nusabali

Bali Itu Festival

  • www.nusabali.com-bali-itu-festival

"Aku tidak mengada-ada, inilah festival kesenian terhebat di dunia, rugi kalau kalian tidak datang. Orang-orang Bali unjuk seni di situ, gratis. Kalian tinggal datang, nonton, pulang, dan so pasti puas.”

Bali, sesungguhnya memang pulau festival. Sejak zaman dulu, ketika sebagian besar orang Bali hidup bertani, dan buta huruf, mereka sudah terlibat dalam ajang festival kesenian. Dalam brosur-brosur wisata, buku-buku antropologi, atau buku catatan perjalanan, odalan di pura dijelaskan sebagai festival. Ada ribuan pura di Bali, itu berarti ada ribuan festival digelar saban tahun.

Karena itu dari dulu hingga kini Bali selalu berlumur festival. Bedanya, dulu festival itu khusyuk, wujud spiritualisme, kini festival-festival nyaris selalu berarti hiburan. Dulu, petani-petani Bali berfestival untuk menunjukkan bakti kepada Hyang Widhi lewat persembahan dan pementasan seni, sekarang banyak yang menggelar untuk unjuk gigi, betapa ruang publik harus terus menerus dipasok dengan bermacam hiburan, agar rakyat terlena, lupa pada kesulitan hidup sehari-hari.

Tentu tidak hebat jika festival-festival itu cuma menyuguhkan hiburan. Maka festival harus membawa-bawa wacana kreativitas. Agar festival itu sah, ditunggu-tunggu, dihargai, dan merupakan refleksi dari gerakan intelektual, lomba kreativitas pun harus digelar. Festival-festival itu pun kemudian menjadi wahana untuk meningkatkan harkat hidup. Yang hebat dihargai, yang kalah dipacu, yang kurang mampu dibantu untuk menemukan kehebatannya. Dalam festival selalu dirancang masa depan. Kalaupun yang digelar idiom-idiom masa lalu, harus dicari-cari dan diupayakan, semua itu untuk hari nanti, buat perbaikan hidup anak-cucu, untuk mengubah nasib.

Banyak orang Bali yakin, perubahan nasib bisa dipetik dari penyelenggaraan festival. Mereka menyelenggarakan festival di pura, berdoa ketika odalan, adalah satu upaya mohon perbaikan nasib, selain mohon keselamatan. Karena orang Bali doyan berkesenian, mereka pun terus menerus berfestival. Kalau dicermati, orang Bali itu bekerja, bekerja, bekerja, dengan berfestival.

Komentar