nusabali

September Buleleng Deflasi 0, 87 Persen

  • www.nusabali.com-september-buleleng-deflasi-0-87-persen

Harga bahan makanan yang bergejolak sejak bulan Ramadhan disusul berbagai hari raya, kini sudah berangsur stabil.

SINGARAJA, NusaBali

Perputaran ekonomi di Kabupaten Buleleng yang sempat menunjukkan angka inflasi cukup tinggi di bulan Juli dan Agustus mulai menurun. Bahkan di bulan September, Kabupaten Buleleng mengalami deflasi 0,87 persen. Hal tersebut disebut karena harga bahan makanan yang menjadi penyebab utama inflasi di bulan sebelumnya dan keperluan sekolah sudah berangsur turun dan stabil.

Kepala Bagian Ekonomi dan Pembangunan (Ekbang) Setda Buleleng, Desak Putu Rupadi ditemui di ruangannya, Senin (14/10/2019) kemarin, mengatakan deflasi yang terjadi di bulan September memang pengaruh terbesarnya dari sektor bahan makanan, baik dari bumbu dapur, sayuran, buah-buahan hingga daging.

“Yang paling berpengaruh adalah kelompok makanan termasuk bumbu dapur yang sempat harganya naik seperti cabai bawang merah, bawang putih, sayuran dan daging, sekarang sudah mulai turun dan stabil,” kata Rupadi. Meski demikian saat ini yang masih ada bahan makanan yang menunjukkan inflasi, yakni, dari ikan segar, yang diakibatkan karena cuaca yang mengakibatkan ketersediaannya tak stabil.

Dari capaian tersebut Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten Buleleng tak lantas berpuas diri. Mereka pun masih mempersiapkan dan menyusun strategi untuk menghadapi dua bulan terakhir di tahun ini. Bahkan satu bulan terakhir, yakni, Desember merupakan bulan yang juga riskan bagi perputaran ekonomi, karena adanya hari raya Natal dan Tahun Baru.

TPID juga mengaku segera akan melakukan rapat evaluasi untuk tetap mempertahankan perputaran ekonomi yang stabil. Menurut Desak Putu Rupadi dalam waktu dekat akan dilangsungkan operasi pasar yang sasarannya ke desa-desa. Hal itu disebutnya karena perekonomian di desa saat ini juga berperan dalam penentuan perputaran ekonomi di daerah. “Nanti operasi pasar tidak lagi di pasar-pasar besar, tetapi kami pindahkan lokasinya ke desa-desa, sebagai salah satu upaya bagaimana harga pasar stabil, ketersediaan juga terjaga. Saat ini juga petani kita sudah mulai panen jadi yang diupayakan harga tetap stabil, kalau turun terlalu keras juag kasian petaninya,” jelas dia.*k23

loading...

Komentar