nusabali

Perlu Lahan 400 Ha, Runway 3.750 Meter

Tim Teknis Kemenhub Cek Titik Koordinat Bandara Internasional di Kubutambahan

  • www.nusabali.com-perlu-lahan-400-ha-runway-3750-meter

Run way Bandara Internasional Bali Utara akan dibangun memanjang dari Banjar Pasek (Desa Kubutambahan) hingga Banjar Sanih (Desa Bukti)

SINGARAJA, NusaBali

Tim Teknis dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub) RI sudah terjun untuk mengecek titik koordinat lokasi Bandara Internasional Bali Utara di Desa Kubutambahan, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, Kamis (5/9) pagi. Dari pengecekan itu, kebutuhan lahan pembangunan bandara mencapai 400 hektare, sementara run way (landasan pacu) akan dibangun sepanjang 3.750 meter.

Tim Teknis dari Direktorat Perhubungan Udara, Kemenhub yang turun mengecek titik koordinat lokasi Bandara Internasional Balu Utara di Desa Kubutambahan, Kamis kemarin, berjumlah 6 orang. Rombongan Tim Teknis Kemenhub yang dikoordinasikan Febi Oki Wahyudi ini didampingi oleh Kepala Dinas (Kadis) Perhubungan Kabupaten Buleleng, Gede Gunawan AP.

Pantauan NusaBali, Tim Teknis Kemenhub mengecek titik koordinaat lokasi bandara dari tiga titik, dengan alat khusus. Titik pertama, berada di Banjar Sanih, Desa Bukti, Kecamatan Kubutambahan. Titik ini disebutkan sebagai titik ujung timur dari run way. Desa Bukti sendiri berada di sisi timur Desa Kubutambahan.

Kemudian, Tim Teknis Kemenhub bergerak sedikit ke arah barat, masih di wilayah Banjar Sanih, Desa Bukti guna mengecek titik koordinat panjang run way yang akan dikerjakan tahap pertama. Setelah memastikan titik koordinat tersebut, Tim Teknis Kemenhub kembali bergerak ke arah barat menuju Desa Kubutambahan, guna memastikan titik koodinant ujung barat run way.

Dalam pengecekan titik koordinat tersebut, Tim Teknis Kemehub juga membawa peta lokasi dan desain Bandara Internasional Bali Utara. Dari pengecekan titik koordinat tersebut, posisi run way memanjang sejauh 3.750 meter arah barat-timur. Ujung barat run way berada di Banjar Pasek, Desa Kubutambahan, sementara ujung timur di Banjar Sanih (Desa Bukti).

Nantinya, Terminal Bandara Internasional Bali Utara akan dibangun di sekitar Bukit Teletubies, Banjar Tukad Ampel, Desa Kubutambahan menghadap ke arah utara. Posisi terminal bandara nantinya akan berada di sebelah selatan run way.

Ketua Rombongan Tim Teknis Kemenhub, Febi Oki Wahyudi, mengatakan pengecekan titik koordinat Bandara Internasional Bali Utara di Kubutambahan ini dilakukan untuk memastikan situasi dan kodisi lapangan dengan hasil Feasibility Study (FS) yang masuk. “Kami hanya megecek saja, nanti akan ada evaluasi lebih lanjut. Kami meninjau untuk melakukan evaluasi terhadap kajian teknis,” jelas Febi Oki Wahyudi.

Menurut Febi Oki, Bandara Internasional Bali Utara membutuhkan lahan seluas 400 hektare, dengan run way sepanjang 3.750 meter. Dengan run way sepanjang itu, Bandara Internasional Bali Utara disiapkan untuk pesawat-pesawat berbadan besar jenis Boeing dan Airbus.

Run way bandara sepanjang 3.750 meter ini akan dibangun secara bertahap. Pada tahap awal, akan dibangun sepanjang 2.500 meter sampai 2.800 meter. Pembangunan tahap berikutnya tergantung dari perkembangan dan kebutuhan yang ada. “Kalau meningkat pertumbuhan penumpangnya, run way akan ditambah sesuai kebu-tuhan,” ujar Febi Oki.

