nusabali

Berselang Lima Hari, 2 Ekor Bangkai Penyu Terdampar di Jembrana

  • www.nusabali.com-berselang-lima-hari-2-ekor-bangkai-penyu-terdampar-di-jembrana

Hanya dalam waktu selang lima hari, 2 ekor bangkai penyu ditemukan terdampar di pantai wilayah Kabupaten Jembrana.

NEGARA, NusaBali

Pertama, seekor bangkai penyu yang terdampar di Pantai Perancak, Desa Perancak, Kecamatan Jembrana, Sabtu (21/9). Yang teranyar pada Rabu (25/9), kembali ditemukan bangkai seekor penyu yang terdampar di Pantai Delodberawah, Desa Delodberawah, Kecamatan Mendoyo.

Koordinator Kelompok Pelestari Penyu (KPP) Kurma Asih di Desa Perancak, Kecamatan Jembrana, I Wayan Anom Astika Jaya, mengatakan  seekor bangkai penyu yang ditemukan terdampar di Pantai Delodberawah, Rabu kemarin, merupakan jenis penyu lekang dengan ukuran kerapas sekitar 65 centimeter x 60 centimeter. Penyu lekang berjenis kelamin betina, itu ditemukan sudah dalam keadaan membusuk, dan sudah ditanam warga di sekitar lokasi penemuan.

Sementara untuk seekor bangkai penyu yang ditemukan di Pantai Perancak, Sabtu lalu, adalah jenis penyu sisik dengan ukuran kerapas sekitar 34 centimeter x 26 centimeter. Saat ditemukan, penyu sisik berjenis kelamin betina itu juga sudah dalam keadaan membusuk, sehingga tidak bisa dilihat apakah ada tanda-tanda luka yang menyebabkan kematian. “Entah apa penyebabnya. Yang pasti, peristiwa seperti ini sudah beberapa kali terjadi di Jembrana,” ujarnya, Rabu kemarin.

Namun dari pengalaman selama ini, kata Anom, beberapa bangkai penyu yang ditemukan sebelumnya, jarang ditemukan mengalami luka tanda-tanda diburu maupun dimangsa predator. Pihaknya hanya bisa mengimbau kepada masyarakat, agar mulai peduli terhadap lingkungan yang menjadi salah satu ancaman terhadap keberlangsungan hewan yang dilindungi tersebut. “Kalau sekarang kami berani menjamin, kalau nelayan-nelayan kita sudah tidak ada lagi yang memburu penyu. Bahkan kalau tidak sengaja menjaring penyu, nelayan biasa melapor ke kami agar penyu-nya diselamatkan. Justru pencemaran lingkungan yang mengkhawatirkan,” tutur Anom. *ode

loading...

Komentar