nusabali

Berhubungan Baik dengan Mertua

  • www.nusabali.com-berhubungan-baik-dengan-mertua

Sekitar 60 persen pernikahan, para menantu memiliki ketegangan hubungan dengan ibu mertua. Menantu perempuan dengan ibu dari suaminya, atau menantu pria dengan ibu dari istrinya.

Adalah hal yang sering didengar menantu perempuan kurang cocok dengan ibu mertua.

Survei yang diproduksi oleh OnePoll mengungkapkan satu dari empat wanita mengaku memiliki hubungan yang buruk dengan ibu mertua. Survei dengan responden wanita yang seluruhnya bermukim di Inggris membeberkan mereka merasa tidak nyaman ketika berada di sekitar ibu mertua.

Kritik soal pola asuh anak dan masih terus bekerja, merupakan komentar yang paling sering membuat nyaris semua responden memilih jaga jarak dengan ibu mertua masing-masing.

Hubungan buruk tersebut acap kali berujung pada argumen yang berkembang menjadi ribut soal gaya busana dan berat badan responden.
Alhasil, satu dari 10 responden wanita memutuskan untuk sama sekali tidak bicara dengan ibu mertua.

Survei menguraikan ucapan dari ibu mertua yang dianggap sering menyakiti adalah sebagai berikut:


1. “Dulu, ibu melakukannya dengan cara begini,”
2. “Perilaku anakku baik sebelum bertemu kamu,”
3. “Mengapa cucuku gemuk sekali?”

Nyaris seluruh responden telah meminta suami mereka untuk bicara dengan sang ibu agar mengubah kebiasaan menghakimi dan terlalu banyak melontarkan kritik tersebut.
Parahnya, 15 persen responden mengatakan mereka nyaris bercerai karena tidak akur dengan ibu mertua.

“Memiliki ibu mertua sebenarnya sangat menguntungkan. Sebab, mereka selalu bersedia dan menyediakan waktu untuk menjaga cucu. Namun, tak sedikit ibu mertua yang cenderung keterlaluan dalam beropini, hanya untuk mengatur beberapa hal agar sesuai keinginannya,” ujar juru bicara OnePoll seperti dilansir marieclaire.
Tantangan terbesar dalam kehidupan pernikahan yaitu menjalin hubungan dengan mertua. Apalagi bagi menantu perempuan, sulit rasanya membina hubungan baik dengan ibu mertua.

Menurut penelitian, dari sekitar 60 persen pernikahan para menantu memiliki ketegangan hubungan dengan ibu mertua, baik menantu perempuan dengan ibu dari suaminya, atau menantu pria dengan ibu dari istrinya. Campur tangan ibu mertua seringkali menjadi penyebab dari ketegangan tersebut. Tapi jika memiliki sikap positif dan menunjukkan rasa hormat kepada ibu mertua, umumnya hubungan tersebut akan membaik.
Jika hubungan Anda sendiri dengan ibu mertua sedang memanas, lakukan langkah berikut:

* Sikap positif.

 Selalu coba sampaikan sikap positif terhadap ibu mertua, karena mereka pasti sebenarnya menginginkan yang terbaik bagi anak dan cucunya. Dan, apa yang menurutnya terbaik tentu yang menurut pengalamannya sendiri.

* Persamaan.

Cobalah untuk memperlakukan ibu mertua seperti Anda memperlakukan ibu sendiri. Misalnya jika Anda memberikan ibu hadiah ulang tahun, maka lakukan hal yang sama kepada ibu mertua. Karena, jika suatu saat Anda memiliki seorang menantu, kemungkinan Anda ingin diperlakukan dengan cara yang sama. Yaitu, mendapat perhatian yang selayaknya.

* Kepekaan.
Fakta perempuan telah menghabiskan bagian penting dari hidupnya untuk membesarkan anaknya, mungkin membuat dia sedikit sensitif ketika kini ada orang lain yang menjadi pusat perhatian dalam kehidupan anaknya. Maka, cobalah peka terhadap perasaan ibu mertua.

