nusabali

Nengah Sueca Dinobatkan Jadi Pemuda Pelopor Nasional

Berkat Suksesnya Kembangkan Objek Wisata Taman Edelweiss di Besakih

  • www.nusabali.com-nengah-sueca-dinobatkan-jadi-pemuda-pelopor-nasional

Pengelola Objek Wisata Taman Edelweiss di Banjar Temukus, Desa Besakih, Keca-matan Rendang, Karangasem, I Nengah Sueca, 28, dinobatkan sebagai ‘Pemuda Pelopor Bidang Sumber Daya Alam Lingkungan dan Pariwisata Tingkat Nasional 2019’.

AMLAPURA, NusaBali

Gelar tersebut diperoleh Nengah Sueca berkat keberhasilannya mengembangkan Objek Wisata Taman Edelweiss. Gelar sebagai ‘Pemuda Pelopor Bidang Sumber Daya Alam Lingkungan dan Pariwisata Tingkat Nasional 2019’ untuk Nengah Suweca tersebut dituangkan melalui Surat Keputusan Deputi Bidang Pengembangan Pemuda Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) Nomor 10.7.2 Tahun 2019 tertanggal 7 Oktober 2019. SK tersebut ditandatangani Deputi Bidang Pengembangan Pemuda Kemenpora, Dr HM Asrorun Ni'am Sholeh MA.

Nengah Sueca dinobatkan menjadi yang terbaik tingkat nasional untuk kategori ‘Pe-muda Pelopor Bidang Sumber Daya Alam Lingkungan dan Pariwisata’, setelah mengungguli dua pesaing terberatnya dari provinsi berbeda. Mereka masing-maisng Romi Adi (asal Jawa Tengah, yang harus puas berada di posisi kedua) dan Susilo Nugroho (asal Jogjakarta/posisi ketiga).

Nengah Suewca, pemuda asal Banjar Temukus, Desa Besakih, Kecamatan Rendang yang merupakan lulusan S2 Pascasarjana Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia Undiksha Singaraja tahun 2015, tampil ke lomba tingkat nasional bersama 4 wakil Bali lainnya di kategori berbeda. Namun, hanya Nengah Suweca yang terpilih menjadi ‘Pemuda Pelopor Tingkat Nasional 2019’.

Keempat wakil Bali lainnya itu, masing-masing Putu Sukadana, I Gede Febriana, Ni Luh Arik Astriyanti, dan I Wayan Rusdika. Putu Sukadana, asal Banjar Tyingan, Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Badung, berebut predikat ‘Pemuda Pelopor Bidang Pangan Tingkat Nasional 2019’. Sedangkan I Gede Febriana, asal Banjar Bukian, Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Badung, berebut predikat

‘Pemuda Pelopor Bidang Inovasi Teknologi Tingkat Nasional 2019’.

Kemudian, Ni Luh Arik Astriyanti, tokoh asal Banjar Lambing, Desa Sibang Kaja, Kecamatan Abiansemal, Badung, berebut predikat ‘Pemuda Pelopor Bidang Pendidikan Tingkat Nasional 2019’. Sebaliknya, I Wayan Rusdika, tokoh dari Banjar Tinggan, Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Badung berebut predikat ‘Pemuda Pelopor Bidang Agama, Sosial, Budaya Tingkat Nasional 2019’.

Meski sudah diumumkan sebagai ‘Pemuda Pelopor Bidang Sumber Daya Alam Lingkungan dan Pariwisata Tingkat Nasional 2019’, namun Nengah Sueca belum mendapat pemberitahuan lebih lanjut terkait kapan penghargaan akan diserahkan pemerintah pusat. “Bisa jadi penghargaan itu baru akan diserahkan saat Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2019 nanti," ungkap Nengah Sueca kepada NusaBali di Karangasem, Rabu (9/10).

Yang pasti, Nengah Sueca mengaku bersyukur dan terharu akhirnya dinobatkan sebagai ‘Pemuda Pelopor Bidang Sumber Daya Alam Lingkungan dan Pariwisata Tingkat Nasional 2019’. Menurut pemuda berusia 28 tahun kelahiran 2 Juli 1991 ini, gelar tersebut merupakan kebangga dan sekaligus tantangan untuk berbuat lebih baik ke depan.

