nusabali

Unhi Denpasar Serius Kembangkan Prodi Ilmu Pengliakan

  • www.nusabali.com-unhi-denpasar-serius-kembangkan-prodi-ilmu-pengliakan

Satu gebrakan Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Denpasar yang membuat heboh jagat maya.

DENPASAR, NusaBali

Unhi Denpasar berencana akan mengembangkan program studi ilmu kebatinan yang mengangkat warisan budaya Bali yakni Ilmu Pengliakan. Prodi Ilmu Pengliakan ini disebut-sebut sebagai salah satu promosi dari Heritage Bali Science atau warisan ilmu pengetahuan Bali, sekaligus untuk meluruskan pemahaman tentang ilmu liak yang selama ini dianggap cenderung destruktif (negatif dan merusak). Keseriusan ini ditandai dengan langkah awal menyelenggarakan seminar bertema ‘Pengeliakan dalam Kajian Filsafat, Agama dan Ilmu pada Masyarakat Bali’ di kampus setempat, Jalan Sanggalangit, Tembawu, Kelurahan Penatih, Denpasar Timur, Selasa (3/12).

Dalam seminar tersebut, dua lembaga telah memberikan lampu hijau yakni Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VIII Bali Nusra dan Direktorat Jenderal Pembinaan Masyarakat (Ditjen Bimas) Hindu Kementerian Agama RI.

Rektor Unhi Denpasar, Prof Dr drh I Made Damriyasa MS mengatakan, paling tidak usulan Program Studi Ilmu Pengliakan ini diupayakan rampung akhir Desember 2019 dan bisa dimulai tahun ajaran baru 2020.

“Tentu dari hasil seminar ini bagaimana kita wujudkan rekomendasi-rekomendasi yang telah diberikan oleh LLDIKTI Bali Nusra maupun Dirjen Bimas Hindu ke dalam bentuk program studi. Dalam prodi ini yang perlu disusun adalah capaian pembelajaran, kurikulum, termasuk proses pembelajaran yang akan diterapkan nantinya,” ujarnya di sela pelaksanaan seminar kemarin.

Menurutnya, ini merupakan upaya untuk mengapresiasi terutama para tokoh dan ilmuwan yang sudah melestarikan dan menekuni warisan leluhur di Bali. Diharapkan, dengan langkah awal membentuk program studi Ilmu Pengliakan yang rencananya akan dimasukkan ke Fakultas Ilmu Agama dan Kebudayaan, selanjutnya akan muncul lebih banyak pengembangan prodi-prodi baru yang bersumber dari warisan leluhur Bali. “Tergetnya, mahasiswa yang tertarik dengan program studi ini nanti malah kita harapkan tidak hanya dari Bali, tapi dari luar Bali dan luar negeri. Ini adalah salah satu promosi dari Heritage Bali Science,” kata akademisi asal Desa/Kecamatan Rendang, Karangasem ini.

Terkait SDM pengajar, Prof Damriyasa mengakui memang akan sulit jika harus mengikuti kualifikasi yang dipersyaratkan secara nasional. Namun bisa jadi, ini justru menjadi terobosan baru yang out of the box, menggunkan sumber daya yang kompeten dan memiliki kepakaran di bidang tersebut. “Karena pendidikan sekarang lebih ke arah vokasional dan profesi, tentu yang mengajar nanti adalah orang-orang yang telah memiliki kepakaran di bidang tersebut. Sulit kita menggunakan kualifikasi secara nasional. Karena itu ini harus ada terobosan baru. Ini adalah suatu langkah yang out of the box. Yang terpenting adalah outcome dan output dari prodi ini dengan menggunakan sumber daya yang kompeten dan profesional di bidangnya,” tandas lulusan S3 Justus Liebieg University Giessen, Jerman tersebut.

Sementara itu, akademisi Unhi Denpasar yang banyak berkecimpung di bidang lontar Bali, Prof Dr I Wayan Suka Yasa MS, menjelaskan, ada ribuan lontar yang terkait dengan pengliakan baik dari segi filsafat, teknis, maupun sub-sub yang lain. Fenomena ngeliak sudah ada dari dulu sejak zaman kerajaan Kediri, yang dinarasikan menjadi Calonarang. Ngeliak merupakan ajaran Tantra Yoga. Ajaran Tantra Yoga dibagi menjadi tiga yaitu, Satwika ada pada sulinggih, Rajasika ada pada raja, dan Tamasika ada pada orang yang melampiaskan emosinya.

Ada tiga aspek ilmu pengliakan, yakni penengen yang dipakai oleh para balian untuk mengobati. Kemudian aspek pengiwa bersifat destruktif (merusak) yang justru paling populer saat ini, yang bersifat tamasika. Sedangkan aspek terakhir adalah aspek kamoksan sebagai tujuan hidup terakhir, yakni ilmu rahasia untuk mencapai moksa. Sehingga belajar ilmu liak akan dianggap lengkap bila menguasai ilmu kawisesan (penengen pengiwa) dan ilmu kelepasan (kamoksan).

“Tentunya yang destruktif tidak akan dikembangkan di prodi ini, hanya sebatas gambaran saja, bukan untuk dipraktekkan. Kita kaji dari aspek-aspek keilmuan. Ilmu itu kan netral, seperti pisau, tergantung bagaimana kita menggunakannya,” tegasnya.

Liak sendiri dalam beberapa lontar, kata Prof Suka Yasa, adalah menstanakan aksara di dalam diri. Li-Ak berarti Linggih-Aksara yang berarti menstanakan aksara suci dalam diri. Sehingga pengembangan prodi Ilmu Pengliakan ini bertujuan untuk kepentingan-kepentingan yang sifatnya spiritual, bukan destruktif.

Sedangkan penekun spiritual, I Gusti Agung Ngurah Harta mengatakan, selama ini masyarakat Bali selalu memandang negatif Ilmu Pengliakan. Padahal ilmu pengliakan ada juga yang bersifat positif dan ada yang bersifat rahasia (kamoksan). Adanya rencana membentuk prodi ini sangat diapresiasi sebagai upaya pelurusan dan penyelarasan anggapan di masyarakat. “Kalau terus dipandang negatif, bisa salah di masyarakat. Sebab kan sumbernya sastra, dasarnya aksara. Saya siap membantu prodi ini,” katanya.

Ngurah Harta membandingkan, ilmu pengliakan justru lebih bisa diterima di luar negeri. Bali yang mempunyai kearifan lokal, kata dia, jangan sampai ditinggalkan. “Orang asing saja mendekati ilmu ini, kenapa kita malah menjauhi. Sekarang di Eropa sangat berkembang, saya mengajar di sana. Suatu saat jika prodi ini benar-benar sudah berdiri, saya akan minta siswa saya dari Eropa untuk mengajar dasa aksara di sini,” pungkas pinisepuh Perguruan Sandhi Murti ini.*ind

Komentar