* Menghormati.
Perlakukan ibu mertua dengan hormat. Sadari bila mertua lebih berpengalaman dan lebih bijaksana. Dia mungkin telah melalui banyak kesulitan dalam hidupnya. Cobalah lebih memahami apa yang menjadi kepeduliannya, yaitu dengan berbincang atau bertanya tentang masa kecilnya, bagaimana ia tumbuh, dan membesarkan anak-anaknya. Ketika Anda berusaha mengerti dirinya, ia akan menyayangi Anda dan meningkatkan ikatan yang kuat antara Anda berdua.

* Perhatian.

Berbincang lebih sering dengan ibu mertua, tunjukkan padanya Anda ingin mengenalnya lebih baik, dan menimba ilmu darinya mengenai menjadi ibu yang baik. Jangan ragu untuk meminta petunjuk mengenai pengasuhan anak, mengenai apa yang baik menurut dirinya.

* Komunikasi.

Jaga komunikasi Anda dengan ibu mertua, seperti menelepon dan mendengarkan kabarnya saat itu. Tanyakan juga kabar ayah mertua Anda (jika masih ada), juga anak-anaknya yang lain. Jika Anda memiliki anak, kirimkan fotonya ke ibu mertua. Seorang nenek pasti suka melihat foto cucu mereka.

* Nasihat.

Ibu mertua jelas memiliki lebih banyak pengalaman daripada Anda. Jangan ragu untuk meminta sarannya. Apa pun hasilnya, setidaknya Anda mendengarkan, menunjukkan rasa hormat, dan menjaga komunikasi dengan baik. Biasanya ibu mertua hanya berusaha untuk membantu, hanya saja seringkali memaksakan metode yang dianggap sudah kuno.

* Anak-anak.

Biarkan ibu mertua turut mengurus anak-anak. Bagi mereka, cucu lebih penting daripada anak-anak mereka sendiri. Biarkan dia memanjakan cucu mereka sedikit, dan sebaiknya Anda tak perlu terlalu menghalanginya.

* Samakan pandangan

Tentukan batasan dan tetapkan ekspektasi. Bisakah saudara-saudaranya datang berkunjung tanpa pemberitahuan sebelumnya? Bolehkan ibu mertua menidurkan anak-anak di luar jam tidur yang telah ditetapkan sebelumnya. Ada banyak hal yang harus diputuskan bersama-sama. Harap diingat, baik Anda atau pasangan bukanlah pembaca pikiran. Ia tak akan paham yang Anda inginkan dan harapkan kecuali Anda bicara kepadanya. Aturan ini tentu berlaku untuk si dia juga.

* Selesaikan perselisihan
Jika salah satu tengah bermasalah dengan ayah mertua, maka sudah jadi kewajiban si anak kandung menjadi mediator dan menengahi perselisihan. Pihak yang mempunyai hubungan lebih dekat (ayah dengan anak) lah yang harus berinisiatif menyelesaikan masalah. Bukan hal yang bijaksana jika menantu dan mertua saling melakukan konfrontasi.

* Hargai kebiasaan keluarga mertua

Anda terganggu dengan kebiasaan-kebiasaan saudara-saudara ipar atau kegiatan-kegiatan rutin di keluarga si dia seperti arisan keluarga, piknik bersama, dan sejenisnya? Jangan terus-menerus merasa begitu. Daripada menyimpan kesal untuk hal-hal sepele, lebih baik pahami dan terima saja kebiasaan yang sudah ada jauh sebelum Anda bertemu dan menikahi si dia. Hargai ikatan yang sudah terjalin erat antara pasangan Anda dengan saudara-saudaranya. Bersikaplah suportif. Tapi Anda tetap punya hak untuk mengutarakan keberatan jika kasusnya memang cukup serius dan mengganggu. Dan si dia tentu saja wajib menanggapi keluhan ini.

* Jangan mengadu ke orangtua

Usahakan untuk tidak melibatkan pihak luar (keluarga sekalipun) dalam masalah keluarga inti. Ketika kedongkolan pada si dia sudah  di ubun-ubun dan ribut besar menjelang di depan mata, godaan untuk mengetuk pintu rumah orangtua pasti sangat menggoda. Tapi, jangan lakukan, karena ini juga  bisa merusak hubungan baik Anda dengan mertua. * beragam sumber

Komentar