dan pihaknya juga sudah melaporkan ke Dinas Pertanian untuk segera ditindaklanjuti. “Dinas Pertanian sudah turun, kami juga bingung menghadapi peternak apalagi memang tidak ada kompensasi untuk babi mereka yang mati,” tegasnya.

Tedja menyayangkan ada aksi pembuangan bangkai babi di sepanjang Sungai Penet yang alirannya melintas wilayah Desa Cepaka. “Jadi ini sudah mencemari lingkungan. Kami juga tidak tahu dari mana yang membuang bangkai babi ini. Kalau warga Cepaka saya pastikan sudah mengubur karena sudah ada imbauan. Bahkan sempat Kades Munggu yang complain, dikira kami yang membuang bangkai babi. Jadi ini saling kaden (saling menduga) padahal belum tahu siapa yang buang bangkai,” tuturnya.

Sementara Perbekel Tegal Mengkeb Dewa Made Widarma mengatakan kematian babi sudah terjadi sejak 17 Januari. Warga yang memiliki babi menuturkan, babinya sakit pada malam hari, kemudian pagi harinya mati. “Puncaknya kemarin ini (Sabtu, 24/1) banyak babi yang mati mendadak,” tegas Widarma.

Peristiwa ini terjadi merata di 9 banjar di Desa Tegal Mengkeb, Kecamatan Selemadeg Timur. “Babi yang mati ini kebanyakan sudah dikubur, kemarin lihat tetangga yang ngubur,” akunya.

Akibat kejadian ini diakui banyak warga resah khususnya warga yang memiliki babi sehat. Mereka dilema antara menjual babinya atau bertahan, sebab direncanakan dijual saat Hari Raya Galungan. “Besok kami laporkan, sekarang kami masih data dulu berapa ekor yang sudah mati. Sekarang jumlah pasti belum tahu tetapi sudah ada mencapai 20 ekor,” katanya.

Kasus babi mati mendadak juga terjadi di Desa Kukuh, Kecamatan Marga. Menurut Perbekel Kukuh I Made Sugianto di Desa Kukuh sudah ada 20 bangkung (babi indukan) mati mendadak. Dari jumlah itu 11 babi milik Kelian Dinas Banjar Tatag. “Kejadiannya kemarin, bangkung mati mendadak,” ujarnya.

Pascakejadian itu Dinas Pertanian sudah turun mendata namun belum melakukan sosialisasi. “Kami harapkan Dinas Pertanian segera sosialisasi ke Desa Kukuh agar masyarakat tidak resah. Bila perlu tes lab mengetahui penyebab kematian babi mendadak. Sampaikan hasil uji lab agar masyarakat tenang. Karena warga sudah mulai takut konsumsi daging babi,” kata Sugianto.  

Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian Tabanan I Wayan Suamba mengatakan terkait hal itu Dinas Pertanian sudah melakukan sosialisasi. Bahkan rencananya akan ada sosialisasi dari pusat.  

Sosialiasi yang sudah dilakukan itu ke Desa Jegu, Desa Rejasa, Kecamatan Penebel, Desa Buahan, Kecamatan Tabanan. Termasuk juga sosialisasi ke Desa Timpag, daerah yang belum terdampak.

“Kita sosialisasikan menekankan menjaga kebersihan dan membatasi orang masuk kandang, utamanya tukang juk (pembeli). Di samping itu bangsung (tempat babi) diwajibkan disemprot desinfektan,” jelasnya.

Untuk kasus kematian babi di Desa Buahan, Kecamatan Tabanan, sampel sudah diambil dan hasilnya masih menunggu. “Sampel dibawa ke Balai Veteriner Medan. Kami masih tunggu hasilnya,” ucap Suamba.

Kemudian untuk kasus babi di Desa Tegal Mengkeb menurutnya belum ada yang mati. Masih terdapat laporan babi yang sakit. “Yang di Tegal Mengkeb belum ada yang mati baru sakit saja,” dalihnya.

Dia pun menekankan khususnya warga yang memiliki babi masih sehat agar membatasi orang masuk ke kandang. Serta rutin memberikan desinfektan. “Stok desinfektan dari kami sudah habis, sudah kami koordinasikan ke provinsi. Sekarang pemilik babi diharapkan untuk membeli secara swadaya,” tandasnya. *des

Komentar