nusabali

Angin Kencang Juga Rusak Rumah Milik 25 KK di Buahan-Kintamani

Pancasari-Candikuning Diterjang Angin Kencang

  • www.nusabali.com-angin-kencang-juga-rusak-rumah-milik-25-kk-di-buahan-kintamani

Bencana angin kencang terjang dua desa bertetangga wilayah kabupaten berbeda, yakni Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada (Buleleng) dan Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti (Tabanan), Sabtu (19/10) sore.

SINGARAJA, NusaBali

Puluhan bangunan dilaporkan rusak, selain juga mobil terimpa bangunan runtuh. Sementara, 25 KK di Desa Buahan, Kecamatan Kintamani, Bangli jadi korban angin kencang.

Di Desa Pancasari, tercatat sekitar 20 bangunan rumah dan green house lahan pertanian porak-poranda diterpa angin kencang, yang terjadi Sabtu sore hingga malam. Bangunan itu rata-rata mengalami kerusakan di bagian atap. Kerusakan terparah terjadi di Griya Taman Guna Anyar Sari Ashrama di Banjar Dinas Dasong, Desa Pancasari. Di Griya Taman Guna Anyar Sari Ashrama ini, sebuah bangunan saka enem (bertiang 6) bahkan ambruk menimpa dua sepeda motor hingga ringsek.

“Awalnya, atap garase yang diterbangkan angin. Kemudian, bangunan seka enem ambruk, lalu dapur bagian timur,” ungkap pemilik Griya Taman Guna Anyar Sari Ashrama,  Ida Pandita Mpu Nabe Dwija Witadharma Sanyasa, saat ditemui NusaBali di kediamannya, Minggu (20/10). Akibat bencana angin kencang yang menerjang Griya Taman Guna Anyar Sari Ashrama ini, Ida Pandita Empu menderita kerugian material sekitar Rp 160 juta.

Kerusakan akibat angin kencang juga banyak menimpa green house milik petani di Desa Pancasari. Kerusakan terparah terlihat di lahan green house milik keluarga I Gusti Ngurah Made Nuada. Bangunan green house ambruk semua hingga tanaman yang baru ditanam terancam gagal panen.

Kondisi serupa juga dialami Gede Dapid Mertada, 48, petani paprika di Banjar Dasong, Desa Pancasari. Atap green housenya yang berbahan plastik semua berlubang diterjang angin kencang. Tanaman paprika yang sudah berumur dua bulan pun terancam gagal panen. “Kalau begini ini, tidak bisa dilanjutkan lagi, karena tanaman sudah mulai layu. Padahal, tanaman sudah mulai berbuah,” keluh Kadek Tripena, istri Gede David Mertada, seraya mengaku alami kerugian material sekitar Rp 100 juta.

Dikonfirmasi terpisah, Perbekel Pancasari, Wayan Darsana, menjelaskan pihaknya masih mendata kerusakan akibat bencana angin kencang di desanya. Namun, dari pantauan sementara, kerusakan terparah terjadi di dua banjar dinas, yakni Banjar Dasong dan Banjar Peken.

“Saat ini masih didata oleh kelian banjar masing-masing. Sejauh ini kurang lebih ada 20 bangunan yang terdampak angin kencang. Besok (hari ini) ada direkap lagi sebelum dilaporkan ke Pemkab,” jelas Wayan Darsana.

Pada saat bersamaan, Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti yang berada di sebelah selatan Desa Pancasari juga diterjang angin kencang. Sejumlah green hous petani selada dan strawbery berterbangan. Bahkan, sebuah bale bengong kawasan wisata Puncak Indah juga roboh hingga menimpa dua mobil milik pengunjung.

Perbekel Candikuning, I Made Mudita, mengatakan petaka angin kencang menerjang sejak Sabtu sore hingga Minggu kemarin. Petaka ini menyebabkan green hous berbahan plastik untuk berbagai jenis tanaman pertanian berterbangan. Kondisi terparah terjadi di kaasan Banjar Kembang Merta, Desa Candikuning. "Yang di Banjar Kembang Merta, saya lihat plastiknya sudah diterbangkan angin. Belum lagi kejadian serupa di Banjar Bukit Catu,” ujar Made Mudita.

Menurut Mudita, sebuah bale bengong di kawasan wisata Puncak Indah juga roboh hingga menimpa dua mobil milik pengunjung yang sedang parkir. Beruntung, dua mobil tersebut tidak rusak parah. "Kemungkinan itu mobil pengunjung,” papar Mudita.

Camat Baturiti, I Wayan Adi Astrawan, menyatakan, selain di wilayah di Desa Candikuning, bencana angin kencang juga terjadi di Lapangan Umum Baturiti, Minggu siang pukul 13.00 Wita. "Akibat angin kencang di Lapangan Baturiti, sejumlah atap terpal dagangan dan rombong milik pedagang mengalami kerusakan," beber Adi Astrawan.

Sementara itu, 25 kepala keluarga (KK) di Desa Buahan, Kecamatan Kintamani, Bangli menjadi korban bencana angin kencang, yang terjadi sejak Sabtu sore hingga Minggu kemarin. Rumah-rumah mereka menderita kerusakan, sebagian besar hancur di bagian atap.

Menurut Perbekel Buahan, I Wayan Suardi, 25 unit rumah yang rusak itu tersebar di tiga banjar, yakni Banjar Binyan, Banjar Buahan, dan Banjar Waru. “Hingga saat ini, kami masih lakukan pendataan. Untuk sementara, terdata kerusakan rumah milik 25 KK, Ada pula palinggih di merajan (pura keluarga) yang roboh diterjang angin,” jelas Wayan Suardi saat dikonfirmasi NusaBali, Minggu kemarin.

Meski rumahnya mengalami kerusakan, kata Suardi, 25 KK tersebut tidak sampai mengungsi. Mereka tetap bertahan di rumah yang atapnya bolong-bolong. Dia memperkirakan tiap KK yang rumahnya rusak diterjang angin rata-rata mengalami kerugian material Rp 5 juta.

Dikonfirmasi terpisah, Kasi Kedarutan dan Logistik BPBD Bangli, Ketut Agus Sutapa, mengungkapkan angin kencang yang melanda kawasan pegunungan Kecamatan Kintamani ini merupakan angin peralihan musim. “Ini biasa disebut fenomena Badai Gusty (angin kencang sesaat),” ujar Agus Sutapa.

Sutapa menyebutkan, angin kencang kali ini menimbulkan kerusakan di sejumlah desa kawasan Kintamani. Bahkan, sejumlah bangunan suci di Pura Puseh Desa Adat Trunyan sampai terjungkal. Bangunan yang roboh di Pura Puseh Trunyan, antara lain, Bale Gong dan Bale Persantian. *k23,des,esa

loading...

Komentar