nusabali

Pada Kusuma Cabut dari Golkar

Karena Kecewa Kisruh Internal

  • www.nusabali.com-pada-kusuma-cabut-dari-golkar

Setelah keluar dari Golkar, Ida Bagus Gede Pada Kusuma dispekulasikan akan gabung ke PDIP, NasDem, atau Gerindra

DENPASAR, NusaBali

Kader senior Ida Bagus Gede Pada Kusuma alias Gus Pada, 46, tiba-tiba mengundurkan diri dari Partai Golkar. Kader Golkar asal Desa Mambal, Kecamatan Abiansemal, Badung yang mantan anggota DPRD Bali Dapil Badung dua kali periode (2009-2014, 2014-2019) ini diduga mundur karena kecewa dengan kisruh di internal partainya.

Informasi yang dihimpun NusaBali, Minggu (1/12), Gus Pada sebetulnya sudah lama merencanakan keluar dari Golkar, namun baru terungkap sekarang. "Gus Pada kecewa karena kondisi internal Partai Golkar yang terpecah saat ini. Merasa tidak nyaman lagi di Golkar, Gus Pada putuskan keluar,” ungkap sumber di lingkaran Golkar, Minggu kemarin.

Keluar dari Golkar, Gus Pada disebut-sebut akan direkrut partai lain. Ada beberapa versi yang berkembang terkait partai yang akan jadi pelabuhan Gus Pada. Ada yang menyebut mantan anggota Komisi III DPRD Bali ini akan direkrut PDIP. Sementara versi lain menyebutkan Gus Pada dilamar oleh Partai NasDem dan Partai Gerindra. "Untuk jelasnya, telepon saja langsung Gus Pada,” saran sumber tadi.

Benarkah? Saat ditemui NusaBali di rumahnya di Geriya Pada, Desa Mambal, Kecamatan Abiansemal, Minggu kemarin, Gus Pada membenarkan dirinya mundur dari Golkar. Menurut Gus Pada, surat pengunduran dirinya akan diserahkan ke DPD I Golkar Bali, Senin (2/12) ini. "Besok saja (hari ini) tunggu infonya. Sekarang saya ada kegiatan adat," jelas Gus Pada.

Gus Pada menyebutkan, dirinya selama ini belum bisa mewarnai Partai Golkar. Maka, Gus Pada tahu diri dan pilih minggir dari Golkar. "Saya menyadari selama ini saya belum maksimal untuk Partai Golkar. Terima kasih, karena Golkar telah memberikan penghargaan kepada saya dengan menjadi anggota legislatif dua kali perode," tandas Gus Pada, yang pada Pileg 2019 lalu gagal lolos buat ketiga kalinya ke kursi DPRD Bali dari Golkar Dapil Badung.

Gus Pada menampik pergi dari Golkar karena pelengseran Ketua DPD II Golkar Badung Wayan Muntra oleh Plt Ketua DPD I Golkar Bali Gede Sumarjaya Linggih, yang berbuntut perginya sejumlah kader Beringin dari Badung. "Saya pokoknya izin pamit. Besok saya sampaikan surat pengunduran diri ke partai," tegas Gus Pada, yang dikenal ungkap kasus Prona di Bali.

Lantas, ke partai mana akan berlabuh? "Besok saja saya sampaikan kepada media. Karena hari ini saya masih ada kegiatan adat. Nanti ada keputusan keluarga dan pendukung saya juga," elak politisi Golkar kelahiran 3 November 1973 ini.

Sementara itu, DPD I Golkar Bali tidak mau menanggapi mundurnya Gus Pada dari partainya. Sebab, hingga saat ini DPD I Golkar Bali belum menerima pengunduran diri Gus Pada.

Sekretaris DPD I Golkar Bali, Nyoman Sugawa Korry, mengatakan dalam hal ini partai sifatnya menunggu. "Kami tidak komentar karena sampai saat ini kami tidak menerima surat resmi dari yang bersangkutan (Gus Pada)," ujar Sugawa Korry saat ditemui NusaBali di sela-sela konsolidasi Partai Golkar di Hotel Ayodhya, ITDC Nusa Dua, Kecamatan Kuta Selatan, Badung, kemarin.

Ida Bagus Pada Kusuma sendiri merupakan putra dari tokoh Golkar mantan anggota DPRD Badung, Ida Bagus Gede Manuaba. Gus Pada termasuk kader lawas yang memulai karier di Golkar bawah. Dia memulai karier dengan menjadi Ketua Pengurus Desa (PD) Golkar Mambal tahun 1999. Selanjutnya, dia menjabat Wakil Ketua Pengurus Kecamatan (PK) Golkar Abiansemal.

Karier Gus Pada semakin mocer setelah dipercaya menjabat Ketua Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) Badung, lalu Ketua Ketua AMPG Bali di era pemimpinan Ketua DPD I Golkar Bali I Ketut Sudikerta. Saat ini, Gus Pada menjadi Wakil Ketua Bidang Pemuda DPD I Golkar Bali hasil Reshuffle (2019) di bawah kepemimpinan Gede Sumarjaya Linggih alias Demer. Selain itu dari jejak sejarah, keluarga Gus Pada di Geriya Pada Mambal adalah keluarga Golkar.

Gus Pada sempat protes atas perlakuan terhadap Wayan Gunawan, yang digulingkan dari jabatan Ketua Fraksi Golkar DPRD Bali, Januari 2019 lalu, dengan digantikan Made Dauh Wijana yang baru beberapa bulan sebelumnya duduk di Dewan. Alasannya, isu Musyawarah Daerah Luar Biasa (Musdalub) untuk mencari Ketua DPD I Golkar Bali definitif pengganti Ketut Sudikerta sebetulnya sudah reda, namun Wayan Gunawa malah dilengserkan. Setelah pelengseran Gunawan, ada ins-truksi pose bersama semua anggota Fraksi Golkar DPRD Bali agar seolah-olah mereka kelihatan kompak.

“Kita Fraksi Golkar DPRD Bali sudah berusaha menahan diri dan tidak lagi memasalahkan pergantian kursi ketua ini. Tapi, kok ada lagi muncul perlakuan terhadap Pak Gunawan yang nyeleneh. Saya sempat protes hal ini dalam acara rapat internal Fraksi Golkar DPRD Bali kemarin,” ujar Gus Pada, 16 Januari 2019 lalu.

Gus Pada menyebutkan, perlakuan nyeleneh itu menyangkut tindakan Ketua Fraksi Golkar DPRD Bali, Dauh Wijana, yang meminta seluruh anggota fraksi untuk berpose bersama di Ruangan Fraksi Golkar DPRD Bali, seusai sidang paripurna Dewan. Konon, pose bersama itu atas perintah Plt Ketua DPD I Golkar Bali, Gede Sumarjaya Linggih alias Demer. Pose bersama itu hanya untuk menunjukkan bahwa anggota Fraksi Golkar kompak.

“Kalau sudah diumumkan pergantian Ketua Fraksi Golkar di mana Pak Gunawan tak lagi menjabat, bagi saya itu sudah cukuplah. Jangan lagi pakai perintah pose bersama segala, kayak anak kecil. Ini justru ‘menganiaya’ Pak Gunawan lagi,” katanya. *nat

Komentar