nusabali

Peternak Pertanyakan Sperma Sapi Buatan Terbatas

  • www.nusabali.com-peternak-pertanyakan-sperma-sapi-buatan-terbatas

Tahun 2019 Kabupaten Tabanan dijatah sperma buatan untuk kawinkan sapi sekitar 7.700 dosis.

TABANAN, NusaBali

Namun per 10 November 2019, sperma buatan atau semen beku ini sudah habis. Di satu sisi, sapi peternak yang mengalami birahi terbanyak pada November-Desember.

Hal itu membuat peternak sapi di Tabanan mempertanyakan dan menjerit lantaran sapinya yang birahi tidak bisa kawin suntik. Ketua DPC Paravetindo (Paramedic Veteriner Indonesia) Kabupaten Tabanan sekaligus petugas inseminator di Kecamatan Marga I Ketut Gede Jaya Ada mengatakan, masalah itu terjadi bukan karena stok sperma buatan habis. Tetapi karena tidak adanya biaya lebih untuk biaya operasional petugas inseminator. Selain itu tak ada biaya operasional untuk membuat speerma itu. Sedangkan jatah seperma ini untuk Tabanan tahun 2019 hanya 7. 700 dosis. Biaya operasional dan biaya produksi sperma ini dikeluarkan Pusat sesuai jatah. Jika memberikan melebihi jatah ditakutkan biaya operasional pembuatan semen beku oleh Balai Inseminasi Buatan Daerah (BIBD) termasuk operasional petugas tidak dibayar Pusat.

Dimana sejak adanya program Upaya Khusus Percepatan Populasi Sapi Kerbau (UPSUS SIWAB) biaya kawin suntik ke peternak gratis. Sementara biaya petugas didanai Pusat per sekali suntik Rp 30.000.

Jaya Ada mengakui, sejak permasalahan itu muncul dari November 2019, peternak sapi pun berteriak. Dimana ada sampai tiga kali sapi peternak yang birahi tidak mendapatkan kawin suntik akibat sperma buatan terbatas. “Ada petani sampai memaki karena sapinya birahi tidak bisa dilayani,” akunya, Jumat (10/1).

Menurutnya, target yang dijatah mencapai 7.700 dosis itu kurang karena realisasinya melebihi jatah. Pemerintah sempat menambah stok dosis sekitar 1.061, namun pada November, habis. “Jadi, sisanya mencapai 1.061 dosis itu, petugas ngayah alias tidak dibayar operasional ke peternak untuk kawin suntik sapi peternak,” bebernya.

Apalagi kalau tidak dijatah, jelas dia, realisasi kawin sapi di tahun 2019 bisa mencapai 9.000 dosis. Sebab November dan Desember 2019, sapi sedang banyak birahi. “Tiap akhir tahun sebenarnya seperti ini. Tidak hanya akhir tahun 2019. Harapan kami yang ditambah jatah per kabupaten karena realiasinya akan melebihi dari jatah,” harap Jaya Ada.

Petugas Data Enkoder Usus Suwab I Gusti Putu Agung Hariyuda didampingi Kabid Peternakan Nyoman Suamba Dinas Pertanian Tabanan, menjelaskan permasalahan itu terjadi bukan karena stok sperma buatan habis. Namun jika melayani kawin suntik lebih dari jatah Pusat, tidak ada biaya operasional untuk petugas. Biaya operasional untuk petugas Rp 30.000 per ekor, sedangkan ke peternak gratis. Sebab jatah untuk Tabanan sesuai program Upsus Suwab hanya 7.700 di tahun 2019 “Sedangkan untuk di BIBD permasalahanya jika memberikan melebihi jatah ditakutkan tidak dibayar dari pusat maupun dari provinsi,” ujarnya.

Kata dia, dari jatah 7.700 tersebut, karena masih banyak permintaan untuk mengawinkan sapi pihaknya sempat mengusulkan tambahan 1.061 dosis sperma. Namun dosisi ini habis bulan November 2019.

Permasalahan yang kerap terjadi pada akhir tahun ini sudah disampaikan ke provinsi. Pada 13 Januari 2020, distribusi tahap pertama mulai disebar per kecamatan. Tiap kecamatan berbeda mendapatkan stok sperma sesuai dengan populasi sapi. “Seperti kecamatan Marga itu biasanya dapat 200 dosis tiap bulan,” tegas Heriyuda.

Dia menambahkan sebagai petugas peternakan sering berkoordinasi kepada 33 petugas kawin suntik sapi di Tabanan. Untuk saat ini sembari menunggu distribusi datang, pihaknya berkoordinasi kepada petugas yang masih memiliki stok sperma untuk ditukar ke petugas yang memerlukan. “Tiga kecamatan yang biasanya memerlukan sperma buatan paling banyak seperti Baturiti, Marga, dan Penebel. Karena masyarakatnya dominan memelihara sapi,” tandasnya.

Tahun 2018, jatah sperma buatan untuk Tabanan hanya  7.920 dosis. Sedangkan kebutuhannya mencapai 10.524 dosis untuk 9.297 ekor sapi. *des

loading...

Komentar