nusabali

Produksi Arak Sering Gagal, Dipercaya Ada Gangguan Niskala

  • www.nusabali.com-produksi-arak-sering-gagal-dipercaya-ada-gangguan-niskala

Para pembuat arak sering gagal berproduksi. Terutama dalam proses merendam tuak selama tiga hari agar jadi arak berkualitas tinggi.

AMLAPURA, NusaBali

Kegagalan ini dipercaya akibat adanya gangguan niskala yakni makhluk halus. Saat proses merendam tuak itulah, sari-sari tuak disedot makhluk halus sehingga tuak tidak bisa lagi diproses jadi arak.

Perbekel Desa Tri Eka Buana, Kecamatan Sidemen, I Ketut Derka mengakui ada kepercayaan gangguan makhluk halus saat perajin membuat arak. Ketut Derka menuturkan, sekitar 20-25 tahun lalu, pembuat arak di Desa Tri Eka Buana sering mengalami kegagalan memproduksi arak. Termasuk dirinya sebagai pembuat arak sering gagal. Saat proses menyimpan tuak selama tiga hari, sering dapat gangguan makhluk halus di malam hari. Sari-sari tuak disedot, keesokan harinya tuak terasa hambar. “Saat saya masih anak-anak, kasus itu merupakan hal biasa. Saat ini kasus itu masih saja terjadi, tetapi jumlahnya mulai berkurang,” ungkapnya, Minggu (3/11).

Diduga ada iri hati kepada pembuat arak sehingga diganggu agar gagal dan tidak dapat hasi. Dikatakan, Desa Tri Eka  Buana dengan penduduk 2.900 jiwa, ada 470 unit usaha arak dengan mempekerjakan 900 orang. Jumlah tersebut masih lebih tinggi dibandingkan Desa Telaga Tawang, Kecamatan Sidemen sebanyak 200 unit usaha perajin arak dan Desa Talibeng, Kecamatan Sidemen sebanyak 88 unit usaha arak.

Salah seorang perajin arak, I Wayan Niria, di Banjar Telun Wayah Duuran mengakui sesekali diganggu makhluk halus saat memproduksi arak. “Masih ada gangguan secara gaib, tuak yang tersimpan di gentong saat diproses jadi tuak wayah (lebih keras), sari-sarinya disedot diduga pelakunya siluman. Sehingga tuak itu tidak bisa digunakan untuk bahan baku arak,” keluh Wayan Siria. Gangguan memproduksi arak tak hanya dari makhluk halus, saat ngirisin kelapa untuk menyadap tuak juga sering mengalami gangguan. Gangguannya, tuak diminum kera.

Usai tuaknya diminum, klukuh atau jerigen sebagai penyadap tuak malah ditendang hingga jatuh. Belum lagi tuak di pelepah kelapa diminum kelelawar dan tawon. “Warga sebagian besar sebagai perajin arak. Bisa saja ada pihak-pihak yang iri agar gagal memproduksi arak,” katanya. Diakui, hasil produksi arak bisa dinimati tiap empat hari sekali. Produksi 110 liter tuak mendapatkan 15 liter arak, dijual ke pengepul Rp 50.000 per liter atau total Rp 750.000. Perajin Arak Jro Mangku Dirka, 90, mengakui dulu lebih sering diganggu makhluk gaib, sehingga sering gagal memproduksi arak.  *K16

Komentar