Febi Oki menyebutkan, bila nanti hasil evaluasi dan kajian terkait kondisi lokasi bandara tidak ada masalah, maka izin penetapan lokasi (Penlok) Bandara Internasional Bali Utara segera akan diterbitkan. Sejauh ini, lokasi bandara di wailayah Desa Kubutambahan tidak ada persoalan berarti.

“Untuk sementara, tidak ada persoalan yang berarti. Nanti kan dilihat dari hasil evaluasi dan kajian lebih lanjut. Kalau tidak ada persoalan berarti, Penlok sudah bisa terbit. Ya, tidak begitu lama, secepatnya mungkin,” tandas Febi Oki.

Sementara itu, Kadis Perhubungan Buleleng Gede Gunawan AP mengakui kehadirannya dalam pengecekan titik koordinat bandara di Kubutambahan kemarin sifatnya hanya sebatas mendampingi Tim Teknis dari Kemenhub. Terkait dengan hasil, pihaknya menunggu keputusan lebih lanjut dari hasil evaluasi dan kajian Tim Teknis Kemenhub.

“Hasil dari evaluasi kajian akan dilaporkan ke Menteri Perhubungan. Kita hanya menunggu evaluasinya, apakah sesuai dengan kajian atau belum? Sejauh ini, dari tiga titik yang dievaluasi titik koordinatnya, tidak ada permasalahan berartii,” terang Gunawan.

Menurut Gunawan, luas lahan 400 hektare yang diperkirakan untuk kebutuhan pembangunan Bandara Internasional Bali Utara ini, sebagian besar adalah tanah milik Desa Adat Kubutambahan. Ada pula tanah milik perseorangan. “Berapa luas milik Desa Adat Kubutambahan dan milik perseorangan, kami belum tahu. Nanti akan ada pengukuran. Tentu nanti akan ada sosialisasi dulu ke masyarakat,” jelas Gunawan.

Sebelumnya, pihak konsorsium telah merampungkan Feasibilty Studi (FS) atau studi kelayakan atas lokasi bandara, termasuk akses dari Bali Selatan menuju Bali Utara. Konsorsium juga sudah terjun untuk cek lokasi bandara di Desa Kubutambahan, 27 Agustus 2019 lalu.

Konsorsium pembangunan Bandara Internasional Bali Utara itu terdiri dari PT PP (Persero) Tbk, PT Angkasa Pura I, dan Perusahaan Daerah (Perusda) Bali. Menurut Dirut PT PP (Persero) Tbk, Lukman Hidayat, pihaknya sengaja datang ke Buleleng untuk memastikan kondisi lapangan terkait rencana pembangungan bandara di Desa Kubutambahan. Pasalnya, pihak konsorsium sudah menuntaskan FS rencana pembangunan bandara tersebut.

“Kami ingin pastikan bahwa studi yang kami buat kondisinya sudah mendekati kondisi lapangan, sehingga tidak ada yang salah. Proses lainnya yang perlu diselesaikan sampai nanti kami ditetapkan sebagai pemrakarsa (pembangunan bandara), sedang jalan,” tegas Lukman saat itu.

Setelah melihat kondisi lapangan, kata Lukman, konsorsium akan melakukan kajian kembali bersama Kemenhub. Dengan begitu, nantinya proyek Bandara Internasional Bali Utara bisa dilaksanakan secara konkret. “Belum tentu pendapat saya benar, kan harus didengar juga pendapat yang lain, termasuk konsultan. Kami akan rumuskan yang terbaik bagi konsorsium,” jeas Lukman.

Disinggung mengenai skema pembangunan bandara, menurut Lukman, nantinya akan digunakan skema Kerjasama Pemerintah Badan Usaha (KPBU). Skema itu telah disetujui Kementerian Perhubungan. “Mekanismenya hanya satu, KPBU itu. Kami sudah duduk bersama Kemenhub dan semua sedang berjalan,” papar Lukman. *k19

loading...

Komentar