“Mudah-mudahan, gelar yang saya raih ini bisa menular kepada pemuda lainnya di Karangasem, agar semuanya menjadi pemuda pelopor, pemuda yang tangguh hingga ke tingkat nasional,” tandas anak ke-6 dari 7 bersaudara pasangan I Nyoman Saba dan Ni Nyoman Saba ini.

Nengah Sueca sendiri berhak berlaga ke tingkat nasional, setelah sebelumnya meme-nangkan lomba ‘Pemuda Pelopor Bidang Sumber Daya Alam Lingkungan dan Pariwisata Tingkat Provinsi Bali 2019’. Diawali dengan diawali dari seleksi Tingkat Kabupaten Karangasem.

Sukses memenangkan seleksi Tingkat Kabupaten Karangasem, Nengah Sueca berhak mewakili daerahnya ke ajang ‘Lomba Pemuda Pelopor Bidang Sumber Daya Alam Lingkungan dan Pariwisata Tingkat Provinsi Bali 2019’. Ternyata, dia menjadi yang terbaik, sehingga berhak berlaga ke tingkat nasional.

Setelah Nengah Sueca resmi jadi wakil Bali, tim penilai dari pusat kemudian terjun melakukan visitasi ke Objek Wisata Taman Edelweiss pada 5 September 2019 lalu. Kala itu, tim visitasi dari pusat sudah cross check antara yang tertuang secara administrasi dengan kondisi riil di lapangan. Misalnya, keberadaan Objek Wisata Taman Edelweiss di Banjar Temukus yang dirintis sejak 15 Juni 2018.

Kepada NusaBali, Nengah Sueca memaparkan asal usul hingga mengembangkan Objek Wisata Taman Edelweiss seluas 32 are di kawasan perbukitan Banjar Temukus, Desa Besakih. Menurut Nengah Sueca, dirinya melakukan inovasi menaman Edelweiss untuk membangkitkan perekonomian Desa Besakih yang sempat terpuruk akibat bencana erupsi Gunung Agung, akhir tahun 2017.

Gara-gara Gunung Agung berstatus awas, banyak warga Banjar Temukus dan sekitarnya terpaksa harus mengungsi ke tempat aman. Masalahnya, Banjar Temukus berada di lereng Gunung Agung dalam jarak 4,5 kilometer dari puncak kawah, yang merupakan Kawasan Rawan Bencana (KRB) III, hingga setiap saat jadi sasaran hujan abu vulkanik. Nengah Sueca juga ikut mengungsi bersama keluarga dan warga Banjar Temukus lainnya.

Nah, sepulang dari mengungsi akibat erupsi Gunung Agung, Nengah Sueca coba membangun Objek Wisata Taman Edelweiss, memanfaatkan lahan seluas 32 are milik 7 keluarga di Banjar Temukus. “Ternyata, Objek Wisata Taman Edelweiss itu dapat apresiasi masyarakat luas. Setiap harinya, banyak pengunjung datang untuk berswafoto dengan latar belakang Edelweiss (Padang Kasna,” kenang Nengah Suewca yang kini menjadi Ketua Pengelola Wisata Tigarata milik Desa Adat Temukus, Desa Adat Tukad Belah, dan Desa Adat Tarib, Kecamatan Rendang.

Setelah dapat respons dari masyarakat, terutama saat hari libur, maka  Objek Wisata Taman Edelweiss yang semula hanya 32 are diperluas menjadi 2 hektare. Objek wisata ini didukung dengan areal parkir seluas 60 are. Selanjutnya, kata Nengah Sueca, Taman Edelweiss diperluas lagi atas kerjasama dengan pengelola Kawasan Hutan Jati Agung. Walhasil Taman Edelweiss yang semila hanya 32 are akan dikembangkan menjadi 32 hektare. *k16

loading...

Komentar